Key Discussion: CEO Honda Diminta Mengundurkan Diri, Ini Alasannya
Key Discussion mengenai tekanan yang dialami Toshihiro Mibe, CEO Honda, semakin menjadi perbincangan hangat dalam industri otomotif global. Beberapa minggu setelah pengumuman pembatalan tiga proyek mobil listrik strategis, para pendiri Honda mulai meminta Mibe untuk melepaskan jabatannya. Permintaan ini berlaku sebagai respons atas keputusan perusahaan yang dinilai mengganggu momentum transisi menuju kendaraan listrik. Meski Mibe menolak, ia tetap menjadi pusat perhatian karena kesalahan strategi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan yang memicu kerugian mencapai US$15,7 miliar. Perusahaan akan mengumpulkan pensiunan eksekutif di akhir 2025 untuk meninjau ulang tantangan yang dihadapi, termasuk keberlanjutan bisnis di pasar utama seperti Tiongkok.
Penurunan Penjualan di China Jadi Pemicu
Pasar Tiongkok, yang merupakan salah satu penyangga utama pendapatan Honda, menjadi sorotan utama dalam Key Discussion. Penurunan penjualan kendaraan listrik di wilayah tersebut disebut-sebut sebagai bukti kegagalan strategi CEO Mibe. Para petinggi Honda menyatakan bahwa kinerja perusahaan di Asia Tenggara turun drastis, dengan penjualan berkurang 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Kritik mengarah pada kebijakan produksi yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen, serta kegagalan dalam mengadaptasi teknologi dan desain yang lebih modern. “Key Discussion ini menggarisbawahi kebutuhan untuk memperbaiki manajemen strategi dan keterlibatan CEO dalam bisnis inti,” kata salah satu analis.
“Mibe dinilai tidak lagi mengikuti filosofi genba yang menjadi inti budaya kerja Honda,” kata salah satu kritikus. Istilah genba merujuk pada kebiasaan manajemen berada langsung di lapangan, termasuk pabrik dan dealer. Keputusan untuk menunda produksi kendaraan listrik dinilai memperburuk ketegangan internal, karena para eksekutif menyatakan bahwa CEO tersebut lebih sering terlibat dalam sponsor olahraga golf dibandingkan fokus pada pengembangan inovasi.
Kebijakan Strategis dan Tantangan Global
Dalam Key Discussion, dewan direksi Honda menyoroti beberapa faktor yang mengarah pada keputusan pembatalan tiga proyek mobil listrik. Kinerja global kompetitor seperti BYD dan Wuling Motors, yang mengadopsi teknologi PHEV untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar, menjadi tekanan besar. Selain itu, ketergantungan pada teknologi yang dinilai lambat dalam pengembangan dan produksi mengakibatkan keterlambatan dalam peluncuran produk baru. Negosiasi dengan LG yang berlangsung selama lima tahun, sejak 2020, dinyatakan sebagai salah satu penyebab utama penundaan, karena mengganggu jadwal produksi yang telah direncanakan.
“Negosiasi dengan LG terlalu lama, sehingga mengganggu jadwal produksi,” ujar Rosan, salah satu anggota tim pemerintah. Mibe kesulitan menjawab pertanyaan tentang manfaat merger dengan Nissan. Key Discussion ini menyoroti ketidakpuasan terhadap kebijakan eksternal perusahaan, yang dinilai tidak memberikan dampak signifikan pada pasar internasional.
Ketegangan di April 2026
Ketegangan mencapai puncaknya pada April 2026, saat Nobuhiko Kawamoto, mantan CEO Honda, mengunjungi Tokyo dan meminta Mibe mundur. Meski menolak, Mibe tetap bertahan, didukung oleh komite nominasi dan dewan direksi. Struktur tata kelola yang kini melibatkan lebih banyak direktur independen mengurangi pengaruh mantan eksekutif, tetapi tidak menghilangkan ketegangan. Dalam Key Discussion, para anggota dewan menyatakan bahwa keputusan Mibe menunda peluncuran model baru menjadi perdebatan utama, karena memengaruhi keterlibatan investor dan reputasi perusahaan.
Transformasi dan Persaingan Baru
Kebijakan menuju kendaraan listrik semakin masif, tetapi perlindungan konsumen SPKLU menjadi isu penting dalam Key Discussion. Di sisi lain, pabrikan seperti BYD dan Wuling Motors mengadopsi teknologi PHEV untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Kerja sama antara Seres dan ByteDance menunjukkan integrasi sektor otomotif dengan teknologi di Tiongkok. “Key Discussion ini menegaskan bahwa Honda harus mengubah pendekatan untuk bertahan dalam persaingan global,” kata ekspertis otomotif. Strategi yang tidak konsisten dinilai merugikan perusahaan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang kuat.
Upaya Pemerintah dan Kinerja IPCC
Menurut laporan, Pemerintah Provinsi NTB berupaya meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak kendaraan listrik, didukung oleh Perda baru. Sementara itu, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat pertumbuhan kargo 16,01% hingga April 2026, terutama karena ekspor otomotif dan antisipasi kebutuhan kendaraan listrik. Key Discussion juga melibatkan pembahasan peran perusahaan dalam mendukung transisi energi, termasuk kolaborasi dengan pihak pemerintah untuk mengoptimalkan kebijakan subsidi dan pajak.
Perjalanan Mibe dan Harapan Masa Depan
Toshihiro Mibe, yang telah memimpin Honda selama beberapa tahun, kini menjadi subjek utama Key Discussion. Meski menolak mundur, ia tetap memperoleh dukungan dari sebagian eksekutif yang menganggap keputusannya masih memiliki potensi untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Dalam beberapa rapat, Mibe memperkenalkan strategi baru yang berfokus pada pengembangan teknologi hibrida dan efisiensi biaya. “Key Discussion ini tidak hanya tentang keputusan Mibe, tetapi juga tentang arah masa depan Honda sebagai perusahaan otomotif yang bertransformasi,” kata salah satu anggota dewan. Kehadiran Mibe diharapkan mampu mengimbangi tekanan dari pendiri dan investor, meski ada tantangan besar dalam mempercepat proses transisi menuju kendaraan listrik.