Berita

Cerita Warga di Karo Pilih Ngungsi gegara Takut Erupsi Susulan Gunung Sinabung

erupsi-gunung-sinabung-1788252362039_169
Foto : Michael Jackson - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Warga Karo Pilih Ngungsi Takut Erupsi Susulan
  2. Related Reading

Warga Karo Pilih Ngungsi Takut Erupsi Susulan

Beritanew.com – Cerita Warga di Karo Pilih meninggalkan rumah bukan selalu berawal dari surat perintah. Di Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sekelompok keluarga pada Rabu (2/9/2026) secara sukarela berpindah ke Desa Sukatepu. Pemicunya satu: kekhawatiran bahwa Gunung Sinabung akan kembali menyemburkan abu dan lahar. Imbauan resmi memang sudah beredar, tetapi bagi penghuni lereng gunung, rasa waspada itu tumbuh jauh lebih dulu daripada dokumen mana pun.

Di Balik Pintu yang Ditinggalkan

Roy Sembiring termasuk orang pertama yang menutup pintu rumahnya pagi itu. Ia membawa istri, kedua orang tua, dan dua anak menuju posko di Sukatepu. Isi tas mereka seadanya: pakaian ganti dan kebutuhan pokok semalam. Tidak ada waktu untuk memilih barang berharga atau mengemas lemari. Bagi masyarakat di kaki Sinabung, pola mengungsi dengan barang minimal sudah menjadi bagian dari ritme hidup yang dipaksakan oleh gunung.

“Kami diminta pemerintah untuk mengungsi, we mau karena takut juga erupsi susulan.”

Roy menegaskan bahwa keputusan itu bukan sekadar kepatuhan administratif. Faktor emosional—ketakutan akan letusan berikutnya—turut menentukan langkahnya. Ia tidak pergi sendirian; seluruh inti keluarga ikut berpindah dalam satu waktu.

Satu Dekade dalam Bayang-Bayang Letusan

Cerita Warga di Karo Pilih mengungsi bukan narasi baru. Roy masih mengingat dengan tajam momen Juni 2010, ketika Sinabung—yang telah tidur hampir empat abad sejak abad ke-17—kembali meletus. Sejak saat itu, ribuan keluarga di sekitar puncak hidup dalam siklus evakuasi dan kepulangan yang berulang tanpa kepastian.

“Kembali menetap itu ke Desa Kuta Tengah itu tahun 2020, sebelumnya pindah pengungsian sejak 2010.”

Sepuluh tahun berpindah-pindah meninggalkan bekas yang tidak mudah dihapus. Setiap kali kolom abu kembali terlihat di langit Karo, ingatan tentang malam di tenda, tangisan anak karena dingin, dan sawah yang tertimbun material vulkanik kembali menghantui. Langkah Roy pada September 2026 bukan reaksi impulsif; ia respons dari seseorang yang telah belajar bahwa gunung itu tidak pernah benar-benar diam.

Rasa yang Sama, Wajah yang Berbeda

Eva Br Sinulingga, warga lain di kawasan yang sama, menyampaikan alasan serupa. Baginya, ketakutan akan erupsi susulan menjadi pendorong utama untuk meninggalkan rumah meskipun aktivitas gunung belum mencapai tingkat ancaman langsung. Pola pikir ini mencerminkan trauma kolektif yang membentuk cara masyarakat Karo membaca setiap perubahan cuaca di sekitar puncak, setiap getaran kecil di tanah, setiap pergeseran warna asap dari kawah.

Sinabung dalam Konteks Geologi dan Ekonomi

Gunung Sinabung menjulang sekitar 2.460 meter di atas permukaan laut dan tercatat sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Setelah dormansi panjang yang diperkirakan berlangsung sejak abad ke-17, aktivitas erupsi kembali muncul secara signifikan pada Juni 2010 dan belum sepenuhnya berhenti sejak itu. Letusan berskala kecil hingga sedang terjadi secara periodik, kadang disertai aliran lahar yang mengalir ke lembah-lembah di sekitar kaki gunung, termasuk kawasan pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Karo.

Kabupaten Karo sendiri dikenal sebagai sentra hortikultura dan tembakau di dataran tinggi Sumatera Utara. Lahan subur di sekitar lereng Sinabung selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan utama ribuan keluarga. Ketika gunung aktif, hubungan antara produktivitas pertanian dan keselamatan warga menjadi tegang: tanah yang paling subur justru berada di zona paling berisiko tertimbun material vulkanik atau dilanda aliran lahar.

FAQ: Hal Praktis yang Perlu Diketahui

Apakah pengungsi wajib membawa dokumen tertentu?

Berdasarkan pengalaman warga Karo, membawa identitas diri (KTP, KK) dan dokumen medis sangat membantu saat registrasi di posko pengungsian. Namun dalam situasi mendesak, warga tetap diterima meskipun dokumen belum lengkap.

Ke mana warga di sekitar Sinabung biasanya diarahkan?

Posko pengungsian terdekat dari Desa Kuta Tengah berada di Desa Sukatepu, Kecamatan Simpang Empat. Pemerintah daerah menyiapkan tenda, makanan, dan layanan kesehatan dasar di lokasi tersebut selama status gunung masih aktif.

Berapa lama warga umumnya tinggal di pengungsian?

Durasi sangat bergantung pada status aktivitas gunung. Dalam siklus sebelumnya, Roy Sembiring dan keluarga tinggal di pengungsian selama hampir satu dekade (2010–2020) sebelum akhirnya kembali menetap di Desa Kuta Tengah. Pengungsian singkat untuk satu atau dua malam juga umum terjadi saat ada peningkatan aktivitas.

Apakah anak-anak tetap bersekolah selama mengungsi?

Di posko pengungsian, kegiatan belajar-mengajar biasanya dilanjutkan secara terbatas oleh guru atau relawan. Namun rutinitas sekolah formal sering terputus, terutama jika pengungsian berlangsung singkat dan lokasi berpindah.

Leave a Comment