Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: ITB Sebut Kasus Dugaan Fraud Riset Dilakukan Secara Individu

Published Mei 28, 2026 · Updated Mei 28, 2026 · By Michael Jackson

ITB: Dugaan Fraud Riset Terkait Latest Program Diklaim Individu

Latest Program - Kasus dugaan pemalsuan riset yang melibatkan alumni Latest Program dari Institut Teknologi Bandung (ITB) kini menjadi sorotan publik. Aep Patah, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, mengklarifikasi bahwa tindakan fraud yang disebutkan adalah hasil dari individu dan tidak terkait langsung dengan kegiatan akademik institusi. Prihantini, lulusan angkatan 2020 Program Magister Matematika FMIPA ITB, menyelesaikan studinya pada 2022, namun dugaan manipulasi data dalam presentasi di konferensi internasional menimbulkan kontroversi. Latest Program, yang menjadi fokus kritik, dinilai masih memenuhi standar akademik sepanjang proses penelitian berjalan secara transparan.

Detail Penipuan dalam Konferensi Internasional

Dugaan fraud riset viral setelah dosen dari Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, mengunggah informasi di media sosial Thread pada Senin (25/5). Keduanya mengatakan bahwa kelompok peneliti asal Indonesia, termasuk Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, terlibat dalam pemalsuan hasil penelitian di konferensi ISPPD di Kopenhagen, Denmark, 17 hingga 21 Mei lalu. Mereka menilai metode riset berbasis AI yang digunakan para peneliti dianggap tidak valid, sehingga menyebabkan kecurigaan terhadap pencairan dana grant. Meski demikian, ITB menegaskan bahwa tesis Prihantini, berjudul "Analisis Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring," tidak terkait langsung dengan hasil riset yang disangkal.

Aep Patah menjelaskan bahwa tindakan individu tersebut tidak merusak integritas akademik ITB. "Kasus ini dianggap sebagai upaya hukum pribadi. ITB menghormati proses penyelidikan yang sedang berlangsung," kata dia. Meski begitu, kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan karya ilmiah alumni. Pihak kampus menyatakan bahwa mereka tetap memastikan semua riset tetap berada di bawah prinsip kejujuran ilmiah, terlepas dari kontribusi individu.

Langkah ITB untuk Memperkuat Integritas Akademik

Sebagai respons, ITB memperkuat standar pengawasan terhadap karya ilmiah mahasiswa dan alumni. Institut ini menolak tindakan seperti plagiarisme, fabrikasi data, atau manipulasi hasil penelitian. "Jika ada indikasi kesalahan, kita akan menindaklanjuti dengan tegas," tambah Aep. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas Latest Program dan Fakultas FMIPA sebagai salah satu institusi unggul di Indonesia.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Brian Yuliarto juga turut memantau kasus tersebut. Menurutnya, para pelaku belum tercatat sebagai dosen aktif di perguruan tinggi Indonesia, sehingga status mereka sebagai alumni menjadi faktor utama dalam penyelidikan. "Meski ini kasus individu, dampaknya bisa merusak reputasi riset nasional," kata Brian. Namun, ia menegaskan bahwa investigasi masih terus berjalan, dan ITB dianggap objektif dalam menyampaikan fakta.

Kasus ini memicu perdebatan antara ranah pribadi alumni dan kelembagaan ITB. Sejumlah akademisi menilai bahwa penyelesaian riset yang dilakukan alumni dalam pertemuan internasional menunjukkan kemampuan mereka dalam memperkenalkan karya ilmiah. Namun, dugaan penggunaan AI untuk memperoleh grant travel menimbulkan kekhawatiran terhadap transparansi. Aep menegaskan bahwa ITB tidak akan menghakimi tanpa bukti yang jelas, meski kejadian ini menjadi bahan evaluasi sistem pendidikan tinggi.

Dengan dugaan fraud riset yang melibatkan Latest Program, ITB menunjukkan komitmen untuk menjaga kepercayaan publik terhadap kualitas penelitian mereka. Aep berharap kasus ini menjadi pembelajaran bagi alumni agar tetap mematuhi etika akademik. "Pengawasan harus dilakukan secara konsisten, baik untuk mahasiswa aktif maupun alumni," jelasnya. Sementara itu, peneliti yang terlibat kini sedang menjalani proses penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kecurangan yang terlewat.