Berita

Gunung Semeru Erupsi Lagi, Disertai Suara Dentuman

gunung-semeru-erupsi-dengan-tinggi-letusan-mencapai-1000-meter-di-atas-puncak-pada-senin-1492026-1789348225484_169
Foto : Susan Thomas - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Erupsi Semeru pada Malam Hari Disertai Dentuman
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Erupsi Semeru pada Malam Hari Disertai Dentuman

Beritanew.com – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Kamis malam, 17 September 2026. Aktivitas gunung api tertinggi di Pulau Jawa yang berada di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut itu turut disertai suara dentuman atau gemuruh yang terdengar dari sekitar kawasan.

Erupsi terjadi pada pukul 22.18 WIB. Kondisi visual letusan saat kejadian tidak dapat diamati, namun aktivitasnya tercatat oleh peralatan pemantauan seismik. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 25 milimeter dengan durasi erupsi selama 128 detik.

“Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.18 WIB. Visual letusan tidak teramati,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026).

Agastya menyampaikan bahwa letusan tersebut tidak hanya tercatat secara instrumental. Erupsi juga diiringi bunyi yang menyerupai dentuman dan gemuruh, sehingga warga di sekitar kawasan perlu tetap memperhatikan perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Semeru.

“Letusan Gunung Semeru itu disertai suara dentuman/gemuruh,” tuturnya.

Suara gemuruh yang menyertai aktivitas vulkanik itu juga dibenarkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho. Meski demikian, hingga informasi tersebut disampaikan, tidak ada dampak yang dilaporkan akibat suara dentuman itu.

“Alhamdulillah tidak ada dampak akibat suara gemuruh tersebut,” ujarnya.

Status Semeru Masih Level III Siaga

Gunung Semeru saat ini berstatus Level III atau Siaga. Status ini membuat masyarakat dan pihak yang beraktivitas di wilayah sekitar gunung perlu mematuhi batas aman yang telah ditetapkan. Pembatasan terutama berlaku di jalur-jalur sungai dan lembah yang berhulu di kawasan puncak karena dapat menjadi lintasan material vulkanik.

Warga diminta tidak melakukan kegiatan apa pun di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi. Kawasan tersebut merupakan salah satu area yang harus dihindari selama status Siaga masih berlaku.

“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” ujarnya.

Peringatan itu penting diperhatikan karena bahaya gunung api tidak terbatas pada area yang dekat dengan kawah. Material dari erupsi dapat bergerak mengikuti topografi, terutama melalui alur sungai. Kondisi ini membuat sempadan sungai menjadi area yang perlu dihindari, terutama ketika terdapat hujan yang berpotensi membawa material vulkanik menjadi aliran lahar.

Radius Kawah dan Jalur Sungai Perlu Dihindari

Selain larangan aktivitas di sektor tenggara, masyarakat juga dilarang memasuki area dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Zona tersebut memiliki risiko lontaran batu pijar yang dapat membahayakan orang di sekitarnya saat terjadi peningkatan aktivitas.

Besuk Kobokan menjadi salah satu jalur yang mendapat perhatian khusus, tetapi kewaspadaan juga perlu diterapkan di sejumlah aliran lain. Potensi awan panas, guguran lava, maupun lahar dapat muncul di sepanjang sungai dan lembah yang berhulu dari puncak Semeru.

“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ucap Isnugroho.

Awan panas merupakan campuran gas panas, abu, dan material vulkanik yang dapat bergerak menuruni lereng melalui lembah. Sementara itu, guguran lava dapat mengikuti arah kemiringan lereng, sedangkan lahar dapat terbentuk ketika material vulkanik di sungai terbawa aliran air. Karena itu, area sungai tidak boleh dianggap aman hanya karena letaknya berada di luar radius kawah.

Masyarakat di sekitar Semeru diharapkan tidak mendekati jalur aliran sungai yang telah disebutkan, tidak memasuki zona pembatasan, serta terus memperhatikan arahan petugas kebencanaan. Pada kondisi aktivitas gunung api, informasi resmi mengenai perubahan status, rekomendasi jarak aman, dan perkembangan cuaca menjadi hal yang penting untuk diperbarui secara berkala.

Erupsi pada malam hari juga mengingatkan bahwa pemantauan tidak selalu dapat mengandalkan pengamatan visual. Awan, kabut, dan gelapnya malam dapat menutupi puncak gunung, sehingga pencatatan seismograf dan informasi dari petugas pemantauan menjadi bagian penting dalam membaca aktivitas Semeru.

Hingga saat ini, tidak ada dampak yang disampaikan akibat dentuman yang menyertai erupsi tersebut. Namun, status Siaga tetap menuntut kehati-hatian seluruh pihak, terutama warga yang tinggal atau bekerja di sekitar kawasan rawan bencana dan pengguna jalur yang berdekatan dengan lembah serta sungai berhulu Gunung Semeru.

Frequently Asked Questions

What is Gunung Semeru Erupsi Lagi Disertai Suara?

Gunung Semeru Erupsi Lagi Disertai Suara is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Gunung Semeru Erupsi Lagi Disertai Suara matter?

Gunung Semeru Erupsi Lagi Disertai Suara matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment