Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tak Boleh Lagi ‘Lomba Cepet-cepetan’ di Eskalator Stasiun Duri

Published Oktober 15, 2026 · Updated Oktober 15, 2026 · By Susan Thomas - beritanew.com

Foto : Susan Thomas - beritanew.com

Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi dengan Aturan Keselamatan Baru

Beritanew.com – Penumpang KRL di Stasiun Duri kini diminta tetap berdiri diam saat berada di eskalator. Ketentuan tersebut diterapkan setelah salah satu eskalator di peron 5 sempat bergerak mundur secara tiba-tiba pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dan menyebabkan 12 orang mengalami luka.

Pada Rabu, 14 Oktober 2026, dua eskalator yang menghubungkan peron 5 dengan hall Stasiun Duri telah dapat digunakan kembali. Bersamaan dengan pengoperasian ulang fasilitas itu, penumpang tidak lagi diperbolehkan berjalan cepat atau berlari untuk mendahului orang lain dari sisi kanan.

Sebelumnya, terdapat penanda penggunaan eskalator yang membagi sisi kiri bagi penumpang yang berdiri dan sisi kanan bagi mereka yang berjalan atau mendahului. Penanda tersebut kini telah dilepas. Pengguna diminta menggunakan seluruh ruang pada anak tangga eskalator dengan tertib tanpa berjalan.

Larangan Berjalan Diterapkan demi Keselamatan

Stasiun Duri menjadi salah satu titik penting bagi perjalanan penumpang KRL, terutama bagi orang yang berpindah kereta atau keluar dari area stasiun. Peron 5 dan hall stasiun dihubungkan oleh eskalator yang kerap dipakai penumpang dalam jumlah besar, khususnya saat perjalanan transit berlangsung.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menjelaskan bahwa gangguan pada eskalator berkaitan dengan beban hentakan dari pengguna yang berjalan atau berlari ketika fasilitas tersebut bergerak. Karena itu, pengaturan baru difokuskan pada pengurangan risiko bagi semua penumpang.

“Dengan pertimbangan mengacu pada kajian dan keselamatan, KAI Commuter menegaskan bahwa saat ini pengguna diimbau untuk tertib dengan diam atau tidak berjalan atau berlari ketika berada di eskalator. Tujuannya adalah untuk keselamatan bersama pada saat menggunakan eskalator,” ujar Karina.

Imbauan tersebut berarti eskalator kembali pada fungsi utamanya, yakni membantu penumpang berpindah lantai secara otomatis. Penumpang yang berada di atasnya diharapkan tidak menambah pergerakan dengan langkah cepat, terlebih ketika kondisi arus orang sedang padat.

Bagi pengguna yang memiliki waktu terbatas untuk mengejar perjalanan berikutnya, tangga manual disiapkan sebagai pilihan lain. Karina mengingatkan bahwa fasilitas itu dapat digunakan oleh penumpang yang perlu bergerak lebih cepat.

“Bagi pengguna yang terburu-buru bisa menggunakan tangga manual,” ujar Karina.

Perubahan Kebiasaan bagi Penumpang Transit

Aturan ini menuntut perubahan kebiasaan bagi sebagian pengguna KRL. Selama ini, sisi kanan eskalator lazim dimanfaatkan oleh penumpang yang ingin bergerak lebih cepat, sedangkan sisi lainnya dipakai untuk berdiri. Dengan ketentuan baru, penumpang perlu memperkirakan waktu perpindahan kereta lebih awal dan menyesuaikan jalur yang digunakan di stasiun.

Kebijakan tersebut juga menempatkan keselamatan sebagai prioritas di tengah tingginya kebutuhan mobilitas. Berlari di atas eskalator dapat menciptakan hentakan tambahan serta memperbesar potensi gangguan ketika penumpang bergerak dalam waktu bersamaan. Ketertiban saat naik dan turun menjadi bagian penting agar fasilitas dapat digunakan secara nyaman oleh lebih banyak orang.

Jean, penumpang KRL berusia 40 tahun, menyatakan setuju dengan pengaturan baru itu. Ia memandang eskalator pada dasarnya dibuat untuk membawa orang secara otomatis, bukan dijadikan lintasan untuk mempercepat langkah.

“Pada dasarnya eskalator itu dibuat untuk memindahkan orang secara otomatis ya, jadi bukan sebagai jalur untuk berlomba lomba menaiki tangga,” kata Jean.

Meski mendukung larangan berjalan di eskalator, Jean menilai pengelolaan arus penumpang tetap perlu diperhatikan. Antrean berpotensi terbentuk apabila banyak pengguna tiba pada waktu yang berdekatan, terutama di jalur peron yang menjadi titik perpindahan perjalanan.

“Menurut saya kebijakan dari Stasiun Duri juga mengutamakan bahwa berdiri itu diam merupakan langkah yang tepat asalkan disertai dengan pengelolaan kepadatan penumpang itu sendiri,” ujarnya.

Kekhawatiran soal Antrean dan Waktu Transit

Tidak semua penumpang memiliki pandangan yang sama. Dita, 29 tahun, menyampaikan kekhawatirannya bahwa penerapan dua sisi untuk berdiri dapat membuat penumpukan penumpang semakin besar. Kekhawatiran itu terutama muncul bagi pengguna yang sedang berpindah KRL dan harus mengejar kereta lanjutan.

Waktu transit menjadi perhatian karena penumpang perlu mencapai peron tujuan sebelum kereta berikutnya berangkat. Jika arus menuju eskalator melambat, pilihan menuju tangga manual pun dapat ikut dipadati pengguna lain yang sama-sama ingin bergerak cepat.

“Kalau misal kayak dua-duanya untuk diam, ya itu sih bakalan numpuk banget yang pertama. Terus kayak kita buat yang buru-buru mengejar kereta berikutnya tuh jadi kayak ketinggalan, gitu,” ujar Dita.

Dita juga menyinggung kondisi penumpang yang harus transit dan menghadapi durasi berhenti kereta yang singkat. Ia berharap solusi keselamatan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelancaran perpindahan antarkereta.

Salah satu harapannya adalah penambahan eskalator agar antrean dapat terurai dan kepadatan di jalur perpindahan berkurang. Penambahan fasilitas, dalam pandangannya, bisa memberi ruang yang lebih memadai bagi penumpang yang bergerak dalam arah berbeda.

“Kalau mungkin terkait eskalator, ya karena mungkin ditambah aja sih sebenarnya kalau emang mau,” ujar Dita.

Untuk saat ini, penumpang yang melintas di Stasiun Duri perlu mengikuti pengaturan baru dengan berdiri diam di eskalator dan menggunakan tangga manual apabila membutuhkan jalur alternatif. Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan membantu menjaga keselamatan, mengurangi risiko gangguan, serta membuat perjalanan melalui area transit tetap tertib.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Tak Boleh Lagi Lomba Cepet cepetan?

Tak Boleh Lagi Lomba Cepet cepetan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tak Boleh Lagi Lomba Cepet cepetan matter?

Tak Boleh Lagi Lomba Cepet cepetan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.