Uncategorized

Topics Covered: Permintaan Gas untuk Pembangkit Listrik PLN EPI Diproyeksi Naik 4,5 Persen per Tahun

Permintaan Gas untuk Pembangkit Listrik PLN EPI Diproyeksi Naik 4,5 Persen per Tahun

Topics Covered – Dalam laporan terbaru, Rakhmad Dewanto, direktur utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), menyatakan bahwa sektor listrik akan menjadi pendorong utama pertumbuhan energi nasional. Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan gas untuk pembangkit listrik diperkirakan meningkat secara stabil sebesar 4,5 persen setiap tahun, terutama akibat peningkatan konsumsi listrik di berbagai sektor dan percepatan program elektrifikasi. Proyeksi ini berdasarkan data McKinsey dan Rencana Umum Ketenagalistrikan (RUKN) 2025, yang menunjukkan pergeseran signifikan dalam struktur energi Indonesia.

Elektrifikasi dan Peran Energi Primer

Berdasarkan proyeksi jangka panjang, kontribusi energi listrik dalam kebutuhan energi primer Indonesia akan meningkat dari 28 persen pada 2025 menjadi 38 persen pada 2035. Topics Covered menyoroti bahwa pertumbuhan sektor listrik diharapkan mencapai laju 4,6-5,4 persen per tahun, didorong oleh kebutuhan energi yang meningkat di transportasi, industri, rumah tangga, dan pusat data. “Power sector diproyeksikan tumbuh paling tinggi sekitar 4,6-5,4 persen per tahun, didorong elektrifikasi di berbagai sektor,” tambah Rakhmad dalam forum internasional.

“Kita harus memastikan bahwa permintaan listrik terus mendapatkan dukungan dari energi primer, termasuk gas bumi, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Rakhmad dalam forum “11th Annual LNG Supply, Transport & Storage Forum 2026” di Bali.

Produksi Listrik dan Peralihan ke Energi Terbarukan

PLN memperkirakan total produksi listrik nasional akan meningkat hampir dua kali lipat, dari 283,7 TWh pada 2024 hingga 581-584 TWh pada 2034. Meski energi baru terbarukan akan tumbuh dengan laju 4,8-5,6 kali lipat, batu bara dan gas bumi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan. Pada 2034, batu bara diperkirakan tetap menyumbang 47 persen dari total produksi listrik, sementara gas bumi akan terus menjadi sumber energi yang kritis dalam konteks Topics Covered.

Gas bumi diperkirakan akan meningkat 2,3-2,7 kali lipat hingga mencapai 132,3 TWh atau 18-23 persen dari bauran pembangkit listrik nasional. Kebutuhan gas PLN juga diperkirakan naik dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi 2.490 BBTUD pada 2034, dengan fokus pada penggunaan LNG sebagai pengganti pasokan gas pipa yang berkurang.

Perkembangan Infrastruktur LNG dan Kebutuhan Pasokan

Dalam rangka memenuhi kebutuhan yang meningkat, PLN EPI sedang memperkuat kontrak jangka panjang, termasuk kolaborasi dengan perusahaan seperti Conrad dan Mubadala yang baru ditandatangani tahun lalu. Topics Covered juga menyoroti pengembangan infrastruktur gas dan LNG, seperti proyek FSRU, kapal LNG, serta unit penerima gas darat, yang menjadi kunci dalam menopang kebutuhan energi di masa depan.

Beberapa proyek utama yang dijalankan meliputi FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Selain itu, pembangunan klaster LNG di wilayah Sumatera-Kalimantan, Sulawesi-Maluku, Papua Utara, dan Nusa Tenggara sedang berlangsung untuk meningkatkan kapasitas gasifikasi. Target PLN EPI mencakup kapasitas regasifikasi hingga 3.850 MMSCFD dan penyimpanan gas mencapai 1,2 juta meter kubik.

“Tidak hanya kebutuhan gas yang meningkat, tetapi juga infrastruktur pendukung harus dibangun secara konsisten untuk mendukung keberlanjutan Topics Covered,” jelas Rakhmad.

Pengurangan Ketergantungan BBM dan Strategi Regulasi

Rakhmad menekankan bahwa pengembangan LNG menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) dan memperkuat ketahanan energi nasional. Proyeksi kebutuhan kargo LNG juga meningkat 4,5 persen per tahun, dari 103 kargo pada 2026 menjadi 214 kargo pada 2034. Dengan demikian, Topics Covered mencakup pergeseran struktur energi yang lebih seimbang antara BBM, batu bara, dan energi terbarukan.

PLN EPI memperkirakan kontrak gas pipa akan berkurang dari 757 BBTUD menjadi 667 BBTUD dalam periode 2026-2034. Perubahan ini menunjukkan adaptasi sistem energi Indonesia terhadap tren penggunaan LNG yang lebih luas, sejalan dengan arahan pemerintah untuk transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan stabilitas pasokan energi di masa depan.

Perspektif Jangka Panjang dan Dampak Ekonomi

Dalam jangka panjang, pertumbuhan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Topics Covered menunjukkan bahwa perluasan infrastruktur energi prima menjadi faktor penting dalam mendorong investasi dan keberlanjutan industri kelistrikan. Selain itu, kenaikan permintaan gas ini juga meningkatkan ketergantungan pada sumber day

Leave a Comment