Special Plan: ITB Prihatin Alumni Magisternya Diduga Manipulasi Riset di Forum Internasional
Special Plan menjadi sorotan publik setelah dua alumni Program Magister Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) disebut melakukan manipulasi data dalam riset yang dipresentasikan di sebuah forum internasional. Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan ini, yang disebut sebagai bagian dari upaya untuk menjaga integritas akademik kampus. Prihantini dan Rifaldy Putra, lulusan magister ITB tahun 2022, diduga mengubah hasil penelitian mereka dalam konferensi di Kopenhagen, Denmark, 17–21 Mei 2026.
Dugaan Manipulasi Riset di Kopenhagen
Kasus ini memicu reaksi luas setelah bukti pemalsuan riset terungkap melalui media sosial. Materi yang dipresentasikan oleh Prihantini dan Rifaldy Putra di forum internasional tersebut disebut tidak sesuai dengan fakta, meski tidak langsung terkait tesis Prihantini. Aep Patah menyatakan ITB sangat menghawatirkan dampak negatif dari tindakan ini terhadap reputasi akademik. “Special Plan ini juga mengingatkan kita untuk lebih ketat dalam mengawasi proses riset,” kata Aep, Kamis (28/5/2026).
Sebelumnya, Prihantini dan Rifaldy Putra yang berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) telah mengajukan disertasi di bawah bimbingan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Wakil Rektor UNY, Nur Hidayanto, menjelaskan bahwa keputusan penangguhan gelar doktor atas Bahlil berdasarkan kesepakatan bersama Rektor, Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), dan Dewan Guru Besar (DGB). “Special Plan juga menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola akademik di institusi pendidikan tinggi,” ujarnya.
Langkah Tegas ITB untuk Memperbaiki Integritas Akademik
ITB berkomitmen untuk menjaga kualitas riset melalui sistem evaluasi yang lebih ketat. Aep Patah menegaskan bahwa jika bukti pemalsuan riset terbukti, kampus akan menegakkan hukuman sesuai aturan yang berlaku. “Special Plan ini juga melibatkan pengawasan keterlibatan dosen pembimbing dan mahasiswa dalam setiap tahap penelitian,” tambah Aep. Kampus mengungkapkan bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan mahasiswa tetapi juga mengancam kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi.
Di sisi lain, peneliti lain dari ITB juga turut mengecam kejadian ini. “Special Plan tidak hanya tentang menyelidiki kasus ini, tapi juga memastikan tidak ada lagi manipulasi yang terjadi di masa depan,” kata salah satu dosen FMIPA. Tindakan korektif yang diambil ITB mencakup audit riset, pelatihan etika akademik untuk mahasiswa, dan penegakan sanksi terhadap pihak yang terlibat.
Dalam upaya mencegah penipuan riset, ITB juga menyoroti peran akademik dalam memastikan kejelasan data. “Special Plan ini adalah bagian dari rencana jangka panjang untuk menjadikan ITB sebagai pusat riset yang dapat dipercaya,” jelas Aep. Kampus berharap langkah-langkah ini akan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hasil penelitian mereka.
Sementara itu, kasus ini memicu diskusi di lingkungan akademik nasional. Banyak pihak menilai bahwa Special Plan harus diterapkan secara konsisten untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. “Kasus ini menjadi pembelajaran bahwa kejujuran dalam riset adalah fondasi utama,” kata seorang rekan dosen dari universitas lain. ITB terus mengejar penegakan hukum terhadap pelaku dan menambahkan langkah-langkah pengawasan lebih lanjut.
Di luar kasus riset, ITB juga menjadi sorotan karena insiden hilangnya kontak mahasiswa Arief Wibisono saat mendaki Gunung Puntang. Tim SAR gabungan masih berusaha mencari korban. Selain itu, muncul pertanyaan tentang penyebab mobil listrik mati mendadak di rel kereta, yang dijelaskan oleh pakar otomotif ITB. Meski berbeda topik, kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa ITB terus berupaya menjaga kualitas akademik dan keselamatan mahasiswa.