Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

Key Strategy: Langgar Gencatan Senjata, Operasi Militer Israel Tewaskan Komandan Brigade Al-Qassam di Gaza

Mark Martin ⏱ 3 min read

Langgar Gencatan Senjata, Operasi Militer Israel Tewaskan Komandan Brigade Al-Qassam di Gaza

Operasi Militer Strategis yang Mengguncang Keamanan Gaza

Key Strategy menjadi elemen utama dalam serangan militer Israel yang mengakibatkan kematian komandan brigade Al-Qassam, Izz ad-Din al-Haddad, di Kota Gaza pada Jumat (18/5/2026). Operasi ini dipicu oleh keputusan Israel untuk melanggar gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober 2023, sebagai bagian dari strategi untuk menghancurkan struktur kekuasaan Hamas. Pemerintah Israel menegaskan bahwa Haddad, seorang tokoh utama dalam perang di Gaza, menjadi sasaran utama yang sejauh ini memperparah ketegangan antara kedua pihak.

Serangan udara terhadap blok apartemen di pusat Kota Gaza memicu kekacauan besar, dengan tiga rudal yang hampir bersamaan menghujam lokasi tersebut dari dua arah berbeda. Kerusakan yang terjadi menghambat evakuasi korban, dan tim penyelamat hanya berhasil menyelamatkan satu jenazah serta beberapa luka. Meski demikian, operasi terus berlanjut dengan menargetkan mobil yang diduga membawa Haddad yang terluka parah. Serangan kedua yang terjadi sekitar 1,5 kilometer dari lokasi pertama menyebabkan tiga korban tewas, memperkuat indikasi bahwa Haddad adalah pelaku utama dalam konflik tersebut.

Strategi Key Strategy yang digunakan Israel mencerminkan fokus pada pemukulan segera terhadap kepemimpinan Hamas, yang dianggap sebagai penggerak utama perang 7 Oktober 2023. Serangan ini tidak hanya bertujuan untuk menewaskan Haddad, tetapi juga untuk menggoyahkan kepercayaan warga Gaza terhadap kesepakatan damai. Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant menyatakan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari Key Strategy untuk melindungi warga Israel dari ancaman teroris.

Perang di Gaza dimulai setelah serangan oleh Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 warga. Sebagai respons, Israel meluncurkan operasi besar-besaran, dengan laporan Kementerian Kesehatan Gaza (yang dikelola oleh Hamas) menyebut lebih dari 72 ribu korban tewas sejak konflik dimulai. Key Strategy dalam operasi ini mencakup penargetan area-area strategis seperti blok apartemen dan kamp pengungsi, yang dianggap sebagai pusat kekuasaan Hamas. Tindakan ini dianggap sah oleh Israel karena melawan anggota organisasi teroris tersebut, meski Hamas menuntut bahwa serangan tersebut mengabaikan kesepakatan gencatan senjata.

“Kami akan terus bertindak tegas dan menentukan terhadap siapa pun yang ikut serta dalam pembantaian 7 Oktober,” kata Netanyahu dan Katz dalam pernyataan bersama.

Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa drone Israel menyerang kamp pengungsi, yang dianggap oleh Hamas sebagai serangan sengaja terhadap juru bicaranya. Aksi ini memperparah ketegangan di tengah konflik yang terus berlangsung, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober lalu. Key Strategy dalam operasi terkini juga mencakup upaya memastikan tawanan Hamas tewas dengan bom bertubi-tubi di Gaza Utara, serta mengevakuasi korban melalui pintu samping dengan bantuan anggota Hamas yang berpakaian sipil.

Dalam beberapa hari terakhir, Hamas mengalami kehilangan signifikan, termasuk tewasnya tujuh tentara Israel di Khan Younis, Gaza Selatan. Brigade Al-Qassam juga melakukan penembakan jitu ke pasukan Israel dari jarak jauh, menunjukkan bahwa Key Strategy mereka berfokus pada kejutan strategis. Meski operasi Israel berhasil menewaskan Haddad, Hamas masih mempertahankan kekuasaannya di wilayah tersebut, dengan Nasrallah, pemimpin Hizbollah, tewas dalam serangan menggunakan bom Amerika seberat 900 kilogram pada Jumat (27/9) malam. Strategi Key Strategy ini terus berlangsung hingga saat ini, dengan penargetan yang dipandang sebagai langkah untuk memperkuat dominasi militer Israel di zona konflik.

Bagikan artikel ini