Uncategorized

New Policy: Kemenperin Percepat Hilirisasi Minyak Atsiri Nasional Melalui Pengembangan PFF di Bali

New Policy: Kemenperin Percepat Hilirisasi Minyak Atsiri di Bali

New Policy menjadi fokus utama Kementerian Perindustrian dalam mendorong transformasi sektor minyak atsiri nasional. Dengan mengembangkan Flavor and Fragrance Center (PFF) di Bali, pemerintah berupaya memperkuat hilirisasi bahan baku alami menjadi produk bernilai tinggi, seperti parfum, kosmetik, dan produk rumah tangga. Proyek ini tidak hanya menawarkan peluang ekonomi bagi pengrajin lokal, tetapi juga mempercepat keterlibatan industri dalam pasar global yang semakin menginginkan produk ramah lingkungan.

Kekayaan Biodiversitas sebagai Fondasi Industri

Kemenperin memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai fondasi untuk meningkatkan kualitas produk minyak atsiri. Pulau Bali, dengan sumber daya alam yang berlimpah, menjadi lokasi strategis untuk mewujudkan New Policy ini. Proses hilirisasi tidak hanya terfokus pada pengolahan bahan baku, tetapi juga mencakup pengembangan teknologi dan standarisasi kualitas produk. Hal ini diharapkan mendorong ekspor yang lebih kuat dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan mentah.

Kolaborasi untuk Penguatan Kompetensi

New Policy juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas. Sebagai contoh, PFF di Bali bekerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana menyelenggarakan pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi sabun, yang diikuti oleh 22 peserta. Program ini merupakan bagian dari upaya membangun kompetensi lokal, termasuk pengembangan sertifikasi untuk peracikan parfum, sabun, dan lilin aromaterapi.

Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, “Keberhasilan New Policy bergantung pada penguatan ekosistem industri yang kompetitif. Dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, kita bisa membangun industri berbasis minyak atsiri yang berkelanjutan dan mampu bersaing di tingkat internasional.”

Perluasan Keterlibatan Global dan Lokal

PFF di Bali juga dirancang untuk memperluas kerja sama dengan pelaku usaha lokal dan internasional. Dalam New Policy, program pelatihan tidak hanya menargetkan pekerja migran Indonesia, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat dan pengusaha kecil. Misalnya, pada 29 Mei 2026, PFF akan menyelenggarakan pelatihan peracikan parfum yang diharapkan menumbuhkan minat masyarakat Bali pada inovasi produk lokal. Sementara itu, program untuk pembuatan sabun dan lilin aromaterapi rencananya diadakan pada 29 Juni 2026.

Dalam konteks New Policy, PFF menjadi platform yang mendorong ekspansi industri ke sektor spa dan wellness. Pelatihan produksi dupa aromaterapi yang dijadwalkan pada 7 Agustus 2026 menunjukkan komitmen untuk memperkaya variasi produk dan meningkatkan nilai tambah. Proyek ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Pengembangan Infrastruktur dan Dukungan Pembiayaan

New Policy tidak hanya fokus pada pelatihan, tetapi juga menyertakan investasi dalam infrastruktur. Pabrik CCO Banyuasin, dengan nilai investasi Rp500 miliar, menjadi salah satu proyek yang mendukung hilirisasi minyak atsiri nasional. Pembangunan pabrik ini diharapkan selesai akhir 2025, menjadikannya pusat produksi bioavtur yang akan memperkuat sektor perkebunan. Dengan keberhasilan proyek ini, sektor IKFT (Industri Kreatif dan Fesyen) diperkirakan akan berkontribusi sebesar 21,9 persen terhadap PDB Nasional.

Target Peningkatan Kualitas dan Daya Saing

New Policy menargetkan peningkatan kualitas produk minyak atsiri nasional seiring dengan peningkatan teknologi hilirisasi. Kementerian Perindustrian berharap, melalui PFF di Bali, industri lokal bisa menghasilkan produk dengan standar internasional. Selain itu, proyek ini juga bertujuan mengurangi defisit neraca perdagangan di sektor kecantikan dan kesehatan, yang kini banyak diisi produk impor.

Implementasi New Policy diharapkan menjadi contoh sukses dalam transformasi ekonomi berbasis alam. Dengan mengintegrasikan pelatihan, inovasi, dan kolaborasi, Kemenperin memastikan industri minyak atsiri Nasional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia. Keberhasilan ini akan memperkuat posisi negara dalam industri flavor dan fragrance global.

Leave a Comment