Key Strategy: Sosok Ketua Anarko Pembuat Onar Demo Hari Buruh di Bandung, Suplai Bom Molotov dari Uang Jualan Sablon Kaos Rp4 Juta
Ketua Anarko May Day Bandung: Key Strategy dan Suplai Bom Molotov dari Uang Jualan Sablon Kaos Rp4 Juta
Key Strategy menjadi strategi utama dalam perencanaan aksi anarkis yang terjadi selama demo Hari Buruh di Bandung. Kepolisian Daerah Jawa Barat menetapkan 13 orang sebagai tersangka terkait kerusuhan tersebut, termasuk RR alias Mpe, yang dikenal sebagai Ketua Anarko. Ia memimpin kelompok yang beroperasi di wilayah Baleendah dan Banjaran melalui organisasi Bandung Selatan Ayaan. Selain itu, Key Strategy juga mencakup penggunaan uang hasil jualan sablon kaos untuk membiayai pembuatan bom Molotov, dengan biaya sekitar Rp4 juta per unit.
Operasi Key Strategy: Dari Sablon Kaos ke Kerusuhan
RR alias Mpe, seorang tukang sablon kaos, memanfaatkan pendapatan usaha untuk mendanai aksi anarkisnya. Menurut Kombes Ade Sapari dari Dirreskrimum Polda Jabar, Key Strategy ini bertujuan untuk menyembunyikan dana yang digunakan dalam pembuatan bom Molotov. “Dia bekerja sebagai tukang sablon, usaha sendiri. Jadi bisa mengatur dana dengan fleksibel. Tapi tujuannya adalah agar dianggap bagian dari gerakan anarkis nasional,” ujar Ade di Polda Jabar, Selasa (12/5).
“Key Strategy ini membantu mereka merancang aksi yang terkoordinasi dan efektif,” tambah Ade, menegaskan bahwa para pelaku tidak hanya mengandalkan kekerasan, tetapi juga mengatur jalannya pergerakan dengan sistematis.
Kerusuhan di Jalan Cikapayang-Jalan Tamansari
Ade Sapari menjelaskan bahwa area Jalan Cikapayang-Jalan Tamansari dipilih sebagai titik kerusuhan karena strategi Key Strategy yang merencanakan pengaruh maksimal di lokasi strategis. “Mereka sudah menyusun strategi untuk mengganggu situasi di sana,” kata Ade. Aksi tersebut mengakibatkan kerusakan pada pos polisi, videotron, dan lampu lalu lintas, serta meninggalkan jejak penghancuran yang signifikan.
Dari 13 tersangka, enam di antaranya adalah pelajar atau mahasiswa, seperti MRN, MRA, RS, MFNA, FAP, dan HIS. Mereka turut terlibat dalam Key Strategy sebagai penggerak dan pelaku langsung. Selain itu, ada pelaku lain seperti RN alias Kuplay, FN, FA, HI, RS, CA, RR alias Mpe, I alias Pablo, D alias Dilan, HR, RA, MI, dan S. Semua disangkakan Pasal 308, 309, dan 262 UU Nomor 1 Tahun 2023 KUHPidana dengan ancaman hukuman hingga 9 tahun penjara atau denda Rp500 juta.
Langkah Kepolisian dalam Mengatasi Key Strategy
Kepolisian Daerah Jawa Barat mengungkap bahwa Key Strategy tidak hanya tentang pembuatan bom Molotov, tetapi juga terkait koordinasi antar anggota dalam menyusup ke aksi demo. “Kemungkinan ada tersangka tambahan yang ditetapkan,” ujar Ade Sapari. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian terus mengembangkan kasus ini untuk memperketat penindasan terhadap anarkis yang memanfaatkan strategi Key Strategy.
Key Strategy juga diaplikasikan dalam penanganan sampah yang terjadi selama kegiatan May Day. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut 164 ton sampah dari lokasi kerusuhan, menunjukkan respons cepat instansi terkait. Namun, aksi ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu dinamika sosial di Bandung.
Respon Masyarakat dan Pemerintah Kota Bandung
Dedi Mulyadi, salah satu tokoh masyarakat, mengajak warga tetap tenang karena situasi saat ini telah terkendali. Ia menilai Key Strategy pelaku kerusuhan di Bandung adalah bagian dari upaya memperkuat keterlibatan kelompok muda dalam gerakan anarkis. “Kalau ada yang mengganggu, kita harus lawan. Mereka takut jika kita bersikap tegas,” tambah Ade Sapari, yang juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi tindakan kericuhan.
Key Strategy ini menunjukkan bagaimana aksi anarkis bisa terorganisir dengan bantuan sumber daya ekonomi. Dengan dana dari jualan sablon kaos, para pelaku mampu memproduksi senjata pengganggu seperti bom Molotov. Polres Lumajang juga mengamankan empat terduga provokator yang memicu kericuhan di depan kantor gubernur Jawa Tengah, menegaskan bahwa Key Strategy menjadi strategi dominan dalam perencanaan aksi tersebut.
Dengan Key Strategy yang terus dikembangkan, Polda Jabar berharap masyarakat Bandung bisa lebih waspada terhadap kemungkinan kerusuhan di masa depan. Pihak kepolisian juga berkomitmen untuk menangkap semua pelaku dan memberi pendampingan dari LBH Jakarta. Kebijakan ini dianggap penting untuk memperkuat respons terhadap pergerakan anarkis yang memanfaatkan aksi sosial sebagai alat tekanan politik.