Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

AirNav dan Boeing Teken Letter of Intent Tingkatkan Efisiensi di Bandara Ngurah Rai

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By David Gonzalez - beritanew.com

Foto : David Gonzalez - beritanew.com

AirNav dan Boeing Teken Letter untuk Efisiensi Bandara Ngurah Rai

Beritanew.com – AirNav dan Boeing Teken Letter of Intent untuk memulai kajian peningkatan pengelolaan lalu lintas pesawat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Kolaborasi AirNav Indonesia dan The Boeing Company ini diarahkan untuk mendukung keselamatan penerbangan, kelancaran pergerakan pesawat, penghematan bahan bakar, serta pengurangan emisi.

Letter of Intent atau LoI tersebut ditandatangani di Hotel Sheraton Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa, 15 September 2026. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama AirNav Indonesia Avirianto Suratno dan Senior Managing Director Boeing Commercial Airplanes, Malcolm.

Tantangan Pergerakan Pesawat di Ngurah Rai

Bandara Ngurah Rai menjadi lokasi awal kajian karena memiliki kebutuhan pengaturan operasi yang lebih presisi. Salah satu tantangannya adalah tidak tersedianya taxiway paralel, padahal area pergerakan pesawat di bandara tersebut cukup panjang.

Taxiway merupakan jalur yang digunakan pesawat untuk bergerak antara landasan pacu, apron, dan area parkir. Tanpa taxiway paralel, pesawat yang tiba dan pesawat yang akan berangkat dapat menggunakan area pergerakan yang sama. Karena itu, pengaturan waktu dan koordinasi lalu lintas pesawat menjadi faktor penting untuk mencegah antrean.

“Di Bali itu kan memang harus ada peningkatan karena tidak ada taxiway. Sehingga, nanti Boeing akan membantu bagaimana kita itu bisa meningkatkan khususnya keselamatan, penerbangan dan efisien waktu di darat karena tidak ada taxiway paralel,” ujar Avirianto Suratno.

Melalui AirNav dan Boeing Teken Letter ini, kedua pihak akan menyiapkan pendekatan berbasis teknologi untuk mengelola aktivitas pesawat di udara maupun di darat. Salah satu sasaran kajian adalah meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat dari 33 pesawat per jam menjadi sekitar 34 hingga 40 pesawat per jam.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan tidak hanya memperlancar arus kedatangan dan keberangkatan, tetapi juga memangkas waktu taxi. Waktu pergerakan di darat yang lebih efisien dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar serta emisi pesawat.

“Menggunakan teknologi untuk mengatur lalu lintas udara dan darat, targetnya meningkatkan pergerakan pesawat dari 33 per jam menjadi 34-40 per jam sekaligus menghemat bahan bakar dan emisi,” ujarnya.

Studi dan Pemodelan Operasi Bandara

Direktur Operasi AirNav, Setio Anggoro, menjelaskan bahwa kerja sama akan dimulai melalui studi dan pemodelan kondisi operasi saat ini. Tahap awal menggunakan baseline model melalui Total Airspace and Airport Modeler atau TAAM untuk menggambarkan pola pergerakan pesawat yang berjalan di Bandara Ngurah Rai.

Pemodelan memungkinkan tim menguji sejumlah skenario pengaturan sebelum diterapkan dalam operasi langsung. Kondisi lalu lintas udara, pergerakan pesawat di darat, dan penggunaan fasilitas bandara dapat dianalisis untuk menentukan rancangan yang paling sesuai.

Fokus pengelolaan juga berada pada pertemuan pesawat yang keluar dari area parkir dengan pesawat yang baru tiba. Pengaturan pada titik tersebut diperlukan agar penggunaan area bersama tetap aman dan efisien.

“Jadi kalau pesawat dari parking untuk taxi itu mundur, nah ketemu sama yang datang dalam satu area kan. Nah ini yang kita harus manage,” imbuhnya.

Masa uji coba direncanakan berlangsung hingga Januari mendatang. Hasil kajian akan digunakan untuk menilai dampak pengaturan baru terhadap keselamatan, kapasitas pergerakan, dan efisiensi operasional pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Peluang Pengembangan ke Bandara Lain

Jika penerapan di Bali memberikan hasil baik, metode yang dikaji melalui AirNav dan Boeing Teken Letter of Intent dapat dikembangkan di bandara lain yang belum memiliki taxiway paralel. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan bentuk area pergerakan, volume penerbangan, dan kebutuhan operasional tiap bandara.

Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan, Hambara, menekankan pentingnya transfer pengetahuan dalam kolaborasi tersebut. Pengalaman serta metode yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat kemampuan internal AirNav dalam mengembangkan layanan navigasi penerbangan.

FAQ

Apa tujuan kerja sama AirNav Indonesia dan Boeing?

Kerja sama ini bertujuan mengkaji peningkatan keselamatan, kelancaran pergerakan pesawat, kapasitas operasi, efisiensi bahan bakar, dan pengurangan emisi di Bandara Ngurah Rai.

Mengapa Bandara Ngurah Rai menjadi lokasi kajian?

Bandara Ngurah Rai menghadapi tantangan pengaturan pergerakan pesawat karena tidak memiliki taxiway paralel. Kondisi tersebut membutuhkan pengelolaan waktu dan lalu lintas yang lebih tepat.

Berapa target peningkatan pergerakan pesawat?

Targetnya adalah meningkatkan kapasitas dari 33 pesawat per jam menjadi sekitar 34 hingga 40 pesawat per jam.

Related Reading