Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

Key Strategy: Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca, Sampah Pesisir di Kawasan Wisata Bagek Kembar Dikelola Berbasis Ekonomi Sirkular

Susan Thomas ⏱ 3 min read

Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca dan Sampah Pesisir di Kawasan Wisata Bagek Kembar Berbasis Ekonomi Sirkular

Key Strategy – Strategi utama pengurangan dampak lingkungan di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, melibatkan kolaborasi antara PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna. Inisiatif ini dianggap sebagai Key Strategy untuk menekan emisi gas rumah kaca serta mengelola sampah pesisir secara lebih efektif, dengan pendekatan ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya baru. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemandirian masyarakat lokal sekaligus menjaga ekosistem laut yang rentan terhadap polusi.

Kemitraan Multisektor sebagai Pilar Utama

Program pengelolaan sampah terpadu di Bagek Kembar tidak hanya melibatkan perusahaan energi, tetapi juga pemerintah daerah, kelompok wisatawan yang peduli lingkungan (Pokdarwis), dan berbagai organisasi lainnya. Mamit Setiawan, Sekretaris Perusahaan PLN EPI, menegaskan bahwa Key Strategy ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan dampak positif secara sosial dan lingkungan. “Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah bukan lagi menjadi masalah, tetapi peluang untuk berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Kemitraan antar-sektor di Bagek Kembar dimulai dari pengumpulan sampah hingga pemanfaatan limbah. Sebagai bagian dari Key Strategy, PLN EPI menyediakan pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik, serta memberdayakan masyarakat melalui pengembangan budidaya maggot yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Pengelolaan Sampah sebagai Solusi Berkelanjutan

Manajer PLN UP3 Mataram Hengky Purbo Lesmono menekankan bahwa Key Strategy ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menjadi bagian dari solusi lingkungan. “Selain infrastruktur energi, keberhasilan pembangunan juga diukur dari peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitar,” tambah Hengky. Ia menjelaskan bahwa program ini memberikan pelatihan teknis dan sumber daya yang diperlukan untuk mengelola sampah secara lebih terarah.

Lurah Tanjung Karang Permai, Nani Nurkomala, mengapresiasi upaya Key Strategy ini sebagai langkah penting untuk melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan. “Setiap individu memiliki peran dalam mengurangi sampah. Dengan peningkatan kesadaran, kita bisa membangun kebiasaan yang baik untuk keberlanjutan,” katanya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antar-sektor membantu mempercepat progres pengelolaan limbah yang sebelumnya kurang terkoordinasi.

Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa, mengungkapkan bahwa volume sampah di kota ini terus meningkat. “Dari 311 ton per hari hingga 2025, kita membutuhkan Key Strategy yang inovatif untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan mengurangi emisi gas metana yang berdampak pada perubahan iklim,” jelasnya. Ia menekankan bahwa pendekatan ekonomi sirkular menjadi kunci utama untuk mengelola sampah secara lebih efisien.

Ekonomi Sirkular dan Dampak pada Ekosistem Laut

Kawasan wisata Bagek Kembar menjadi contoh nyata Key Strategy yang berfokus pada pemanfaatan sampah untuk mendukung ekonomi daerah. Dengan mengubah limbah organik menjadi kompos, serta sampah plastik menjadi bahan baku baru, kawasan ini menunjukkan potensi untuk mengurangi beban lingkungan. Selain itu, program ini juga berdampak pada pengurangan polusi air dan udara, serta meningkatkan ekosistem laut yang vital bagi wisata bahari.

Program pengelolaan sampah di Bagek Kembar telah menunjukkan hasil yang signifikan. Berdasarkan data terkini, volume sampah yang diolah oleh masyarakat dan pemerintah kota meningkat hingga 28 persen, sementara emisi gas rumah kaca dari aktivitas pemanfaatan sampah menurun. “Kita ingin memastikan bahwa Key Strategy ini berkelanjutan dan bisa menjadi model bagi kawasan wisata lainnya,” kata I Made Wibisana Gunaksa.

Bagikan artikel ini