Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Lagi-lagi Gagal Raih Nobel Perdamaian, Trump Ngamuk!

Published Oktober 10, 2026 · Updated Oktober 10, 2026 · By Michael Gonzalez - beritanew.com

Foto : Michael Gonzalez - beritanew.com

Trump Kritik Nobel Perdamaian Setelah Penghargaan 2026 Jatuh kepada Navi Pillay

Beritanew.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman keras terhadap Nobel Perdamaian setelah penghargaan tahun 2026 diberikan kepada Navi Pillay, hakim hukum internasional asal Afrika Selatan. Dalam kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, Jumat (9/10), Trump menyatakan penghargaan tersebut tidak lagi memiliki kredibilitas.

Reaksi itu datang beberapa jam sesudah Komite Nobel mengumumkan Pillay sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026. Trump, yang berulang kali memperlihatkan keinginannya untuk memperoleh penghargaan tersebut sepanjang masa kepresidenannya, menyebut pilihan Komite Nobel sebagai keputusan yang mempermalukan Norwegia.

“Penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas selamanya, akibat ulah segelintir penganut ideologi radikal yang antidemokrasi dan sejatinya merupakan musuh peradaban,” kata Trump.

Dalam pidatonya di hadapan para pendukung, Trump mengaku tidak mengenal Pillay dan menyebutnya sebagai figur misterius. Ia juga menyatakan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada Amerika Serikat melalui dirinya sebagai presiden.

“Saya tidak pernah mendengar tentang orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya,” ujar Trump saat berbicara di Syracuse.

Trump Menyinggung Klaim Perannya dalam Sejumlah Konflik

Trump menggunakan momen kampanye itu untuk mengangkat sejumlah konflik internasional yang, dalam klaimnya, telah ia bantu redakan. Ia menyebut telah mencegah perang antara Korea Utara dan Korea Selatan, Jepang dan Korea Utara, serta China dan Taiwan. Namun, ia tidak memberikan bukti untuk mendukung pernyataan tersebut.

Ia kemudian mengarahkan kritik kepada Norwegia, negara tempat Komite Nobel Norwegia berkedudukan. Trump menggambarkan keputusan pemberian hadiah kepada Pillay sebagai noda terhadap negara itu dan pihak yang mengambil keputusan.

“Ini adalah noda yang tak terhapuskan bagi negara Norwegia dan orang-orang yang mengambil keputusan yang begitu tercela dan memalukan itu,” sebut Trump.

“Dan kita tidak akan melupakan hal ini, Norwegia,” tandasnya.

Ucapan tersebut memperpanjang kekecewaan Trump atas Nobel Perdamaian. Penghargaan itu selama ini dipandang sebagai salah satu pengakuan internasional paling bergengsi bagi upaya perdamaian, diplomasi, hak asasi manusia, dan penguatan kerja sama antarnegara.

Rekam Jejak Navi Pillay di Hukum Internasional

Navi Pillay menerima penghargaan tahun ini atas kiprahnya yang panjang dalam memperjuangkan akuntabilitas atas pelanggaran berat hukum internasional. Kariernya mencakup penanganan perkara kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Ketua Komite Nobel Norwegia di Oslo, Jorgen Watne Frydnes, menilai peran Pillay sangat penting dalam memastikan pelaku kejahatan paling berat tetap dapat dimintai pertanggungjawaban. Dewan juri Nobel juga menekankan konsistensi Pillay dalam membela prinsip hukum universal serta keteguhan moralnya sepanjang perjalanan kariernya.

Pillay pernah menjadi hakim di Mahkamah Pidana Internasional atau ICC. Ia kini bertugas sebagai hakim di Mahkamah Internasional atau ICJ dalam perkara yang berkaitan dengan tuduhan genosida terhadap Myanmar. Pengalaman itu menempatkannya di pusat sejumlah isu hukum internasional paling sensitif dalam beberapa dekade terakhir.

Ia juga pernah memimpin pengadilan genosida Rwanda. Dalam kapasitas lain, Pillay memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB atau COI yang menyimpulkan bahwa genosida sedang berlangsung di Jalur Gaza. Latar belakang tersebut menjadi bagian penting dari alasan penghargaan Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepadanya.

Bagi pembaca, penghargaan ini menyoroti peran hukum internasional sebagai jalur untuk menilai pelanggaran berat, terutama ketika konflik bersenjata memunculkan dugaan kejahatan terhadap warga sipil. Nobel Perdamaian tidak hanya kerap diberikan kepada perunding atau pemimpin politik, tetapi juga kepada tokoh yang memperkuat perlindungan hukum, hak asasi manusia, dan pertanggungjawaban publik.

Gurauan Pillay Usai Pengumuman Nobel

Setelah pengumuman kemenangan, Pillay menyampaikan candaan yang merujuk pada Trump. Dalam sebuah video yang dibagikan Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard melalui media sosial X, Pillay terlihat menerima sambutan meriah di Nuremberg, termasuk standing ovation.

“Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah lagi, saya mungkin akan berbagi penghargaan ini dengan Trump,” kata Pillay.

Gurauan itu muncul di tengah sorotan terhadap reaksi Trump atas hasil Nobel tahun ini. Kontras antara perayaan di Nuremberg dan kemarahan dalam kampanye politik di New York memperlihatkan bagaimana penghargaan tersebut kembali menjadi bagian dari percakapan politik internasional.

Pada tahun sebelumnya, Nobel Perdamaian diberikan kepada tokoh oposisi Venezuela Maria Corina Machado. Setelah itu, Machado menyerahkan medali emas Nobel miliknya kepada Trump. Peristiwa tersebut menambah latar hubungan Trump dengan penghargaan yang terus ia dambakan, meski Nobel Perdamaian 2026 akhirnya diberikan kepada Pillay.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Lagi lagi Gagal Raih Nobel Perdamaian?

Lagi lagi Gagal Raih Nobel Perdamaian is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Lagi lagi Gagal Raih Nobel Perdamaian matter?

Lagi lagi Gagal Raih Nobel Perdamaian matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.