Polri dan ESQ Kuatkan Sistem Karier Berbasis TalentDNA dan Teknologi
Polri Perkuat Pembinaan Karier Personel dengan TalentDNA dan Teknologi
Beritanew.com – Polri tengah mengembangkan pembinaan karier personel yang memadukan pemetaan talenta, penilaian kompetensi, rekam jejak, dan pemanfaatan teknologi. Sistem tersebut dirancang agar pengelolaan sumber daya manusia semakin menyeluruh, terukur, serta mampu mengenali potensi dan integritas setiap anggota.
Pembahasan mengenai arah penguatan tersebut dilakukan Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo bersama Pendiri ESQ Ary Ginanjar Agustian di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (30/9/2026). Sejumlah instrumen disiapkan untuk saling melengkapi, antara lain TalentDNA, Assessment Center, Satu Data Polri, rekam jejak personel, hingga Artificial Intelligence atau AI.
Penggabungan berbagai sumber informasi menjadi penting karena perjalanan karier tidak dapat ditentukan hanya dari satu hasil pengukuran. Kompetensi, pengalaman tugas, catatan kinerja, kondisi psikologis, dan konsistensi sikap perlu dilihat dalam satu gambaran yang utuh.
Integritas Menjadi Unsur Utama
Penguatan integritas menjadi salah satu perhatian utama dalam pembinaan SDM Polri, termasuk pada tingkat Perwira Tinggi atau Pati. Dalam pertemuan itu dipaparkan hasil Assessment Center terhadap 100 Pati Polri, dengan 96 orang telah mengikuti proses assessment.
Penilaian tersebut menggunakan pendekatan objektif dan data yang relevan. Beragam unsur menjadi bahan pertimbangan, mulai dari kompetensi kepemimpinan, pengalaman, performa kerja, sampai rekam jejak selama menjalankan penugasan.
Pemetaan hasil assessment tidak ditempatkan sebagai vonis atas kemampuan seseorang. Fungsinya adalah memberi potret mengenai kapasitas yang sudah kuat sekaligus bidang yang perlu terus ditingkatkan. Area yang mendapat perhatian mencakup integritas, loyalitas pada organisasi, perencanaan, pengorganisasian, kemampuan menentukan keputusan, pengelolaan perubahan, dan pengawasan.
Dedi menekankan bahwa hasil assessment harus dipahami bersama informasi lain yang tersedia dalam sistem pembinaan personel.
“Assessment adalah salah satu instrumen. Hasilnya harus dilihat bersama rekam jejak, perjalanan karier, kinerja, pemetaan psikologi, data Propam, hasil pengawasan Itwasum, serta sumber informasi lainnya,” jelas Dedi.
Pendekatan ini menempatkan assessment sebagai bagian dari proses pengembangan, bukan sekadar alat seleksi. Umpan balik dari hasil pemetaan dapat membantu seorang pemimpin mengetahui kekuatan yang bisa dipertahankan serta kompetensi yang perlu dibangun secara berkelanjutan.
Penyiapan Pemimpin Dimulai dari Pendidikan
Pembinaan calon pemimpin tidak menunggu hingga seorang personel mencapai jenjang Pati. Polri mengarahkan penguatan tersebut sejak masa pendidikan, termasuk ketika peserta didik masih berada di Akademi Kepolisian atau Akpol.
“Negara-negara maju mempersiapkan calon pemimpinnya sejak proses pendidikan. Karena itu, pembenahan sistem pendidikan menjadi salah satu kunci agar organisasi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Dedi.
Orientasi pendidikan ke depan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknis maupun kemampuan mengingat materi. Pembentukan karakter, keteguhan integritas, kemampuan berpikir kritis, kecakapan mengambil keputusan, serta kesiapan menghadapi perubahan juga menjadi unsur yang perlu diperkuat.
Peran tenaga pendidik pun menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dosen, instruktur, dan pengajar diharapkan tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu membentuk karakter peserta didik dalam keseharian pembelajaran.
Ary Ginanjar menyoroti tiga elemen yang saling berkaitan dalam pendidikan: message, method, dan messenger. Isi materi, cara penyampaian, dan kapasitas pengajar dipandang perlu berjalan searah agar pendidikan memberi pengaruh yang lebih utuh.
“Dari sisi message, substansi sudah baik. Method perlu dikembangkan agar pendidikan tidak hanya menyentuh ranah kognitif, tetapi juga afektif. Sedangkan messenger atau tenaga pendidik harus mampu menyampaikan materi yang membentuk karakter dan integritas peserta didik,” kata Ary.
Dengan kerangka tersebut, pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Prosesnya juga diarahkan untuk membangun cara pandang, tanggung jawab, dan kesiapan kepemimpinan bagi personel yang kelak menjalankan tugas di berbagai jenjang organisasi.
TalentDNA Memetakan Potensi Taruna
Dalam forum itu turut disampaikan pemetaan TalentDNA terhadap 282 Taruna Akpol. Pemetaan ini digunakan untuk mengenali karakter, potensi, kekuatan, dan kebutuhan pengembangan masing-masing taruna secara lebih terukur sejak awal.
Data TalentDNA dapat dipadukan dengan informasi pendidikan, prestasi, hasil kerja, assessment, rekam jejak, serta perkembangan kompetensi. Kombinasi tersebut membuka ruang bagi pembinaan yang lebih sesuai dengan profil tiap individu.
ESQ mendorong penerapan talent-based personalization, yakni pola pendidikan dan pengembangan karier yang tidak menyamaratakan kebutuhan seluruh anggota. Setiap personel dapat memiliki kapasitas, kecenderungan, dan area pembelajaran yang berbeda.
“Setiap anggota memiliki nilai dan potensi masing-masing. Karena itu, pengembangan talenta perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan individu,” ujar Ary.
Pendekatan personal ini diharapkan membantu organisasi menyiapkan pemimpin sejak masa pendidikan. Pada saat yang sama, taruna dan personel dapat memperoleh ruang pengembangan yang lebih selaras dengan kekuatan terbaik mereka.
Data dan AI untuk Mendukung Keputusan Karier
Penguatan penilaian dilakukan secara berkesinambungan, baik untuk taruna Akpol maupun Pati Polri. Setiap tahap diarahkan menggunakan indikator yang jelas, data yang relevan, serta metode assessment yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sistem seperti ini, teknologi berperan untuk membantu pengelolaan informasi yang jumlahnya besar dan berasal dari banyak aspek pembinaan. Satu Data Polri, rekam jejak, hasil assessment, serta informasi pendukung lain dapat memberi dasar yang lebih lengkap bagi proses pengembangan karier.
AI ditempatkan sebagai pendukung analisis dalam kerangka tersebut. Pemanfaatannya tetap perlu berjalan bersama penilaian manusia, pengawasan, dan pembacaan konteks atas perjalanan tugas seorang personel. Dengan demikian, teknologi dapat memperkuat objektivitas tanpa mengabaikan faktor integritas dan tanggung jawab kepemimpinan.
Integrasi TalentDNA, Assessment Center, data organisasi, dan teknologi diharapkan menghasilkan pembinaan SDM yang lebih adaptif. Sasaran utamanya bukan hanya menempatkan personel pada jenjang karier, melainkan memastikan setiap anggota memiliki kesempatan berkembang sesuai kemampuan, karakter, dan kebutuhan organisasi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polri dan ESQ Kuatkan Sistem Karier?Polri dan ESQ Kuatkan Sistem Karier is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polri dan ESQ Kuatkan Sistem Karier matter?Polri dan ESQ Kuatkan Sistem Karier matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.