Special Plan: Peternak Blitar Raya Desak Perlindungan Pemerintah
Kondisi Pasar yang Memicu Protes Peternak
Special Plan menjadi isu utama yang dibawa peternak Blitar Raya saat menggelar aksi unjuk kekuatan di Blitar, Jawa Timur, pada Senin (1/6/2026). Mereka mengkritik kenaikan harga pakan ternak dan penurunan tajam harga telur yang menyebabkan kerugian besar. Aksi ini melibatkan ribuan peternak yang tergabung dalam organisasi lokal, termasuk dari Kediri, Tulungagung, dan Malang. Mereka menuntut kebijakan pemerintah untuk melindungi sektor pertanian, terutama peternak kecil yang terancam gulung tikar akibat fluktuasi harga.
Koordinator aksi, Suyanto, mengatakan bahwa harga telur di kandang saat ini hanya Rp21.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang mencapai Rp23.000 per kilogram. “Kondisi ini sudah berlangsung tiga bulan, menyebabkan kehilangan pendapatan sebesar Rp2 miliar per bulan,” terangnya. Selain itu, kenaikan harga pakan ternak juga memperparah krisis, karena biaya produksi meningkat hingga Rp400.000 per karung. Peternak menginginkan kebijakan khusus dalam rangka Special Plan untuk menstabilkan pasar.
Kenaikan Biaya Pakan dan Jagung
Harga jagung, bahan baku utama pakan ternak, melambung tinggi hingga Rp6.400 hingga Rp6.500 per kilogram, melebihi Harga Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.500 per kilogram. Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya produksi, karena pakan ternak memakan 60-70% dari total pengeluaran peternak. “Tanpa penyesuaian harga pakan, peternak kecil tak mungkin bertahan,” tegas Suyanto. Ia menambahkan bahwa Special Plan perlu mencakup subsidi untuk bahan baku peternakan.
“Kenaikan harga pakan membuat peternak mengalami tekanan serius. Jika tidak ada intervensi, banyak peternak kecil akan terpaksa menutup usaha,” kata Bupati Blitar, Rijanto, saat bertemu dengan para peternak. Pemerintah daerah berharap Special Plan bisa menjadi acuan dalam menentukan kebijakan subsidi pakan. Rijanto juga menyoroti faktor eksternal seperti kenaikan nilai Dolar Amerika Serikat yang memengaruhi impor bahan baku.
Kabupaten Blitar, sebagai sentra produksi telur terbesar di Indonesia, menghasilkan 450 ton per hari. Perusahaan besar di sektor pertanian menguasai sebagian pasar, sementara peternak kecil tergantung pada harga yang tidak stabil. Special Plan dianggap sebagai upaya penting untuk memperkuat posisi peternak lokal.
Dampak pada Sektor Pertanian Lain
Krisis harga telur tidak hanya memukul peternak ayam tetapi juga menyerang peternak telur bebek. Harga telur bebek di kandang turun hingga Rp18.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi. Peternak telur bebek juga mengeluhkan penurunan permintaan dari pasar. Di sisi lain, kenaikan harga daging sapi di Pasar Kebayoran Lama memicu aksi mogok berjualan, yang dianggap sebagai bentuk protes terhadap kebijakan harga pangan nasional.
Suyanto menekankan bahwa Special Plan harus mencakup perlindungan terhadap semua sektor pertanian. “Kami ingin pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi untuk pakan, karena ini adalah biaya utama yang tak terelakkan,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga jagung dan pakan bukan hanya isu lokal, tapi memengaruhi keberlanjutan pasokan pangan nasional. Kebijakan ini diharapkan bisa menstabilkan harga telur dan mencegah inflasi di sektor pertanian.
Kebijakan Pemerintah dan Pertimbangan Ekonomi
Pemerintah pusat dan daerah kini fokus pada penyelesaian krisis harga pangan melalui Special Plan. Kebijakan ini diusulkan sebagai langkah darurat untuk meringankan beban peternak. Koordinator aksi mengatakan bahwa perlu adanya insentif berupa bantuan langsung tunai atau pengurangan pajak untuk usaha peternakan skala kecil. “Special Plan harus menjadi jaminan konsistensi harga pangan,” tegas Suyanto. Ia menambahkan bahwa peternak mengharapkan peran pemerintah lebih aktif dalam mengawasi harga bahan baku.
Rijanto menegaskan bahwa kenaikan harga pakan dan telur perlu direspon oleh pemerintah dengan kebijakan yang lebih fleksibel. “Special Plan harus menjadi refleksi kebutuhan peternak, bukan hanya isu politik,” katanya. Ia juga berharap adanya kerja sama dengan investor lokal untuk meningkatkan daya saing produksi telur dalam negeri. Dengan perlindungan ini, peternak bisa terus berproduksi tanpa kehilangan pendapatan yang signifikan.
Kebijakan Special Plan yang dicanangkan pemerintah diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. Selain subsidi pakan, perlu adanya program peningkatan kualitas produksi dan dukungan infrastruktur. Suyanto menyoroti pentingnya pendidikan teknis bagi peternak untuk mengelola biaya secara efisien. “Kami ingin Special Plan mencakup pelatihan dan akses ke teknologi modern,” imbuhnya. Dengan ini, peternak bisa meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada harga pasar yang fluktuatif.