Key Discussion: Belajar dari China, Indonesia Perkuat Program Pengentasan Kemiskinan
Indonesia Belajar Strategi Pengentasan Kemiskinan dari Tiongkok
Key Discussion menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat program pengentasan kemiskinan Indonesia. Pemerintah Indonesia, melalui Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Riza Patria, menekankan pentingnya belajar dari pengalaman Tiongkok dalam menangani masalah kemiskinan secara sistematis. Kemitraan global yang dibangun bersama Tiongkok dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kecepatan dan konsistensi pembangunan pedesaan, sekaligus memperkuat koordinasi antarlembaga.
Kemitraan Global dalam Pengentasan Kemiskinan
Pertemuan pertama Komite Aliansi Kemitraan Global untuk Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan (GPPAD) menjadi platform untuk diskusi Key Discussion mengenai pengalaman Tiongkok sebagai negara yang berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Tiongkok, sebagai ketua forum, memperlihatkan metodologi yang menggabungkan kebijakan ekonomi, infrastruktur, dan pendidikan. "Indonesia memiliki potensi besar, tetapi butuh strategi yang lebih terarah untuk mengatasi tantangan berat," ujar Riza. Ia menegaskan bahwa Key Discussion ini membantu mengidentifikasi celah kebijakan yang harus diisi dengan solusi dari pengalaman Tiongkok.
"Kesuksesan Tiongkok dalam mengentaskan kemiskinan tidak hanya berkat program, tetapi juga sistem penyelesaian masalah yang terpadu. Sistem ini melibatkan pengawasan partisipatif, efisiensi administrasi, dan respons cepat terhadap perubahan situasi,"
kata Riza dalam Key Discussion yang berlangsung di Beijing. Menurutnya, kebijakan Tiongkok mencakup program kependudukan, pengembangan teknologi, dan manajemen sumber daya secara terintegrasi, yang menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam menjalankan Key Discussion mereka.
Program Pemerintah dan Kerja Sama dengan Tiongkok
Dalam Key Discussion terkini, pemerintah Indonesia menyebutkan beberapa inisiatif nasional, seperti Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan Merah Putih, dan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, sebagai bagian dari upaya menyalurkan manfaat pembangunan ke masyarakat pedesaan. Riza menegaskan bahwa Key Discussion ini tidak hanya fokus pada peningkatan perekonomian, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup melalui pendekatan holistik.
Tiongkok telah membuktikan keberhasilan mereka dalam mengangkat 800 juta penduduk dari kemiskinan sejak 1970 hingga 2021. Dalam periode 2013-2020 saja, negara tersebut berhasil membawa 98,99 juta warga pedesaan keluar dari kemiskinan ekstrem, dengan rata-rata lebih dari 10 juta orang per tahun. Capaian ini menunjukkan bahwa Key Discussion Tiongkok mengintegrasikan teknologi, pendidikan, dan manajemen risiko dalam proses pengentasan kemiskinan. Indonesia, dengan Key Discussion mereka, berharap mengadopsi model serupa untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan di negara ini.
Sebagai bagian dari Key Discussion, kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok terus diperkuat melalui program pelatihan kepala desa. Pemerintah Indonesia mengirimkan sejumlah besar kepala desa ke Beijing setiap tahun, dengan jumlah peserta meningkat dari 25 orang pada tahun lalu menjadi 27 orang pada tahun ini. Riza menyatakan bahwa program ini membuka kesempatan untuk memahami sistem manajemen tata kelola yang efektif di Tiongkok. "Kunjungan dari Tiongkok ke Indonesia juga memberikan wawasan tentang kebijakan yang bisa disesuaikan dengan kondisi lokal," tambahnya.
Key Discussion yang berlangsung dalam forum GPPAD juga menyoroti peran organisasi internasional dan lembaga swasta dalam mendukung pembangunan daerah. Tiongkok, sebagai contoh, melibatkan banyak mitra dalam program pengentasan kemiskinan mereka, termasuk perusahaan besar dan institusi pendidikan. Indonesia, dengan Key Discussion mereka, berencana mengembangkan jaringan kemitraan serupa untuk memperkuat keberlanjutan program pengentasan kemiskinan. "Kolaborasi ini membuka peluang untuk berbagi teknologi dan sumber daya secara lebih luas," jelas Riza.
Kemitraan global yang dirintis oleh Tiongkok dan 53 negara lainnya, serta sembilan organisasi internasional, menunjukkan komitmen untuk menciptakan model pembangunan yang adil. Key Discussion dalam forum ini tidak hanya terbatas pada pengalaman Tiongkok, tetapi juga pada pertukaran pengetahuan dengan negara-negara berkembang. Riza menyoroti bahwa Indonesia akan terus berpartisipasi aktif dalam Key Discussion ini untuk memperoleh manfaat yang maksimal dari kerja sama dengan negara-negara lain.