Main Agenda: Hasto Ungkap Filosofis Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Demi Pelurusan Sejarah
Hasto Ungkap Filosofis Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Demi Pelurusan Sejarah
Main Agenda - Dalam upaya memperjelas sejarah, Main Agenda menjadi fokus utama dalam diskusi terbaru oleh Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. Ia menjelaskan bahwa lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" yang kini diaransmen ulang oleh Prananda Prabowo, Kepala Situation Room PDIP, bertujuan untuk meremajakan makna istilah Marhaen yang selama ini dikaitkan dengan stigma negatif. Lagu ini dianggap sebagai alat penting untuk membangkitkan kesadaran politik dan ekonomi rakyat, khususnya dalam mengingat kembali prinsip-prinsip keadilan dan kebangsaan.
Filosofi Lagu yang Terkait dengan Ideologi Marhaenisme
Main Agenda mengungkap bahwa lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" bukan sekadar musik, tetapi menjadi simbol perjuangan nasional. Dalam wawancara terbarunya, Hasto menegaskan bahwa Marhaenisme, yang dipelopori oleh Bung Karno, merupakan konsep sosial yang mengedepankan kebebasan rakyat dari dominasi sistem kapitalistik. Lagu ini diperkenalkan kembali sebagai bentuk pengingat akan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan nasional.
"Melalui lagu ini, kita bisa menegaskan bahwa Marhaenisme adalah tentang keadilan sosial, keterlibatan langsung warga negara dalam pemerintahan, serta perjuangan untuk memerdekakan diri dari struktur penjajahan," ungkap Hasto.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam konteks politik saat ini, terutama dalam memperkuat ideologi partai sebagai wadah kepentingan rakyat kecil.
Sejarah dan Peran Lagu dalam Peneguhan Identitas Politik
Main Agenda juga menyoroti bagaimana lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" terus diperlukan dalam upaya memperjelas identitas politik PDI Perjuangan. Sejak masa Orde Baru, konsep Marhaenisme sering disalahartikan sebagai ideologi komunis, padahal sebenarnya ia mewakili semangat rakyat yang ingin mengambil peran aktif dalam menegakkan keadilan. Lagu ini menjadi sarana untuk menegaskan bahwa Marhaenisme bukanlah ideologi tunggal, tetapi bagian dari kepribadian bangsa Indonesia.
Dalam acara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Sekolah Partai PDIP, Hasto menjelaskan bahwa pemutaran lagu ini bertujuan membangkitkan semangat kritis dan partisipasi rakyat. Ia menekankan bahwa Marhaenisme memiliki akar dalam kehidupan sosial sehari-hari, seperti kehidupan petani, buruh, dan masyarakat kota yang mencari perubahan.
Peran Lagu dalam Peneguhan Komitmen Partai
Dengan Main Agenda yang menjadi landasan, PDI Perjuangan menganggap lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" sebagai bagian dari strategi memperkuat jati diri partai. Hasto menyampaikan bahwa lagu ini membantu membangun kesadaran bahwa Partai Nasional Indonesia (PNI) dan PDIP memiliki kepentingan yang sama, yakni memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, lagu ini juga diharapkan mendorong masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam politik.
Menurut Hasto, tantangan global seperti krisis pangan dan perubahan iklim memperkuat kebutuhan akan Marhaenisme sebagai dasar ideologi politik. Ia menegaskan bahwa generasi muda petani harus memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari perubahan ekonomi dan politik. Dengan demikian, lagu ini bukan sekadar nostalgia, tetapi menjadi alat kontemporer untuk membangun kesadaran kolektif.
Strategi Partai untuk Memperkuat Filosofi Marhaenisme
PDIP menilai bahwa pelurusan sejarah tentang Marhaenisme sangat penting untuk menjaga keutuhan ideologi partai. Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP, menambahkan bahwa pihaknya akan fokus pada tiga pilar utama: memperkuat budaya Melayu, menanamkan nilai sejarah, dan menentukan arah ideologi masa depan. Dengan Main Agenda sebagai tumpuan, PDIP berharap mampu menjawab tantangan-tantangan politik yang muncul di era kini.
Di sisi lain, Ahmad Muzani menginstruksikan para kader PDIP untuk bekerja lebih giat di Jateng. Ia menekankan bahwa Main Agenda tidak hanya berkaitan dengan peringatan sejarah, tetapi juga sebagai alat untuk memperkuat basis suara partai dalam pemilu dan pilkada. Dengan demikian, lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" menjadi bagian dari kampanye politik yang berbasis pada nilai-nilai sosial dan ekonomi rakyat.