FPG MPR RI Dorong Penguatan Pendidikan Pancasila-Karakter di Era Digital
Daftar Isi
Pendidikan Pancasila Dinilai Perlu Menjawab Tantangan Digital dan Perubahan Sosial
Beritanew.com – Penguatan pendidikan Pancasila kembali menjadi perhatian di tengah perubahan sosial yang cepat, perkembangan kecerdasan buatan, serta tuntutan dunia kerja yang terus bergeser. Nilai-nilai dasar negara dinilai tidak cukup disampaikan sebagai materi hafalan, melainkan perlu diwujudkan melalui perilaku, keteladanan, dan sistem pendidikan yang konsisten.
Isu tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik FPG MPR RI bertema Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Hotel Santika Premiere, Kota Tangerang Selatan, Banten. Sekretaris FPG MPR RI Ferdiansyah menekankan perlunya meninjau kembali cara membumikan Pancasila di kehidupan masyarakat.
Keteladanan Dinilai Menjadi Kunci
Ferdiansyah melihat tantangan Pancasila saat ini telah bergeser. Persoalannya tidak hanya terletak pada pemahaman konsep lima sila, tetapi juga pada keselarasan antara cara berpikir, tindakan sehari-hari, dan keberanian membangun aturan yang menegakkan nilai tersebut.
Ia menyoroti masih lebarnya jarak antara pembelajaran Pancasila dengan realitas yang terjadi di lingkungan sosial maupun keluarga. Fenomena persoalan domestik, termasuk tingginya angka perceraian di kalangan pendidik, disebut dapat menjadi refleksi bahwa nilai dari sila pertama sampai sila kelima belum sepenuhnya menyatu dalam praktik keseharian.
“Bagaimana mungkin seorang pendidik mampu menanamkan nilai persatuan dan soliditas kepada anak didiknya jika di kehidupan pribadinya sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai kedamaian dan musyawarah? Pancasila tidak bisa hanya berhenti di ruang kelas, ia harus hadir dalam bentuk keteladanan nyata,” tegas Ferdiansyah, Jumat (18/9/2026).
Dalam pandangannya, pendidikan karakter akan lebih mudah diterima ketika peserta didik melihat contoh nyata dari guru, keluarga, pemimpin, dan lingkungan sekitar. Materi pembelajaran dapat memberi pemahaman, tetapi pengalaman sehari-hari menentukan apakah nilai itu benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan.
Ferdiansyah juga mengangkat gagasan tentang perlunya aturan yang lebih tegas untuk membentuk kebiasaan kolektif. Ia menilai sebagian masyarakat masih memerlukan dorongan sistem sebelum kepatuhan terhadap nilai bersama berkembang menjadi kesadaran dari dalam diri.
“Apakah kita perlu membuat standardisasi tindakan per sila yang lebih terukur? Kita harus berani mengevaluasi,” ujar Ferdiansyah.
“Begitu pula pada dunia kerja, ketidakdisiplinan dan kemalasan adalah pelanggaran terhadap etos Pancasila yang harus memiliki konsekuensi atau sanksi yang jelas,” sambungnya.
Pancasila sebagai Kerangka Pendidikan Nasional
Guru Besar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Nadiroh, menegaskan bahwa Pancasila perlu tetap ditempatkan sebagai fondasi utama dalam sistem pendidikan nasional. Ia memandang Pancasila seharusnya menjadi payung bagi beragam bidang ilmu, bukan ditempatkan di pinggir kurikulum.
“Pancasila bukanlah sekadar dokumen konstitusional yang dihafalkan, melainkan harus benar-benar ‘berbunyi’ dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menyangkut ideologi negara, sehingga keberadaannya wajib dipertahankan dan diperkuat dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi,” tegas Prof Nadiroh.
Penekanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Pancasila tidak hanya berkaitan dengan satu mata pelajaran. Nilai kemanusiaan, keadilan, gotong royong, musyawarah, dan tanggung jawab dapat menjadi pertimbangan etis di berbagai ruang pendidikan, termasuk saat siswa dan mahasiswa menghadapi persoalan sosial yang kompleks.
Menjaga Kemanusiaan di Tengah AI
Cendekiawan dan pemikir kebangsaan Yudi Latif mengingatkan bahwa pendidikan nasional perlu menata kembali dasar filosofis maupun penerapannya agar mampu merespons disrupsi AI dan otomatisasi. Perubahan teknologi, dalam pandangannya, menuntut pendidikan untuk tidak semata-mata mengejar keterampilan teknis.
Yudi mengutip pernyataan taipan teknologi Elon Musk di media The Economist yang memperkirakan sebagian besar pekerjaan manusia dapat digantikan robot humanoid dalam rentang lima hingga 10 tahun mendatang. Kondisi tersebut membuat kemampuan yang bersifat manusiawi semakin penting untuk dipelihara.
“Lalu, apa yang tersisa bagi manusia? Yang tersisa adalah pengalaman kemanusiaan, relasi sosial, serta makna dan tujuan hidup (the meaning and purpose of life),” tegas Yudi.
“Hal-hal tersebut tidak bisa digantikan oleh AI,” sambungnya.
Di tengah otomatisasi, pendidikan karakter memiliki peran untuk membantu generasi muda memahami bahwa teknologi adalah alat, sedangkan keputusan moral tetap membutuhkan empati, pertimbangan sosial, dan tanggung jawab. Pancasila dapat menjadi rujukan nilai ketika kemajuan digital memunculkan pilihan-pilihan baru dalam kehidupan publik.
Ekosistem Kampus dan Penguatan Soft Skill
Dekan FISIP Universitas Syekh Yusuf Tangerang Muhammad Ibrahim Rantau menilai pendidikan karakter di perguruan tinggi menghadapi persoalan struktural. Pragmatisme dalam pendidikan, komersialisasi, serta terbatasnya ruang bagi riset kebangsaan disebut menjadi tantangan yang perlu dihadapi.
“Tantangan Pancasila hari ini jelas berbeda dengan masa Revolusi Kemerdekaan maupun Orde Baru. Saat ini, isu intoleransi dan moderasi beragama sebagian besar sudah diampu oleh pendidikan agama,” ujar Ibrahim.
“Tantangan nyata Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi justru terletak pada ketimpangan ekosistem dan orientasi pendidikan itu sendiri,” sambungnya.
Budayawan Dr Ngatawi Al-Zastrow atau Gus Zastro turut mengaitkan pendidikan Pancasila dengan pergeseran kebutuhan dunia kerja. Ia mengutip riset McKinsey Global Institute yang memperkirakan 52% jenis pekerjaan yang ada saat ini akan hilang pada 2030. Namun, perubahan itu juga membuat kemampuan emosional dan sosial seperti empati, kepemimpinan, serta integritas semakin bernilai.
“Mau perubahan teknologi seperti apa pun, soft skill seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran adalah kebajikan karakter (virtue) yang bersumber dari Pancasila. Tugas kita sekarang adalah mengaktualisasikan dan merekonstruksi Pancasila agar dapat menopang soft skill tersebut,” kata Gus Zastro.
Diskusi ini memperlihatkan bahwa penguatan Pancasila tidak berhenti pada pengulangan simbol atau slogan. Tantangan utamanya adalah menghadirkan nilai tersebut dalam cara sekolah mengajar, kampus membangun ekosistem, tempat kerja menegakkan disiplin, dan masyarakat membentuk relasi yang lebih adil serta beradab.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is FPG MPR RI Dorong Penguatan Pendidikan?
FPG MPR RI Dorong Penguatan Pendidikan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does FPG MPR RI Dorong Penguatan Pendidikan matter?
FPG MPR RI Dorong Penguatan Pendidikan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.