Presiden Iran Bilang Timur Tengah Tak Butuh AS Jadi ‘Polisi Kawasan’
Iran Tegaskan Timur Tengah Tidak Memerlukan Peran AS sebagai “Polisi Kawasan”
Beritanew.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa keamanan Timur Tengah seharusnya tidak ditentukan oleh Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikannya ketika konflik di kawasan telah berlangsung lebih dari enam bulan dan persaingan antara Teheran dengan Washington atas Selat Hormuz masih terus memanas.
Berbicara di sela KTT BRICS di India pada Sabtu, 12 September 2026, Pezeshkian menyampaikan pandangan tersebut dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Ia menilai negara-negara yang berada di kawasan memiliki kapasitas dan tanggung jawab utama untuk menjaga stabilitas wilayahnya sendiri.
Kami tidak membutuhkan polisi kawasan.
Pezeshkian menekankan bahwa kedaulatan dan keselamatan regional tidak dapat dipisahkan dari peran negara-negara Timur Tengah. Dalam pandangannya, campur tangan kekuatan dari luar kawasan bukanlah jawaban bagi persoalan keamanan yang sedang dihadapi.
Integritas wilayah dan keamanan kawasan ini hanya dapat dijamin oleh para pemain utamanya dan negara-negara yang berada di dalamnya.
Konflik Bermula Sejak Akhir Februari
Iran berada dalam situasi perang sejak 28 Februari. Konflik itu pecah setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Kematian Khamenei menjadi titik balik yang mendorong eskalasi luas di kawasan Timur Tengah.
Setelah serangan tersebut, Teheran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah di Timur Tengah. Iran juga mengambil langkah besar dengan memblokade Selat Hormuz, jalur laut yang memiliki arti penting bagi perdagangan energi dunia.
Sebelum perang, perairan itu dapat dilewati kapal dari berbagai negara. Sekitar seperlima pasokan minyak global sebelumnya melintasi Selat Hormuz. Posisi geografisnya membuat setiap gangguan di jalur tersebut segera berpengaruh terhadap distribusi energi serta perhatian pasar internasional.
Namun, keadaan berubah sejak blokade diberlakukan. Pemerintah Iran kini mensyaratkan kapal yang hendak melintas untuk mendapatkan izin. Teheran juga sedang mengkaji kemungkinan penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut.
Perebutan Pengaruh di Selat Hormuz
Selat Hormuz telah menjadi salah satu pusat ketegangan paling penting dalam perang yang berlangsung. Iran dan Amerika Serikat sama-sama berupaya menunjukkan pengaruh atas jalur perairan vital itu, sementara aktivitas pelayaran internasional menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan masa sebelum konflik.
Kapal yang tidak mengikuti ketentuan Iran kerap menjadi sasaran serangan. Di sisi lain, Amerika Serikat secara berkala melancarkan pengeboman terhadap wilayah pesisir Iran. Serangan-serangan tersebut dipandang sebagai upaya untuk menantang kendali Teheran atas akses ke Selat Hormuz.
Perselisihan ini tidak hanya berkaitan dengan lalu lintas kapal. Selat Hormuz juga menjadi simbol perebutan pengaruh politik, militer, dan ekonomi di Timur Tengah. Bagi Iran, penguasaan atau kemampuan mengatur akses di selat tersebut menjadi bagian dari posisi strategisnya. Bagi pihak lain, kelancaran pelayaran dipandang penting untuk menjaga arus pasokan energi.
Akibat konflik yang belum mereda, harga minyak mengalami tekanan ke atas. Pada pekan ini, harga minyak telah melampaui US$100 per barel. Kenaikan tersebut menunjukkan bagaimana ketidakpastian keamanan di jalur pelayaran utama dapat langsung memengaruhi pasar energi.
Perdamaian Disebut Tetap Menjadi Prioritas
Meski menyampaikan kritik keras terhadap peran Amerika Serikat di kawasan, Pezeshkian mengatakan Iran tidak menghendaki perang berlanjut. Ia menempatkan perdamaian sebagai tujuan yang tetap dikejar Teheran, meskipun Iran menyatakan rakyatnya telah mengalami berbagai ketidakadilan.
Terlepas dari segala ketidakadilan yang dialami rakyat kami, kami tidak menginginkan perang atau kelanjutannya. Perdamaian tetap menjadi prioritas kami.
Pernyataan itu memperlihatkan dua pesan yang disampaikan Iran secara bersamaan: penolakan terhadap dominasi kekuatan asing di Timur Tengah dan keinginan untuk mengakhiri konflik. Namun, situasi di lapangan masih memperlihatkan ketegangan tinggi, terutama karena blokade Selat Hormuz belum berakhir dan serangan di kawasan terus terjadi.
Bagi negara-negara di Timur Tengah, perang berkepanjangan membawa dampak yang melampaui batas negara. Gangguan keamanan dapat memengaruhi pelayaran, perdagangan, harga energi, serta hubungan diplomatik antarnegara. Karena itu, seruan Pezeshkian mengenai peran negara-negara kawasan menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang siapa yang seharusnya menentukan arah keamanan regional.
Dengan Selat Hormuz tetap berada dalam pusat konflik, setiap perkembangan diplomatik maupun militer akan terus menjadi perhatian dunia. Jalur laut tersebut bukan sekadar perairan sempit di antara Iran dan negara-negara Teluk, melainkan salah satu titik yang sangat menentukan bagi kestabilan energi dan keamanan internasional.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Presiden Iran Bilang Timur Tengah Tak Butuh?Presiden Iran Bilang Timur Tengah Tak Butuh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Presiden Iran Bilang Timur Tengah Tak Butuh matter?Presiden Iran Bilang Timur Tengah Tak Butuh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.