Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri Pangan DPD RI Awards 2026

Published September 30, 2026 · Updated September 30, 2026 · By Mark Martin - beritanew.com

Foto : Mark Martin - beritanew.com

Empat Sosok Penggerak Pangan Desa dalam Kandidat DPD RI Awards 2026

Beritanew.com – DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan menempatkan kemandirian pangan sebagai hasil dari kerja bersama di tingkat desa. Sepuluh kandidat telah dipilih panitia karena kiprahnya mengolah potensi lokal, mengajak warga terlibat, serta membangun kegiatan pangan yang dapat memberi nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Kategori ini menyoroti individu yang tidak hanya menjalankan usaha pertanian atau peternakan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan pemberdayaan bagi masyarakat. Pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif, pengembangan teknologi budidaya, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk siap jual menjadi bagian dari langkah yang dilakukan para kandidat.

“Diberikan kepada individu yang menjadi penggerak dalam membangun desa mandiri pangan melalui pemanfaatan potensi pangan lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan secara berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat desa.”

Penghargaan ini menggarisbawahi pentingnya ketahanan pangan yang tumbuh dari kemampuan desa mengenali sumber dayanya sendiri. Dalam praktiknya, pendekatan tersebut dapat hadir lewat budidaya ikan, hortikultura modern, peternakan, maupun pelestarian tanaman pangan lokal.

Agus Setiawan dan budidaya lele bioflok di Tigaraksa

Agus Setiawan menjalankan program Desa Berdaya Ikan Lele di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, sejak 2023. Sebagai Ketua Gucang Farm, ia mendorong kemandirian pangan warga melalui budidaya lele dengan sistem bioflok.

Teknik bioflok memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah sisa pakan serta kotoran ikan menjadi gumpalan atau floc. Material tersebut dapat menjadi nutrisi tambahan bagi ikan. Penerapan metode ini ditujukan untuk membuat penggunaan air dan pakan lebih efisien dalam proses pemeliharaan.

Kegiatan budidaya itu menghasilkan sekitar dua kuintal lele setiap pekan. Kelompok ternak yang terlibat juga telah memproduksi benih lele hingga 1.500.000 ekor per bulan. Aktivitasnya tidak berhenti pada panen ikan, sebab warga turut didorong menciptakan produk olahan dan memperluas pemasaran.

Beragam olahan lele yang dikembangkan mencakup abon, siomay, pempek, serta cookies dari tulang lele. Pengolahan seperti ini memberi peluang peningkatan nilai hasil budidaya sekaligus memperluas pilihan produk yang dapat ditawarkan kepada konsumen.

Ahmad Lafillian Romadhi menghidupkan lahan tidur dengan melon premium

Dari Desa Kedungrejo, Kabupaten Jombang, Ahmad Lafillian Romadhi mengembangkan Melonponik Megaluh sejak 2023. Petani milenial ini membangun budidaya melon premium melalui sistem hidroponik dan menjadikan lahan tidur sebagai area produksi pangan.

Model usahanya memadukan greenhouse, hidroponik, dan smart farming berbasis Internet of Things atau IoT. Pemanfaatan teknologi tersebut digunakan dalam budidaya melon yang rentan menghadapi gangguan hama apabila dikerjakan secara konvensional.

Melonponik Megaluh telah melibatkan sekitar 66 warga dalam budidaya melon di Jombang. Gagasannya juga telah diterapkan oleh lebih dari 480 mitra hidroponik di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pangan desa dapat diperluas melalui berbagi pengetahuan serta model produksi yang dapat diterapkan kembali.

Satu greenhouse berukuran 6 x 12 meter mampu mencatat omzet sampai Rp25 juta dalam sekali masa panen. Panen dilakukan sekitar tiga kali dalam setahun. Nilai ini memperlihatkan potensi budidaya bernilai tambah ketika pengelolaan lahan, lingkungan tumbuh, dan teknologi dijalankan secara terpadu.

Anang Ismail memperkuat peternak kambing perah

Anang Ismail memimpin Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo di Dusun Jengglik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Perkumpulan tersebut menjadi wadah penguatan keterampilan dan usaha warga melalui pengembangan peternakan kambing perah yang bertumpu pada potensi daerah.

Jaringan Rojo Koyo Utomo menghimpun peternak dari sekitar 65 desa di tiga kabupaten, yakni Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Jangkauan ini membuat kegiatan kelompok tidak hanya berdampak pada satu dusun, melainkan menghubungkan para peternak di wilayah yang lebih luas.

Penguatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, dan penerapan Good Farming Practices. Anang juga mendorong penggunaan bibit serta indukan unggul agar mutu ternak dan produktivitas susu dapat ditingkatkan.

Untuk menambah nilai jual susu kambing, kelompok ini mengembangkan unit pengolahan, termasuk produksi susu kambing pasteurisasi berkualitas. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kemandirian pangan juga terkait dengan kemampuan mengolah hasil ternak menjadi produk yang lebih siap dipasarkan.

Asep Hidayat Mustopa menjaga hanjeli sebagai pangan lokal

Asep Hidayat Mustopa, yang dikenal sebagai Abah Asep, menggagas Desa Wisata Hanjeli di Waluran Mandiri, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sejak 2015, kawasan ini menjadi ruang pelestarian hanjeli, tanaman lokal dengan biji yang dapat diolah menjadi beras hanjeli, tepung, bubur, dan aneka pangan lainnya.

Hanjeli merupakan biji-bijian kuno yang pernah hampir hilang. Di Desa Wisata Hanjeli, pengunjung dapat mengenal sejarah tanaman tersebut sambil mencoba sajian tradisional, seperti bubur hanjeli, nasi liwet hanjeli, peuyeum hanjeli, dan rengginang hanjeli.

Program ini melibatkan lebih dari 150 warga. Pemberdayaan turut menjangkau perempuan, kelompok tani, serta mantan pekerja migran Indonesia. Keterlibatan berbagai kelompok warga memperkuat posisi pangan lokal sebagai kegiatan bersama, bukan semata produksi satu pihak.

Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan panen lebih dari 20 ton. Pengembangan hanjeli menunjukkan bahwa perlindungan tanaman lokal dapat berjalan seiring dengan aktivitas ekonomi, pendidikan pangan, dan wisata berbasis desa.

Keempat kandidat tersebut menggambarkan beragam jalan menuju desa mandiri pangan. Ada yang mengandalkan inovasi budidaya ikan dan hidroponik, ada pula yang membangun jejaring peternak atau menghidupkan kembali pangan tradisional. Titik temu mereka adalah keterlibatan masyarakat serta upaya menjadikan potensi lokal sebagai manfaat yang berkelanjutan bagi desa.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri?

Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri matter?

Mengenal 10 Kandidat Penggerak Desa Mandiri matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.