Special Plan Bulog Targetkan Cadangan Beras Tembus 6 Juta Ton Mei 2026
Special Plan yang dicanangkan Bulog membawa angka cadangan beras nasional ke level baru, dengan stok mencapai 5,3 juta ton pada 11 Mei 2026. Target akhir bulan Mei ini adalah 6 juta ton, meningkatkan ketersediaan beras pemerintah (CBP) secara signifikan. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa strategi khusus ini berpotensi menambah stok hingga 700 ribu ton lebih, memperkuat keberlanjutan pasokan pangan.
“Alhamdulillah, sampai Mei ini stok mencapai 5,3 juta ton. Di akhir Mei, kemungkinan bisa mencapai 6 juta ton,” ujarnya saat memberi keterangan di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Dalam rangka mencapai Special Plan ini, Bulog tetap fokus pada penguatan distribusi beras dan peningkatan kapasitas gudang. Sejak awal tahun 2026, perusahaan ini menargetkan pengadaan CBP sebesar 4 juta ton, dengan kontribusi signifikan dari berbagai cabang, termasuk Bulog Meulaboh yang menyumbang lebih dari 5.000 ton. Kinerja ini mencerminkan keberhasilan kemitraan antara Bulog dengan sektor pertanian, logistik, dan keamanan pangan.
Implementasi Special Plan dalam Stabilisasi Harga dan Pasokan
Special Plan ini tidak hanya menekankan pada akumulasi stok, tetapi juga terlibat dalam pengendalian harga beras. Harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium ditetapkan Rp12.500 per kilogram, sedangkan beras premium mencapai Rp14.900 per kilogram. Selain itu, harga minyak dan jagung juga dipantau agar tidak terganggu oleh fluktuasi pasar global. Upaya ini bertujuan menjaga ketersediaan bahan makanan bagi masyarakat sepanjang tahun.
Strategi swasembada pangan yang menjadi bagian dari Special Plan memastikan penyerapan gabah petani berjalan efisien. Sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026, harga gabah untuk Bulog ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Selama 2025, Bulog Kancab Banyumas berhasil menyerap 66 ribu ton beras, menunjukkan efektivitas program tersebut dalam memperkuat ketahanan pangan.
Special Plan Memastikan Stabilitas Pasokan di Tengah Kondisi Global
Dengan Special Plan, Bulog berkomitmen menghadapi tantangan pasokan pangan global. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, stok beras nasional mencapai 4,5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. “Ini menjamin pasokan pangan aman hingga 11 bulan ke depan meski ada ketegangan di Timur Tengah,” tegasnya. Direktur Utama Bulog mengonfirmasi stok pada 3 April 2026 sebesar 4,4 juta ton, dengan proyeksi kenaikan stabil.
Ketersediaan beras yang cukup aman bahkan melebihi kapasitas gudang, menjadi bukti bahwa Special Plan berhasil meredam kekhawatiran krisis pangan. Program ini melibatkan pengawasan ketat terhadap rantai pasok, distribusi bantuan pangan ke daerah terpencil, serta kolaborasi dengan TNI dan Polri dalam memastikan keamanan stok. Dengan pergeseran strategi ini, pemerintah bisa lebih responsif terhadap perubahan permintaan dan penawaran.
Bulog juga mengintegrasikan teknologi modern dalam pengelolaan stok beras, termasuk sistem pemantauan digital untuk meningkatkan efisiensi. Dalam Special Plan, perusahaan ini berupaya mempercepat proses penyerapan gabah dari petani, sekaligus memperluas jaringan distribusi. Capaian 2,4 juta ton gabah setara beras hingga awal Mei 2026 adalah bentuk implementasi kebijakan tersebut, dengan harapan target nasional 60% bisa tercapai lebih cepat.
Special Plan ini tidak hanya fokus pada kuantitas stok, tetapi juga kualitas beras yang disimpan. Bulog melakukan pengujian terhadap kondisi gudang, memastikan beras tidak rusak dan tetap layak konsumsi. Dengan kemampuan menyerap gabah sebesar 2,4 juta ton, Bulog berperan penting dalam menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi global. Kebijakan ini menjadi bukti bahwa pemerintah Indonesia mampu membangun sistem pangan yang resilien dan berkelanjutan.