Topics Covered: Jumlah Mahasiswa Indonesia di Australia Naik ke 25 Ribu
Topics Covered menjadi topik utama dalam diskusi tentang pertumbuhan pendidikan internasional di Indonesia. Kota-kota seperti Melbourne, Sydney, dan Brisbane terus menjadi destinasi utama bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menuntut ilmu. Gita Kamath, perwakilan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, menegaskan bahwa Australia tetap diminati karena kualitas pendidikan global dan lingkungan akademik yang kompetitif. Ia menambahkan bahwa sembilan universitas Australia terpilih masuk dalam daftar 100 institusi terbaik dunia, mencerminkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap sistem pendidikan di sana.
Penurunan Jumlah Mahasiswa di Australia Tahun Ini
“Program pendidikan di Australia dirancang untuk mendukung pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia di masa depan,” ujar Gita dalam wawancara di acara TNE CONNECT, Jakarta, Senin (25/5/2026). Selain itu, ia menekankan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki akses ke berbagai lokasi studi, termasuk kota kecil seperti Cairns yang menawarkan pengalaman belajar yang unik.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia meningkat secara signifikan. Pada tahun lalu saja, terdapat lebih dari 25 ribu pelajar Indonesia yang terdaftar di negara tersebut. Angka ini menunjukkan tren positif yang berkelanjutan, terutama di bidang teknologi, bisnis, dan ilmu pengetahuan. Di samping itu, jumlah alumni Australia yang tinggal di Indonesia juga melampaui 200 ribu orang, membentuk jaringan profesional yang kuat.
Kemitraan Pendidikan Indonesia-Australia
Kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Australia dinilai sangat penting untuk memperkuat hubungan bilateral. Pada Jumat (6/2/2026), Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, pihak berwenang menekankan pentingnya memastikan mahasiswa Indonesia yang studi di Australia tetap fokus pada kepentingan negara, termasuk upaya mengembangkan kembali kemampuan mereka setelah kembali ke tanah air.
Meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia di Australia juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendorong ekspor sumber daya manusia. Program beasiswa dan kerja sama akademik antar institusi kedua negara menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ini. Gita Kamath menjelaskan bahwa sistem pendidikan Australia berfokus pada pengembangan keterampilan praktis, sehingga relevan untuk kebutuhan pasar Indonesia yang dinamis.
Dalam konteks perekonomian, pendidikan di Australia dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk kemajuan bangsa. Selain itu, angka ekspor Pupuk Indonesia ke Australia yang meningkat juga mencerminkan kemitraan bilateral yang berkembang. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Australia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan sektor pertanian dan pangan.
Topics Covered juga menyoroti perubahan dalam struktur ekspor Indonesia. Pada Maret 2026, ekspor Papua dominan terdiri dari kayu dan produk olahannya, meskipun nilai total menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Australia menjadi salah satu pasar utama untuk produk-produk nonmigas ini, menunjukkan kebutuhan global terhadap sumber daya alam Indonesia.