Hmm Kepiting Haram Atau Halal Ya?

Kepiting Haram Atau Halal

Kepiting adalah salah satu hewan yang dapat kita temui pada dua habitat. Hewan ini dapat hidup di air dan juga di darat. Binatang yang identik dengan capit. keras ini merupakan hewan yang masuk ke anggota krustasea (memiliki kaki sepuluh dan memiliki nama lain Brachyura. Pada ajaran islam umat mereka dilarang untuk mengkonsumsi makhluk hidup yang bisa bertahan di dua alam. Lalu, kalian tau gak sih kepiting haram atau halal?

Namun, sebelum kita mengetahui lebih lanjut mengenai hewan bercapit ini. Brachyura bisa kita temukan di air asin, tawar dan daratan. Salah satu contohnya adalah Rajungan. Rajungan bisa hidup laut. kemudian untuk jenis yang bisa hidup di perairan tawar disebut dengan Yuyu.

Apakah Kepiting Haram Dalam Islam?

Apakah Kepiting Haram Dalam Islam?

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penduduk yang sebagian besar menganut agama ini. Sesuai dengan ajarannya, banyak sekali ketentuan termasuk ketentuan makanan yang boleh dimakan ataupun tidak. Oleh sebab itu, banyak dari mereka yang masih bingung tentang kepiting haram atau halal. Lalu, Apakah Kepiting Haram Dalam Islam? yuk kita simak penjelasannya.

Perdebatan mengenai kepiting haram atau halal ini dikarenakan perbedaan pendapat oleh para ahli agama. Mengapa demikian? seperti yang kita ketahui binatang bercapit tajam ini bisa hidup di dua kondisi alam. Dalam ilmu fiqih binatang bercangkang tebal tersebut mendapat istilah atau julukan “al-hayawan al-barma’i”

Menurut islam juga terdapat beberapa mazhab, tentunya banyak perbedaan dalil mengenai kepiting haram atau halal. Pada mazhab Maliki dan juga Hambali, para ulama menyatakan bahwa mengkonsumsi daging tersebut  adalah Halal. Oleh karena itu, para umat muslim yang berpegang teguh dengan mazhab tersebut menganggap jika memakan daging Brachyura diperbolehkan.

Namun, pada mazhab Hanafi dan Syafi’i yang disampaikan oleh para ulama jika mengkonsumsi Brachyura adalah haram. Pada mazhab hanafi berpendapat jika satwa laut yang hanya boleh dimakan hanya ikan. Oleh sebab itu, umat muslim yang berpegang teguh dengan mazhab ini hanya akan memakan ikan dan tidak dengan binatang laut lainnya.

Sedangkan pada mazhab syafi’i berpendapat bahwa binatang dengan capit ini termasuk ke dalam bagian Khabaits, yaitu binatang yang menjijikan. oleh karena itu, untuk mengambil sikap tentang dalil ini, hendaklah kita sebagai seorang muslim yang baik dan tekun dengan ajaran Allah Swt. Sebaiknya, menjalani perbedaan ini sesuai dengan dalill atau mazhab yang diyakini.

Agar teman-teman lebih aman tanpa harus bingung mengenai permasalahan ini, aku mau kasih saran nih untuk kalian. Mungkin kalian bisa mengkonsumsi binatang bercangkang keras ini yang hanya hidup di laut dan tidak bisa bertahan di dua alam.

Apakah Kepiting Halal Menurut MUI?

Apakah Kepiting Halal Menurut MUI?

seperti isi kandungan Al-Quran yang terkandung dalam surat al-baqarah ayat 168 yaitu seluruh manusia diwajibkan untuk makan makanan baik dan juga halal yang disediakan di bumi. Jangan sampai kalian mengikuti jejak setan yang menjadi musuh nyata bagi kehidupan manusia. Selanjutnya, Apakah Kepiting Halal Menurut MUI? Hm, setelah membahas tentang dalil menurut islam, yuk kita bahas mengenai pendapat MUI.

Menurut MUI, Brachyura ini halal dan boleh dimakan. Mengapa demikian? Brachyura dapat bertahan dengan cara bernapas melalui insang. Oleh sebab itu, hewan tersebut berhabitat  dan hanya bertelur di air. setelah itu, MUI juga sudah menetapkan jika Brachyura halal selama tidak menyebabkan efek yang berbahaya bagi yang mengkonsumsinya.

Apa Hukum Makan Hewan Yang Hidup di Dua Alam?

Apa Hukum Makan Hewan Yang Hidup di Dua Alam?

Binatang yang dapat hidup pada dua alam sekaligus disebut dengan amphibi. Lalu, apa hukum makan hewan yang hidup di dua alam? para ulama memiliki pendapat atau argumen yang berbeda-beda.

  • ulama hambali menetapkan jika mengkonsumsinya termasuk haram. kecuali Brachyura karena tidak mempunyai darah.
  • ulama malikiyah : menetapkan bahwa mengkonsumsinya adalah halal. baik itu katak, penyu, dan sebagainya.
  • ulama syafi’i : membolehkan dengan mutlak kecuali dengan katak.
  • Ulama Hanafiyah : menetapkan jika semua makhluk hidup yang berada di dua lingkungan adalah Haram

Namun, dalam Al-quran dan juga Hadits sudah dijelaskan secara tegas perihal keharaman hewan yang hidup di laut dan darat. Oleh sebab itu, mengkonsumsi satwa tersebut kembali ke dalam keyakinan dan kaidah masing-masing

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.