Jumlah Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Gaza Capai 72.736 Orang
Jumlah Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Gaza Capai 72.736 Orang
Jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza terus meningkat, mencapai angka 72.736 orang pada akhir bulan Mei 2025. Angka ini dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina, yang menyatakan bahwa jumlah korban luka juga melonjak menjadi 172.535 orang. Data tersebut dihimpun dari laporan fasilitas medis yang masih beroperasi di seluruh wilayah, termasuk rumah sakit yang menjadi sasaran serangan militer. Dalam 24 jam terakhir, terdapat lima korban tewas dan lima belas korban luka, menurut data terkini dari sumber medis lokal.
Perkembangan Terbaru Korban Tewas
Sebelum gencatan senjata yang diumumkan pada 11 Oktober 2025, pasukan Israel menguasai sekitar 53 persen wilayah Jalur Gaza, seperti diungkapkan oleh penyiar resmi. Namun, setelah gencatan senjata berlaku, jumlah korban tewas akibat agresi Israel mencapai 850 orang, sementara korban luka meningkat menjadi 2.433. Pihak berwenang juga mencatat adanya 770 jasad yang ditemukan dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara.
Dokter dan saksi mata melaporkan kejadian mengerikan setelah pasukan Israel menyerang Rumah Sakit Al-Ahli. Serangan tersebut mengakibatkan kematian 30 orang dan cedera ratusan pasien, termasuk anak-anak. Fasilitas medis tersebut mengalami kerusakan parah, dengan sebagian kendaraan di halaman rumah sakit hancur akibat ledakan.
Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin parah. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengingatkan bahwa kebutuhan bantuan di wilayah ini melebihi kapasitas yang tersedia, terutama akibat pembatasan akses yang ketat. Selain itu, krisis air bersih terus mengancam, sementara pasokan bahan makanan sangat terbatas. Wilayah ini membutuhkan 450 ton tepung per hari, tetapi ketersediaannya masih kurang, sehingga mengintensifkan tekanan terhadap populasi yang sudah terpuruk.
Dampak Agresi Israel di Jalur Gaza
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI telah menyalurkan 74.228 porsi makanan buka puasa bagi warga Palestina selama bulan Ramadhan 1447 H, menunjukkan upaya kemanusiaan dalam kondisi darurat. Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa krisis pasokan medis semakin parah, mengancam nyawa ribuan pasien. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah korban tewas akibat agresi Israel terus meningkat, menunjukkan intensitas serangan yang tidak berkurang.
Korban tewas akibat agresi Israel bukan hanya angka yang mencerminkan kerusakan fisik, tetapi juga simbol ketidakstabilan politik dan situasi darurat yang berkepanjangan. Jumlah korban tewas akibat agresi Israel ini memicu kekhawatiran internasional terhadap mekanisme distribusi bantuan yang saat ini berlaku. Meski negosiasi gencatan senjata sedang berlangsung, serangan tetap berlanjut, dengan korban tewas sebanyak 52 orang dan korban luka 203 orang pada hari sebelumnya.
Warga Palestina terus melarikan diri dari zona utara ke selatan, seperti yang terjadi pada 25 Mei 2025. Mereka membawa barang-barang pribadi sambil berusaha menyelamatkan diri dari serangan udara. Banyak korban juga terjebak di bawah reruntuhan atau di jalan-jalan karena akses ambulans serta tim penyelamat masih terhambat. Pemerintah dan organisasi internasional terus berupaya menjangkau warga yang terluka, tetapi tantangan logistik dan keamanan tetap menjadi hambatan utama.
Selain korban tewas akibat agresi Israel, dampak ekonomi dan psikologis juga terasa nyata. Banyak bangunan pendidikan dan tempat ibadah hancur, mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Penyiar resmi mencatat bahwa pasukan Israel telah menghancurkan sejumlah besar infrastruktur, termasuk jalan raya dan jembatan, yang sebelumnya menjadi jaringan kehidupan masyarakat. Pengungsian massal dan kekacauan di sekitar wilayah yang terkena serangan memperparah kesulitan untuk memulihkan situasi.