Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Important Visit: Pemkab Probolinggo Jadikan Yadnya Kasada 2026 Momentum Kuat Pelestarian Budaya Tengger

Published Mei 31, 2026 · Updated Mei 31, 2026 · By Anthony Taylor

Pemkab Probolinggo Jadikan Yadnya Kasada 2026 Momentum Kuat Pelestarian Budaya Tengger

Important Visit menjadi tema utama kunjungan resmi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam merayakan Yadnya Kasada 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai momentum strategis untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya Tengger, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat setempat. Dalam upacara pembukaan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Probolinggo, Akhmad Arief Hermawan CM, menegaskan bahwa pentingnya pelestarian budaya tidak hanya terletak pada ritual, tetapi juga pada partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Pemkab Probolinggo memandang bahwa Yadnya Kasada 2026 tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga menjadi ajang promosi budaya yang menarik perhatian luas.

Yadnya Kasada: Simbol Spiritual dan Budaya

Yadnya Kasada merupakan ritual tahunan yang melibatkan sejumlah besar masyarakat Tengger di Probolinggo. Rangkaian acara ini terdiri dari dua bagian utama: prosesi keagamaan yang menjadi inti dan serangkaian kegiatan pendukung yang memperkaya pengalaman budaya. Pada hari pelaksanaan, Jumat (29/5), upacara dimulai dengan Mendak Tirta dan Atur Suguh, dua tahapan yang menunjukkan keimanan terhadap alam dan leluhur. Aktivitas selanjutnya akan berlangsung di Pawedalan Pura Luhur Poten, sebelum mencapai puncaknya pada 1 Juni 2026, Senin dini hari, saat sesaji dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

“Yadnya Kasada adalah penutupan dari perjalanan spiritual, sekaligus pengukuhan budaya Tengger sebagai warisan hidup yang dinamis,” ungkap Akhmad Arief Hermawan CM.

Dalam ritual ini, masyarakat Tengger menyampaikan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan leluhur. Upacara melarung sesaji ke kawah dianggap sebagai simbol ketuhanan dan keterhubungan antara manusia dengan alam semesta. Selain itu, acara ini juga menjadi sarana edukasi untuk melestarikan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Kontribusi Pendidikan dalam Budaya Tengger

Pemkab Probolinggo berkomitmen mengintegrasikan budaya Tengger ke dalam sistem pendidikan. Melalui kerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan serangkaian kegiatan pendidikan berbasis budaya. Workshop dan pelatihan pembelajaran akan berlangsung pada 3 Juni 2026 di SMPN 1 Sukapura, melibatkan pendidik dari tingkat SD hingga SMP. Inisiatif ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang makna Yadnya Kasada, serta menjadikan budaya Tengger sebagai bagian dari kurikulum sehari-hari.

Dalam pidatonya, Akhmad Arief Hermawan CM menekankan bahwa pendidikan memiliki peran sentral dalam mewariskan budaya. “Dengan melibatkan generasi muda, kita dapat memastikan budaya Tengger tidak hanya dipahami, tetapi juga dijaga sebagai aset nasional,” tambahnya. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya budaya dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mengembangkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.

Perayaan yang Menarik Perhatian Nasional

Yadnya Kasada 2026 tidak hanya menarik minat masyarakat setempat, tetapi juga menjadi momen penting dalam menyambut pengunjung dari berbagai daerah. Acara ini menawarkan pengalaman unik yang menggabungkan ritual spiritual, seni tradisional, dan kegiatan edukasi. Dengan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, Pemkab Probolinggo menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Ini menciptakan keterlibatan yang lebih luas, termasuk dari para wisatawan yang berkesempatan merasakan keunikan budaya Tengger.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Probolinggo juga menyoroti peran media dalam menyebarkan pesan pelestarian budaya. “Dengan menggandeng media, kita dapat memperkuat eksistensi Yadnya Kasada sebagai bagian dari identitas nasional,” jelasnya. Selain itu, acara ini diharapkan menjadi ajang promosi wisata budaya yang menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjaga harmoni antara tradisi dan modernitas. Partisipasi sektor swasta dan komunitas adat turut menjadi faktor penunjang keberhasilan upaya ini.

Peran Tokoh Adat dalam Mempertahankan Budaya

Sebagai bagian dari important visit, Pemkab Probolinggo juga mengadakan pengukuhan lima tokoh sebagai warga kehormatan sesepuh Tengger. Acara ini dihelat di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, pada 31 Mei 2026. Pengukuhan tersebut memberikan penghargaan atas peran tokoh adat dalam menjaga keberlanjutan budaya Tengger. “Kita berharap para sesepuh ini menjadi penginspirasi bagi generasi muda,” kata Akhmad Arief Hermawan CM.

Para tokoh adat dianggap sebagai penjaga nilai-nilai tradisional yang tak bisa tergantikan. Dengan adanya pentahapan pengukuhan ini, Pemkab Probolinggo mencoba menguatkan ikatan antara tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga melalui kerja sama yang lebih terstruktur. Kegiatan ini sekaligus menjadi contoh bagaimana budaya dapat dijaga dengan cara yang modern dan inklusif.