Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sempat Hilang Saat Kapal Terbalik, 2 Nelayan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas

Published Oktober 4, 2026 · Updated Oktober 4, 2026 · By Charles Jones - beritanew.com

Foto : Charles Jones - beritanew.com

Dua Nelayan Ditemukan Meninggal Setelah Perahu Terbalik di Perairan Pamoekan

Beritanew.com – Operasi pencarian terhadap dua nelayan yang hilang akibat perahu terbalik di Perairan Pamoekan, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, telah membuahkan hasil. Kedua korban ditemukan meninggal dunia setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian selama beberapa hari di wilayah pantai dan laut.

Korban yang ditemukan adalah Ending (58) dan Weli (48). Keduanya sebelumnya dilaporkan hilang setelah insiden yang terjadi di perairan sekitar Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, pada Selasa malam, 29 September 2026.

Dengan ditemukannya dua korban tersebut, seluruh orang yang terdampak dalam kecelakaan perahu nelayan itu telah diketahui keberadaannya. Dari tiga orang yang berada dalam perahu, seorang berhasil menyelamatkan diri, sementara dua lainnya ditemukan tidak bernyawa.

Pencarian Berlangsung di Pantai dan Laut

Tim pencarian melibatkan sejumlah unsur yang bekerja bersama untuk menelusuri kemungkinan lokasi korban terbawa arus. Personel dibagi ke dalam dua Search and Rescue Unit atau SRU agar penyisiran dapat menjangkau area yang lebih luas.

SRU 1 bertugas menyisir garis pantai dari titik perahu terbalik ke arah timur dan barat. Jalur pencarian di pesisir tersebut mencakup jarak sekitar empat kilometer. Di sisi lain, SRU 2 melakukan pencarian di perairan dengan memanfaatkan perahu nelayan.

Metode pencarian melalui dua jalur ini diperlukan karena korban dapat berada di wilayah pesisir maupun terbawa ke laut terbuka. Tim terus memperluas pemantauan setelah penyisiran awal belum menemukan seluruh nelayan yang dilaporkan hilang.

Unsur yang terlibat dalam operasi gabungan antara lain Kantor SAR Bandung, TNI, Polri, BPBD, Tagana, PMI, perangkat desa, nelayan setempat, keluarga korban, serta relawan dari unsur SAR lainnya. Keterlibatan warga dan nelayan setempat turut membantu pemantauan kondisi kawasan perairan sekitar Cipatujah.

Weli Ditemukan pada Hari Ketiga

Korban pertama yang ditemukan adalah Weli. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, atau hari ketiga operasi pencarian, tim menemukan jenazahnya sekitar 500 meter dari lokasi awal kejadian.

Penemuan Weli terjadi pada pukul 21.45 WIB. Setelah itu, operasi tidak dihentikan karena satu korban lain, Ending, masih belum ditemukan. Tim melanjutkan penyisiran dengan tetap membagi perhatian antara area daratan pantai dan perairan.

Pencarian pada malam hari menjadi bagian dari upaya untuk memastikan setiap kemungkinan lokasi dapat diperiksa. Kondisi di laut dan perubahan arah arus menjadi faktor yang membuat area pencarian perlu terus dievaluasi selama operasi berlangsung.

Jenazah Ending Ditemukan Sejauh 18 Kilometer

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, tim akhirnya menemukan Ending dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi penemuannya berada sekitar 18 kilometer dari titik perahu terbalik di Perairan Tasikmalaya.

Jenazah Ending ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB dan kemudian dievakuasi pada pukul 17.40 WIB. Jarak antara lokasi awal kejadian dan tempat penemuan memperlihatkan luasnya area yang harus dijangkau selama proses pencarian berlangsung.

“Korban berhasil teridentifikasi atas nama Ending (58) laki-laki, nelayan, yang merupakan salah satu korban dalam pencarian. Selanjutnya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka,” kata Ade Dian Permana.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung, Ade Dian Permana, menyampaikan bahwa seluruh korban telah berhasil ditemukan. Setelah dua nelayan yang sempat hilang ditemukan, operasi SAR gabungan diusulkan untuk ditutup.

“Dengan ditemukannya seluruh korban, Operasi SAR resmi diusulkan untuk ditutup,” kata Ade Dian Permana pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Insiden di Perairan Desa Sindangkerta

Perahu nelayan tersebut terbalik di Perairan Pamoekan, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Informasi mengenai kejadian itu diterima oleh tim pencarian dan pertolongan pada Selasa malam, 29 September 2026.

Setelah menerima informasi insiden, tim gabungan segera menggelar operasi pencarian. Perahu nelayan digunakan sebagai salah satu sarana utama untuk menjangkau titik-titik pencarian di laut, sementara kawasan pesisir diperiksa melalui penyisiran darat.

Kecelakaan di laut dapat menuntut penanganan cepat karena kondisi perairan dapat berubah dalam waktu singkat. Dalam situasi seperti ini, koordinasi antara petugas, nelayan, warga desa, dan keluarga korban menjadi penting untuk mendukung pencarian serta proses evakuasi.

Berakhirnya pencarian membawa kepastian bagi keluarga Ending dan Weli. Setelah proses identifikasi selesai, jenazah Ending diserahkan kepada keluarga untuk dibawa ke rumah duka. Kedua korban menjadi dua nelayan yang meninggal dalam peristiwa perahu terbalik tersebut.

Operasi SAR di Tasikmalaya ini juga menunjukkan peran penting kerja bersama berbagai lembaga dan masyarakat pesisir saat terjadi keadaan darurat di laut. Penyisiran yang dilakukan dari pantai hingga perairan memungkinkan tim menjangkau lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi titik temuan korban.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Sempat Hilang Saat Kapal Terbalik 2 Nelayan?

Sempat Hilang Saat Kapal Terbalik 2 Nelayan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sempat Hilang Saat Kapal Terbalik 2 Nelayan matter?

Sempat Hilang Saat Kapal Terbalik 2 Nelayan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.