Anitawati Merawat Warisan Tidore Lewat Revitalisasi Tenun Puta Dino Kayangan
Anitawati Hidupkan Kembali Tenun Tidore yang Lama Menghilang
Beritanew.com – Upaya mengembalikan jejak tenun tradisional Tidore ke ruang kehidupan masyarakat membawa Anitawati masuk jajaran tiga besar DPD RI Awards 2026 pada kategori Pelestari Budaya Daerah. Karya yang diberi nama Puta Dino Kayangan itu menjadi hasil perjalanan panjang riset, penelusuran sejarah, serta rekonstruksi warisan wastra yang pernah tidak terlihat selama lebih dari satu abad.
Penetapan tiga besar penghargaan tersebut dibahas dalam rapat perdana Dewan Pakar DPD RI Awards 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 5 Oktober 2026. Sebagian anggota dewan hadir langsung, sementara anggota yang tidak dapat hadir tetap menyampaikan pandangan dan kontribusi dalam proses pembahasan.
DPD RI Awards 2026 memiliki empat bidang penghargaan, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal atau Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, serta Pelestari Budaya Daerah. Kehadiran kategori budaya menempatkan kerja pelestarian bukan sekadar sebagai aktivitas menjaga benda atau motif lama, melainkan juga sebagai upaya mempertahankan pengetahuan, keterampilan, dan identitas masyarakat.
Riset untuk Menemukan Kembali Jejak Tenun
Anitawati, perempuan kelahiran Tidore, memulai revitalisasi tenun Tidore pada 2018. Ia menelusuri arsip sejarah, mencari jejak para penenun, dan mempelajari temuan alat tenun lama. Dari proses itu, teknik pembuatan, ragam motif, hingga makna filosofis tenun dibangun kembali sebagai bagian dari identitas budaya Kesultanan Tidore.
Puta Dino Kayangan tidak berhenti sebagai produk tekstil. Tenun ini dikembangkan sebagai ruang pembelajaran tentang sejarah Tidore, terutama keterkaitannya dengan Spice Islands. Motif-motifnya membawa narasi sejarah kepulauan rempah ke dalam karya yang dapat dikenakan, dipamerkan, dan diperkenalkan kepada khalayak lebih luas.
Revitalisasi tersebut juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya memerlukan kerja yang sabar dan berlapis. Ketika sebuah tradisi kehilangan keberlanjutan antargenerasi, pemulihannya bukan hanya soal menghasilkan bentuk baru yang menyerupai masa lalu. Prosesnya mencakup pencarian pengetahuan, pelatihan keterampilan, pemaknaan kembali simbol budaya, serta pembentukan ekosistem agar tradisi itu bisa bertahan dalam kehidupan masa kini.
Pelestarian yang Membuka Ruang Ekonomi
Dalam perjalanannya, Anitawati menggabungkan pelatihan menenun dengan pendampingan usaha dan pemberdayaan berbagai kelompok. Perempuan, anak muda, pelajar, hingga warga binaan rumah tahanan dilibatkan melalui pengembangan keterampilan serta kewirausahaan. Pendekatan ini membuat tenun Tidore tidak hanya diposisikan sebagai peninggalan budaya, tetapi juga sebagai sumber peluang dalam industri kreatif.
Dampak ekonomi program itu menjangkau puluhan penenun tetap dan ratusan tenaga kerja pendukung. Rantai kerja yang terbentuk mencakup penyedia bahan pewarna alami, pengolah serat, hingga pengrajin kemasan. Dengan demikian, nilai sebuah kain tidak hanya berada pada hasil akhir, melainkan juga pada keterlibatan banyak pihak di sepanjang proses produksinya.
Bagi peserta pelatihan, keterampilan menenun dan pengelolaan usaha dapat menjadi jalan untuk memperluas pilihan kerja. Model ini juga membuka ruang yang lebih inklusif bagi kelompok yang sering memerlukan akses keterampilan dan peluang ekonomi berkelanjutan. Pengrajin memperoleh kesempatan membangun pendapatan melalui karya yang berakar pada lingkungan budayanya sendiri.
Dari Tidore ke Panggung Internasional
Tenun Tidore hasil revitalisasi Anitawati telah tampil dalam sejumlah agenda internasional. Karya tersebut hadir di Indonesia New York Fashion Week pada 2022, kemudian diperkenalkan di Kyoto dan Cape Town pada 2023. Pada 2024, tenun Tidore kembali dibawa ke Paris dan Rabat.
Jangkauan pasarnya juga melampaui Indonesia melalui outlet di Hamburg, Jerman. Kehadiran di pasar ekspor memperlihatkan peluang bagi wastra daerah untuk memasuki ruang global tanpa melepas cerita asal-usulnya. Dalam konteks ini, tenun berperan sebagai produk kreatif sekaligus medium diplomasi budaya.
Anitawati pun aktif berbagi pengalaman dalam berbagai forum, termasuk G20 Bali, Komunitas Jalur Rempah, Kemenkumham, Universitas Indonesia, Humboldt-Universität zu Berlin, dan Czartoryski Museum Kraków. Keterlibatan tersebut memperluas percakapan mengenai warisan Tidore, sejarah rempah, dan pentingnya menjaga pengetahuan tradisional agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Wastra Langka dengan Prinsip Keberlanjutan
Saat ini, tenun Tidore telah ditetapkan sebagai salah satu Wastra Langka Indonesia. Status tersebut menegaskan nilai pentingnya sebagai karya budaya yang perlu dirawat, sekaligus menyoroti perlunya regenerasi penenun agar keterampilan itu tidak kembali terputus.
Di bidang sosial dan budaya, revitalisasi ini membantu menghidupkan lagi wastra yang sempat hilang lebih dari 100 tahun. Motif yang memuat jejak Spice Islands menjadi sarana pengenalan sejarah, penguat kebanggaan warga, dan pemicu tumbuhnya penenun muda. Pengembangannya turut membuka potensi wisata edukasi yang berpusat pada pengalaman budaya.
Aspek lingkungan juga menjadi bagian dari proses produksinya. Pewarna alami dan bahan baku lokal dimanfaatkan untuk mendukung praktik yang lebih berkelanjutan. Sisa kain diolah kembali menjadi produk bernilai tambah melalui pendekatan upcycling dan konsep zero waste, sementara pasokan serat dijalankan lewat kemitraan dengan pengelola yang bertanggung jawab.
Melalui rangkaian kerja tersebut, tenun Tidore menunjukkan bahwa warisan budaya dapat bergerak bersama penguatan ekonomi masyarakat dan perhatian terhadap lingkungan. Puta Dino Kayangan menjadi contoh bahwa pelestarian tidak harus berhenti di museum atau seremoni, tetapi dapat hadir dalam keterampilan, pekerjaan, pendidikan sejarah, dan kehidupan sehari-hari.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Anitawati Merawat Warisan Tidore Lewat Revitalisasi?Anitawati Merawat Warisan Tidore Lewat Revitalisasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Anitawati Merawat Warisan Tidore Lewat Revitalisasi matter?Anitawati Merawat Warisan Tidore Lewat Revitalisasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.