Key Discussion: Mahasiswa UIN KHAS Jember Mendalami Nilai Perjuangan NU dalam Kajian Poskolonial
Key Discussion: Mahasiswa UIN KHAS Jember Kaji Peran Nahdlatul Ulama dalam Sejarah Kolonial
Key Discussion - Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Kajian Poskolonial UIN KHAS Jember melakukan studi mendalam tentang nilai-nilai perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam konteks sejarah kolonial. Kegiatan ini diadakan pada hari Sabtu, 7 Juni, di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Surabaya, dengan jumlah peserta sebanyak 41 orang yang didampingi dosen pembimbing, Kautsar Pratama. Mereka diterima dengan sambutan hangat oleh Riadi Ngasiran, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jatim, yang menyampaikan harapan bahwa studi ini akan menginspirasi generasi muda untuk lebih menghargai peran sejarah NU.
Nilai Perjuangan NU dalam Kemerdekaan
Dalam Key Discussion, Riadi Ngasiran menekankan bahwa NU bukan hanya sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi pilar penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejarah nasional sering kali mengabaikan kontribusi para ulama dan kiai pesantren dalam mendirikan serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perjuangan NU mencakup masa sebelum pendirian organisasi tersebut, periode perang kemerdekaan, hingga upaya membangun bangsa pasca-kemerdekaan.
Sejarah perjuangan NU menunjukkan bagaimana nilai-nilai seperti persatuan, tolong-menolong, dan kasih sayang antar sesama manusia menjadi semangat utama dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pesan Muqaddimah Qanun Asasi NU, yang disampaikan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, menjadi referensi utama dalam Key Discussion ini. Menurut KH Hasyim Asy’ari, pesan tersebut menegaskan bahwa persatuan adalah kunci untuk melawan ancaman kolonial dan menjaga kohesi masyarakat.
Konsistensi Peran NU dalam Gerakan Antikolonial
Key Discussion kali ini juga menyoroti konsistensi NU dalam gerakan antikolonial dari masa pemerintahan Hindia Belanda hingga revolusi nasional. Dalam masa pemerintahan kolonial, NU aktif menjadi penggerak dalam membangun perlawanan terhadap penjajahan, berdasarkan prinsip Qanun Asasi NU yang menjadi dasar perjuangan para ulama. Salah satu momen penting adalah Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung tahun 1965, yang diinisiasi oleh KH Achmad Sjaichu dan KH Idham Chalid.
Peran NU dalam gerakan antikolonial juga terlihat dalam upaya memperkuat identitas nasional. Di masa pendudukan Jepang, lembaga ini melakukan diplomasi dengan membangun konsensus antar kelompok masyarakat, yang dianggap sebagai strategi kecil namun efektif dalam mempersiapkan kemerdekaan. Dalam Key Discussion, peneliti menyoroti bagaimana perjuangan NU tidak hanya terbatas pada masa revolusi, tetapi juga terus relevan hingga masa kini, khususnya dalam menangani isu terorisme dan mempromosikan Islam yang antikekerasan.
Metodologi Penelitian dan Perspektif Baru
Dalam Key Discussion, mahasiswa menggunakan pendekatan kajian poskolonial untuk memperbaiki narasi sejarah yang sebelumnya cenderung mengabaikan peran ulama. Kajian ini memperkenalkan perspektif baru dengan menekankan kontribusi NU sebagai pelaku sejarah aktif, bukan hanya sebagai pelaku pasif. Metodologi yang digunakan mencakup analisis dokumen-dokumen sejarah, wawancara dengan tokoh NU, serta studi banding dengan gerakan keagamaan lain di Indonesia.
Key Discussion ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana perjuangan NU terkait dengan gerakan nasionalisme. Dengan pendekatan yang berbeda, mereka berharap dapat mengungkap kembali pentingnya peran organisasi keagamaan dalam membangun identitas bangsa. Riadi Ngasiran menyampaikan bahwa kajian poskolonial menjadi alat untuk menghubungkan nilai-nilai tradisional dengan isu-isu kontemporer, seperti pengaruh globalisasi terhadap masyarakat Muslim.
Kepentingan Key Discussion untuk Generasi Muda
Key Discussion yang diadakan di PWNU Jatim diharapkan menjadi titik awal bagi generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk lebih memahami kontribusi NU dalam sejarah bangsa. Dengan mengetahui nilai-nilai perjuangan para pendahulu, mahasiswa dianggap mampu mengapresiasi semangat nasionalisme yang diwariskan. Selain itu, Key Discussion ini juga menjadi ajang untuk memperkuat hubungan antara akademisi dan lembaga keagamaan dalam membentuk wawasan sejarah yang lebih lengkap.
Sebagai bagian dari Key Discussion, peserta menyatakan bahwa studi ini menginspirasi mereka untuk terus mengeksplorasi peran NU dalam membentuk identitas nasional. Beberapa mahasiswa menyebutkan bahwa nilai-nilai perjuangan kiai pesantren masih relevan dalam menghadapi tantangan politik dan sosial saat ini. Dengan mempelajari sejarah kolonial melalui perspektif NU, mereka berharap mampu memberikan kontribusi yang lebih bermakna dalam studi sejarah dan kajian sosial.