Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kasus Eksploitasi Seks di Surabaya, Korban Diberi Target Layani 10 Pria Sehari

Published Oktober 17, 2026 · Updated Oktober 17, 2026 · By Mark Martin - beritanew.com

Foto : Mark Martin - beritanew.com

Polisi Ungkap Dugaan Eksploitasi Seksual dengan Target Harian di Surabaya

Beritanew.com – Kepolisian mengungkap dugaan tindak pidana perdagangan orang dengan modus eksploitasi seksual yang dijalankan pasangan suami istri di Surabaya. Dua tersangka berinisial ADR dan AA diduga memaksa korban memenuhi target pelayanan terhadap sedikitnya 10 pria setiap hari.

Praktik tersebut disebut berlangsung dalam kurun Februari hingga Juli 2026. Dalam rentang enam bulan itu, korban diduga ditempatkan dalam situasi yang membuatnya harus terus melayani pelanggan, termasuk ketika sedang mengalami menstruasi.

“Korban dipaksa oleh tersangka untuk melayani sehari minimal adalah 10 orang. Selama sebulan berturut-turut tidak putus, bahkan pada saat mohon maaf dia sedang haid atau menstruasi juga harus tetap melayani,” kata Direktur Reserse PPA-PPO Polda Jatim Kombes Ganis Setyaningrum, Sabtu (17/10/2026).

Pembagian Peran Pasangan Tersangka

Penyidik menduga ADR dan AA berbagi tugas dalam menjalankan praktik tersebut. Salah satu tersangka bertugas mengajak serta merekrut korban dengan tawaran pekerjaan. Setelah korban berada dalam jaringan mereka, tersangka lainnya diduga mencari pelanggan dan menghubungkan pelanggan itu dengan korban.

Pola pembagian peran ini menjadi bagian penting dalam penyidikan karena menunjukkan dugaan adanya pengelolaan praktik secara terstruktur. Perekrutan dengan janji pekerjaan dapat membuat korban berada dalam posisi rentan, terutama apabila informasi yang diberikan sejak awal tidak sesuai dengan kenyataan yang kemudian dihadapi.

Target 10 pelanggan per hari berarti korban dituntut melayani setidaknya 300 pria dalam satu bulan. Jumlah itu bukan sekadar catatan target internal, melainkan diduga dijadikan dasar pengaturan pembayaran kepada korban.

Pembayaran Ditunda Jika Target Tidak Tercapai

Apabila jumlah pelanggan yang ditetapkan tidak terpenuhi, pembayaran kepada korban disebut tidak langsung diberikan. Kekurangan target tersebut juga diduga dibawa ke bulan berikutnya, sehingga korban tetap dibebani kewajiban yang terus bertambah.

Skema semacam ini dapat mempersempit pilihan korban untuk menghentikan situasi yang dialaminya. Ketika penghasilan ditahan dan target terus diakumulasikan, korban berisiko semakin sulit keluar dari tekanan yang dibuat oleh pihak yang mengendalikan aktivitas tersebut.

Dalam perkara perdagangan orang, unsur paksaan tidak selalu harus dipahami semata-mata sebagai kekerasan fisik. Tekanan melalui utang, penahanan bayaran, ancaman, manipulasi tawaran kerja, atau pengendalian akses korban terhadap uang juga dapat menjadi bagian dari pola eksploitasi yang perlu didalami penyidik.

Keuntungan Diduga Mencapai Rp540 Juta

Dari kegiatan itu, ADR diduga memperoleh sekitar Rp75 juta setiap bulan. Sementara AA disebut menerima Rp50 ribu dari setiap pesanan yang masuk. Dengan periode praktik selama enam bulan, keuntungan kedua tersangka diperkirakan berjumlah Rp540 juta.

Nilai tersebut menggambarkan dugaan motif ekonomi di balik perkara ini. Aparat perlu menelusuri aliran dana, pola transaksi, pihak yang terlibat dalam perekrutan maupun pencarian pelanggan, serta kemungkinan adanya korban lain yang belum teridentifikasi.

Pemeriksaan terhadap bukti komunikasi, catatan pembayaran, keterangan korban, dan informasi dari saksi dapat membantu memperjelas bagaimana sistem tersebut berjalan. Penelusuran semacam itu juga penting untuk memastikan korban memperoleh perlindungan serta pendampingan yang diperlukan selama proses hukum berlangsung.

Jeratan Pasal TPPO dan Kemungkinan Pemberatan

Para tersangka dijerat dengan ketentuan pidana terkait tindak pidana perdagangan orang. Penyidik turut membuka peluang penerapan pemberatan hukuman apabila perbuatan itu terbukti dilakukan berulang kali sebagai kebiasaan atau dijadikan mata pencaharian demi memperoleh keuntungan.

Penanganan perkara TPPO tidak hanya berfokus pada pelaku yang berhadapan langsung dengan korban. Penyidikan juga dapat diarahkan untuk mengurai seluruh mata rantai eksploitasi, termasuk perekrut, pihak yang mengatur pelanggan, pengelola dana, hingga pihak lain yang diduga mengetahui atau mendapat keuntungan dari kejahatan tersebut.

Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat untuk berhati-hati terhadap tawaran kerja yang tidak menjelaskan jenis pekerjaan, lokasi, sistem pembayaran, dan identitas pihak pemberi kerja secara terbuka. Tawaran yang disertai tekanan, larangan menghubungi keluarga, atau perubahan pekerjaan secara mendadak patut diwaspadai.

Korban eksploitasi seksual membutuhkan pendekatan yang mengutamakan keselamatan dan pemulihan, bukan stigma. Proses hukum diharapkan dapat mengungkap seluruh fakta perkara, memastikan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat, serta memberi ruang perlindungan bagi korban untuk mendapatkan kembali hak-haknya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kasus Eksploitasi Seks di Surabaya Korban?

Kasus Eksploitasi Seks di Surabaya Korban is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kasus Eksploitasi Seks di Surabaya Korban matter?

Kasus Eksploitasi Seks di Surabaya Korban matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.