Meeting Results: Peneliti UNY Diduga Palsukan Riset di Forum Internasional, Buka Suara
Meeting Results – Dugaan pemalsuan riset oleh oknum peneliti Indonesia menggegerkan media sosial setelah terungkap dalam sebuah konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark. Dua nama peneliti dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rifaldy Putra dan Prihartini, jadi sorotan karena diduga menyajikan data riset yang tidak benar. Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof. Nur Hidayanto, segera memberikan pernyataan mengenai isu ini, menegaskan bahwa kampus sedang menyelidiki lebih lanjut.
Identitas Peneliti yang Disebutkan
Nur Hidayanto menjelaskan bahwa dua peneliti tersebut memang terdaftar dalam database alumni UNY. Rifaldy Putra, lulusan program Matematika tahun 2014, dan Prihartini, alumni program yang sama pada 2015, tidak memiliki status sebagai dosen atau peneliti aktif di kampus. “Kami sudah memverifikasi identitas mereka, dan keduanya tidak terdaftar sebagai kependidikan di UNY,” tegas Nur Hidayanto. Ia juga menyoroti kesalahan dalam menyebutkan jurusan Rifaldy, yang dianggap tidak sesuai dengan data yang tersedia.
“Mohon maaf atas kegaduhan di media sosial yang membawa nama UNY. Kami menyatakan bahwa terjadi miskomunikasi di beberapa pihak, serta data yang disebarkan tanpa konfirmasi lebih dulu,” kata Prihartini saat dihubungi via WhatsApp.
Nur Hidayanto mengungkapkan bahwa meskipun telah berkomunikasi dengan Prihartini, pihaknya tetap meragukan kebenaran identitasnya. “Nomor telepon Rifaldy sudah dialihkan, sementara Prihartini menanggapi dengan cepat, tapi kami perlu memastikan apakah orang yang dihubungi benar-benar terkait dengan riset yang disebutkan di forum internasional tersebut,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa UNY sedang mengumpulkan bukti untuk memastikan kejadian ini tidak menimbulkan reputasi buruk.
Langkah Penyelidikan dan Reaksi Pihak Lain
Pemeriksaan terhadap dua peneliti ini dilakukan oleh tim penyidik Polda Metro Jaya pada 10 Februari 2026. Dalam penyelidikan, pengacara Roy Suryo dan Refly Harun menyebutkan bahwa ada tiga saksi fakta dan tujuh ahli yang diharapkan hadir. Presiden ketujuh, Jokowi, juga ikut memberikan tanggapan terhadap kritik yang muncul dari tim hukum tersebut. Aliansi relawan Joko Widodo, Pemuda Patriot Nusantara, melaporkan Roy Suryo atas dugaan penyimpangan dalam proses ini.
Sejauh ini, UNY masih fokus pada penyelidikan internal sebelum menyetujui pernyataan resmi. Nur Hidayanto menekankan bahwa kejadian ini tidak menunjukkan kegagalan seluruh institusi, tetapi adalah peristiwa yang perlu diwaspadai. “Kami menghargai keberatan dari pihak luar, namun akan memberikan klarifikasi sesuai fakta yang ada,” imbuhnya. Ia juga meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi tanpa informasi yang lengkap.
Di sisi lain, Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Ari Kuncoro, mengungkapkan bahwa jabatannya akan berakhir pada 4 Desember 2024, dan pihaknya akan terus memantau kejadian serupa di kampus lain. Sementara Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNS) memastikan bahwa proses belajar mengajar tetap berjalan normal meskipun terjadi kegaduhan pasca-pencopotan gelar guru besar.
Untuk meningkatkan kredibilitas, UNY berencana mengundang ahli dari luar kampus untuk mengevaluasi proses pengajuan riset. “Kami ingin memastikan semua data yang disampaikan ke forum internasional memenuhi standar akademik yang ketat,” kata Nur Hidayanto. Dalam rangka menghindari kesan permainan data, pihaknya juga akan memperkuat pengawasan terhadap mahasiswa yang mengikuti program penelitian.