Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Ekonom Sebut Rupiah Sulit Turun di Bawah Rp17.000 per USD Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga Acuan

Published Mei 23, 2026 · Updated Mei 23, 2026 · By Michael Gonzalez

Latest Program: Rupiah Sulit Turun di Bawah Rp17.000 per USD Meski BI Tingkatkan Suku Bunga

Analisis Ekonomi dan Tantangan Pelemahan Rupiah

Latest Program - Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan untuk mencapai level tukar yang lebih rendah, yakni di bawah Rp17.000 per dolar AS. Meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan kenaikan suku bunga acuan, langkah ini belum cukup untuk memastikan pelemahan rupiah terjadi secara signifikan. Menurut Josua, faktor-faktor eksternal dan situasi domestik tetap menjadi penentu utama dalam dinamika nilai tukar mata uang ini.

Josua menyoroti bahwa kondisi pasar global, seperti ketidakpastian politik dan perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat, memberikan tekanan terhadap rupiah. Latest Program mencatat, suku bunga acuan BI yang dinaikkan menjadi 5,25 persen pada Mei 2026, sebagian besar diharapkan untuk menstabilkan ekspektasi investor dan mengurangi risiko premi yang mengancam nilai tukar mata uang lokal.

Stabilitas Rupiah dan Faktor Internal

Dalam Latest Program, Josua juga menyoroti bahwa stabilitas rupiah bergantung pada koordinasi kebijakan antara BI, pemerintah, dan sektor keuangan lainnya. Meskipun BI telah mengambil langkah kebijakan moneter yang konsisten, pihak lain perlu memastikan keberlanjutan langkah-langkah mereka untuk memperkuat kepercayaan pasar. Kebijakan BI dinilai penting, tetapi tidak cukup sendirian untuk mengubah arah pelemahan rupiah.

“Rupiah saat ini masih berada di level Rp17.000-an, dengan harapan bisa melemah ke bawah Rp17.500 per dolar AS. Namun, ekspektasi pasar dan kebijakan BI harus dipertahankan secara stabil agar bisa menciptakan momentum pelemahan yang berkelanjutan,”

Menurut Josua, kondisi ekonomi domestik yang tetap kuat menjadi penyangga terhadap tekanan eksternal. Namun, risiko seperti inflasi yang terkendali dan kinerja sektor pertumbuhan ekonomi masih memengaruhi dinamika rupiah. Latest Program menjelaskan, BI terus berupaya untuk menyeimbangkan antara penyeimbang inflasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi kenaikan suku bunga harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Kebijakan BI dan Respons Investor

Langkah BI dalam menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei 2026 dianggap cukup signifikan untuk menopang nilai rupiah. Namun, Josua mengingatkan bahwa respons pasar tergantung pada keberlanjutan kebijakan tersebut. Latest Program menyebutkan, keputusan BI dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi, meskipun efeknya belum terasa sepenuhnya pada rupiah.

“Peningkatan suku bunga acuan BI mencerminkan upaya untuk menjaga ekspektasi pasar, tetapi kita perlu mengevaluasi bagaimana responsnya terhadap kebijakan ini. Jika investor belum puas, maka rupiah tetap akan menghadapi tekanan,”

Josua menambahkan bahwa kebijakan BI tidak bisa berdiri sendirian. Sinergi dengan kebijakan pemerintah, seperti pengendalian defisit anggaran dan peningkatan produktivitas sektor ekonomi, sangat diperlukan untuk memperkuat kepercayaan investor. Latest Program menekankan bahwa keberhasilan pelemahan rupiah tergantung pada keselarasan antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang diterapkan oleh pihak berwenang.

Tantangan Global dan Dinamika Pasar

Menurut Josua, tekanan eksternal seperti kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dan volatilitas pasar keuangan internasional masih menjadi faktor utama yang memengaruhi rupiah. Latest Program mencatat, meski kondisi ekonomi domestik tetap solid, dinamika pasar global dan kebijakan luar negeri masih menjadi hambatan untuk pelemahan rupiah. Apalagi, ekspansi moneter di Amerika Serikat menimbulkan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi, sehingga rupiah sulit melemah secara signifikan.

“Kalau BI tidak menaikkan suku bunga, maka rupiah akan terus terpantau dengan level Rp17.000-an. Kebijakan moneter global yang konsisten akan memperkuat tekanan pada rupiah, bahkan jika kita tidak merasa harus menurunkan nilai tukar secara langsung,”

Di sisi lain, Josua menyatakan bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk melemah jika kondisi eksternal dan domestik tetap stabil. Latest Program menjelaskan, kebijakan BI yang konsisten dan dampak dari kenaikan suku bunga acuan harus diimbangi dengan kebijakan ekonomi lainnya, agar rupiah bisa mencapai level yang diharapkan.

Kebutuhan Konsistensi dan Optimisme Pasar

Dalam wawancara di Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5), Josua menekankan bahwa konsistensi kebijakan BI dan pihak terkait sangat penting untuk mencegah pelemahan rupiah yang berlebihan. Latest Program menyebutkan, pengendalian inflasi, stabilitas ekonomi, serta respons pasar terhadap kebijakan moneter akan menjadi penentu utama dalam memperkuat nilai tukar rupiah.

Josua menyoroti bahwa meskipun BI telah melakukan kenaikan suku bunga, ekspektasi pasar tetap tinggi terhadap langkah-langkah yang lebih ambisius. Latest Program juga mengingatkan bahwa investor masih memantau dinamika ekonomi global, terutama kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara lain. Oleh karena itu, keberhasilan pelemahan rupiah membutuhkan kerja sama yang lebih luas dari berbagai pihak.