Key Discussion: Survei DEN Ungkap MBG Terlibatkan 3 UMKM per SPPG
Key Discussion – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) baru saja merilis hasil survei independen mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia, dengan menyampaikan temuan utamanya kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Survei ini memberikan gambaran komprehensif tentang dampak ekonomi dan sosial MBG, terutama dalam memperkuat keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari sistem distribusi makanan. Temuan survei menunjukkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata bekerja sama dengan tiga UMKM, mencerminkan keberhasilan program dalam menciptakan ekosistem lokal yang lebih inklusif.
Metodologi dan Temuan Survei
Survei DEN dilakukan secara mandiri dan menjangkau 800 titik SPPG di berbagai daerah, mulai dari Nias Selatan, Halmahera, hingga Papua. Anggota DEN, Septian Hario Seto, menjelaskan bahwa survei ini bertujuan mengamati pembentukan ekosistem pasokan yang terintegrasi. “Key Discussion kami fokus pada keterlibatan UMKM sebagai penyedia bahan baku,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta. Metode pengumpulan data menggunakan random sampling, dengan hasil yang menunjukkan bahwa 86,9 persen dari SPPG saat ini memiliki setidaknya satu pemasok kecil, menegaskan bahwa MBG tidak hanya menjangkau masyarakat tetapi juga membangun hubungan ekonomi lokal yang lebih kuat.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa rata-rata tiap SPPG terhubung dengan tiga UMKM. “Ini menjadi bukti bahwa MBG mampu menciptakan rantai pasok yang berkelanjutan, khususnya di tingkat daerah,” tambah Seto. Pihak DEN juga menyoroti bahwa sekitar 64 hingga 65 persen UMKM pemasok berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi SPPG. Hal ini membuktikan bahwa program tersebut tidak hanya memperkuat kebutuhan masyarakat tetapi juga meningkatkan akses pasar bagi usaha kecil lokal.
Manfaat Ekonomi dan Dampak Sosial
Survei DEN mengungkap bahwa MBG berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam kuartal pertama tahun 2026 yang mencapai pertumbuhan 5,61 persen. Selain itu, 99 persen dari tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG berasal dari masyarakat sekitar, menegaskan bahwa program ini memprioritaskan pengembangan ekonomi lokal. “Key Discussion tentang MBG menunjukkan bahwa keterlibatan UMKM bukan sekadar sekunder, tetapi menjadi inti dari keberlanjutan program,” ujar Seto, yang menekankan bahwa keberhasilan MBG bergantung pada sinergi antara pemerintah dan usaha kecil.
Peneliti utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, menyoroti popularitas program MBG di kalangan masyarakat. Survei yang dilakukan awal Maret 2026 menggunakan metode multistage random sampling mengungkap bahwa sebanyak 91,3 persen masyarakat mengenal MBG. Dampak positifnya mencakup peningkatan kepuasan publik dan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi setempat. “Key Discussion ini penting karena menegaskan bahwa MBG bukan hanya solusi krisis pangan tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi rakyat,” tambah Masduri, yang menyoroti efektivitas survei dalam memperjelas peran UMKM.
Selain manfaat ekonomi, MBG juga membuka peluang baru untuk lapangan kerja. Dengan melibatkan lebih dari 800 SPPG dan ribuan UMKM, program ini menciptakan jaringan distribusi yang lebih luas, sekaligus memberikan ruang bagi usaha kecil untuk berkembang. Para pengelola SPPG mengatakan bahwa kerja sama dengan UMKM membantu mengurangi biaya operasional dan meningkatkan kualitas bahan baku yang diberikan. “Key Discussion tentang MBG menunjukkan bahwa integrasi UMKM justru menjadi penopang utama dalam keberhasilan distribusi bahan pangan,” kata Septian, yang menekankan keberlanjutan hubungan tersebut.
Temuan survei DEN juga menyoroti peran Prabowo Subianto dalam memastikan keberlanjutan program MBG. Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Prabowo diberikan data yang menggambarkan dampak positif dari keterlibatan UMKM. “Key Discussion ini membuktikan bahwa MBG menjadi wadah yang mendorong keikutsertaan pelaku usaha kecil dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Prabowo dalam sesi diskusi. Dengan data yang jelas, program MBG diharapkan terus berkembang dan menjadi model bagi program serupa di masa depan.
Para pihak yang terlibat menegaskan bahwa MBG tidak hanya sebagai solusi krisis gizi, tetapi juga sebagai alat pendorong ekonomi. Septian Hario Seto mengatakan bahwa survei DEN dirancang untuk memperkuat hubungan antara SPPG dan UMKM, menjadikan program ini sebagai contoh keberhasilan pemerintah dalam mengintegrasikan sektor swasta. “Key Discussion yang kami lakukan bertujuan agar program ini tidak hanya terlihat dari sisi pemerintah, tetapi juga dari perspektif UMKM yang menjadi bagian dari ekosistemnya,” jelasnya. Dengan demikian, MBG menjadi bahan pembicaraan utama dalam diskusi ekonomi nasional.