Latest Program: Insentif EV Berbasis Nikel Dinilai Bisa Perkuat Hilirisasi Industri
Insentif EV Berbasis Nikel Bisa Perkuat Industri Hilir Nasional
Latest Program menjadi sorotan baru dalam upaya pemerintah Indonesia meningkatkan ekosistem kendaraan listrik nasional. Kebijakan insentif untuk mobil listrik yang menggunakan baterai nikel dinilai mampu memberikan dampak positif yang signifikan, terutama dalam memperkuat proses hilirisasi industri baterai. Kebijakan ini, yang diperkenalkan dalam rangka mendukung transformasi energi hijau, memberikan kesempatan kepada produsen dalam negeri untuk berkembang seiring permintaan pasar yang terus meningkat.
Potensi Kebijakan Berbasis Baterai Nikel
Menurut Fahmi Radhi, ahli ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, insentif berbasis teknologi nikel merupakan langkah strategis yang lebih tepat sasaran dibandingkan pendekatan sebelumnya yang cenderung menguntungkan kendaraan listrik impor. "Kebijakan ini tidak hanya mendorong pertumbuhan industri hilir, tetapi juga mampu menggerakkan kebijakan industri dari hulu hingga hilir, terutama dalam pengolahan nikel," terangnya. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun rantai pasok baterai yang mandiri, yang bisa menjadi pendorong ekonomi sektor energi.
“Langkah pemerintah ini membuka peluang ekspor bahan baku nikel ke industri EV, sekaligus meningkatkan daya saing industri lokal dalam bidang manufaktur baterai,” ujar Fahmi.
Dalam konteks kebijakan Latest Program, pemerintah memperhatikan keseimbangan antara kemudahan akses bagi produsen dalam negeri dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan industri hilir.
Kinerja Pasar dan Teknologi Baterai
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GIKI) menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik berbasis baterai mencapai 56.204 unit pada 2024, lalu naik menjadi 114.413 unit di tahun berikutnya. Meski demikian, teknologi lithium iron phosphate (LFP) masih mendominasi pasar dengan kontribusi sebesar 83,3% pada 2024 dan 77,2% di 2025. Sementara itu, mobil listrik berbasis nickel-manganese-cobalt (NMC) hanya menyumbang 9.390 unit pada 2024, meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8% di 2025. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kebijakan Latest Program perlu diimbangi dengan strategi peningkatan kapasitas produksi baterai nikel.
Teknologi baterai nikel menawarkan keunggulan seperti kapasitas penyimpanan energi yang lebih tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan baterai lithium. Dengan dukungan insentif, produsen lokal diharapkan bisa menguasai teknologi ini, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor baterai. Fahmi menekankan bahwa Latest Program perlu dirancang secara terpadu agar mampu mendorong keterlibatan industri manufaktur dalam membangun ekosistem EV yang lengkap.
Kebijakan Pemerintah dan Target Produksi
Kementerian Keuangan telah menyiapkan insentif untuk 100 ribu mobil listrik dan 100 ribu sepeda motor listrik pada 2026. Subsidi untuk sepeda motor listrik mencapai Rp5 juta per unit, sementara mobil listrik menerima insentif melalui Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dengan tingkat 40 hingga 100 persen, tergantung jenis baterai yang digunakan. Dengan Latest Program ini, pemerintah berupaya memperkuat ekosistem industri baterai nasional sekaligus mendorong keberlanjutan produksi dalam negeri.
Tujuan kebijakan Latest Program tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi gas buang, tetapi juga pada penguatan daya tahan ekonomi. Kebijakan ini diharapkan bisa meningkatkan ekspor bahan baku nikel ke sektor industri kendaraan listrik, sekaligus menumbuhkan kegiatan produksi dalam negeri. Fahmi menambahkan bahwa keberhasilan hilirisasi nikel bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan investor, terutama dalam pengembangan teknologi baterai NMC.
Kerja Sama dan Perspektif Masa Depan
Dalam rangka mempercepat pengembangan industri baterai nasional, pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan asing seperti Volkswagen dan Ford, yang menunjukkan minat terhadap investasi di bidang EV. Kebijakan Latest Program juga memperhatikan kebutuhan industri lokal, dengan menawarkan insentif yang bisa memperkuat pertumbuhan sektor hilir. Selain itu, pergeseran ke teknologi baterai sodium-ion dan solid-state battery masih membutuhkan nikel sebagai bahan utama, yang menegaskan pentingnya Latest Program dalam jangka panjang.
Di sisi lain, perusahaan seperti Honda telah meluncurkan mobil listrik kecil bernama Super-ONE, menunjukkan pergeseran ke arah teknologi baterai yang lebih bervariasi. Fahmi menilai bahwa Latest Program menjadi fondasi penting untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik nasional, sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri di pasar global. Dengan memperkuat hilirisasi nikel, Indonesia bisa menjadi salah satu pusat produksi baterai terbesar di Asia Tenggara.
Peluang dan Tantangan
Program Latest Program ini membuka peluang bagi produsen lokal untuk memperoleh bahan baku nikel secara lebih efisien. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada masalah infrastruktur dan kebijakan pengawasan yang konsisten. Fahmi menyarankan agar pemerintah memastikan pembagian insentif yang adil antara produsen baterai dan industri hilir lainnya, serta memberikan dukungan teknis untuk pengolahan nikel menjadi bahan baku yang lebih bernilai tambah.
Kebijakan Latest Program juga diharapkan mendorong inovasi dalam sektor industri, terutama di bidang teknologi baterai. Dengan peran sentral nikel dalam pembuatan baterai, Indonesia bisa memanfaatkan keunggulan sumber daya alamnya untuk membangun industri manufaktur yang lebih kuat. Peningkatan keterlibatan sektor swasta dalam Latest Program akan menjadi kunci utama dalam mencapai target ekspor baterai dan menjaga kemandirian energi nasional.