Uncategorized

Meeting Results: Ekonom Soroti Tantangan Ekonomi RI di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tekanan Sektor Riil

Ekonom Soroti Tantangan Ekonomi RI di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tekanan Sektor Riil

Meeting Results – Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar 70 poin, mencapai Rp17.870 per dolar. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama karena pengaruhnya terhadap sektor riil. Dalam wawancara dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Ichsanuddin Noorsy mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dari krisis moneter 1998, meski masih menghadapi beberapa tantangan.

Analisis Ekonom Noorsy

Noorsy menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah saat ini lebih bersifat musiman, berbeda dengan kondisi ekonomi pada 1998 yang melibatkan krisis kepercayaan publik, ekonomi, dan politik secara bersamaan. “Indonesia sudah berada di ambang transisi dari fase kuning ke merah,” ujarnya, menambahkan bahwa prediksi pelemahan rupiah hingga ambang Rp17.500-18.000 per dolar telah ia sampaikan sejak 2024.

“Indonesia sudah dalam posisi transisi dari lampu kuning ke lampu merah. Ini sebenarnya sudah saya prediksi sejak 2024, bahwa nilai tukar rupiah akan sampai pada ambang batas psikologis Rp17.500-18.000,”

Sejak Januari, cadangan devisa Indonesia terus menurun selama empat bulan berturut-turut. Selain itu, Bank Indonesia melakukan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 untuk mengatasi tekanan nilai tukar rupiah.

Imbas pada Sektor Riil

Pelemahan rupiah mulai memengaruhi sektor riil, khususnya dengan meningkatnya biaya impor bahan baku, energi, dan bahan pangan. Hal ini berpotensi mengurangi daya beli masyarakat serta menyulitkan usaha kecil dan menengah (UMKM). Data PMI Indonesia menunjukkan penurunan signifikan dari 50,1 ke 49,1 pada pertengahan Mei 2026, menandakan perlambatan dalam aktivitas produksi.

“Artinya, roda mesin produksi kita perlahan-lahan berhenti,”

Lebih lanjut, Noorsy menyoroti rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM yang mencapai 4,61 persen, lebih tinggi dari NPL sektor korporasi sebesar 1,6 persen. “Makanya saya bilang, dibandingkan fiskal dan moneter, sektor riil yang terpukul,” ujarnya.

Strategi Penguatan Ekonomi

Noorsy menawarkan lima pendekatan strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pertama, pembangunan berbasis sumber daya dengan fokus pada sektor-sektor yang menyangkut kebutuhan pokok masyarakat. Kedua, reindustrialisasi untuk meningkatkan produktivitas nasional. “Kita harus melakukan reindustrialisasi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” katanya.

Ketiga, penguatan kelembagaan UMKM. Keempat, pemisahan struktur pasar antara sektor komersial dan layanan publik. Kelima, perbaikan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan. “Tata kelolanya jangan bocor-bocor. Pemerintahan harus dikelola dengan jujur dan bebas dari korupsi,” ujarnya.

Ketahanan Ekonomi Nasional

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak seberat krisis 1998. Struktur ekonomi yang lebih kuat serta ketahanan sektor perbankan membuat dampaknya lebih terkendali. Menurut dia, rupiah yang terpuruk pada masa itu memicu inflasi tinggi dan krisis bank.

Menteri Keuangan Purbaya mengimbau investor agar tidak cemas terhadap penurunan nilai tukar rupiah dan koreksi IHSG. “Dasar-dasar ekonomi RI tetap kuat,” ujarnya, menekankan bahwa pergerakan mata uang tidak lagi sekadar isu fundamental.

Leave a Comment