Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Niantic Bantah Pokemon Go Dipakai untuk Latihan Drone Militer AS

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By Susan Thomas

Latest Program: Niantic Bantah Pokémon Go Digunakan untuk Latihan Drone Militer AS

Latest Program - Dalam sebuah pengumuman terbaru, perusahaan Niantic Spatial menegaskan bahwa Pokémon Go tidak secara langsung digunakan untuk pelatihan drone militer Amerika Serikat. Berdasarkan laporan dari Trouw pada Senin, 15 Juni 2026, ada spekulasi bahwa data pemindaian dari game augmented reality tersebut diakses oleh angkatan udara AS untuk mengembangkan model kecerdasan buatan (AI). Namun, Niantic Spatial menjelaskan bahwa penggunaan data tersebut adalah bagian dari latest program mereka untuk meningkatkan kemampuan navigasi tanpa GPS, bukan penggunaan eksklusif untuk keperluan militer.

Pelatihan AI dan Teknologi Navigasi

Data pemindaian yang dihasilkan oleh pemain Pokémon Go digunakan untuk memperkaya model AI geospasial, yang diharapkan bisa membantu drone dan robot mengenali lingkungan di dunia nyata. Teknologi ini dianggap sangat berpotensi, terutama dalam situasi dimana sinyal GPS tidak stabil atau bahkan hilang. Dalam latest program yang sedang dikembangkan, Niantic Spatial bekerja sama dengan Vantor, perusahaan intelijen pertahanan, untuk menguji kemampuan sistem ini dalam lingkungan terkontrol.

"Kolaborasi dengan Vantor tidak melibatkan akses langsung ke data mentah pemain, melainkan hanya untuk pelatihan model AI," terang pernyataan resmi Niantic Spatial. Pemindai AR dalam Pokémon Go, yang digunakan untuk memetakan lingkungan sekitar, menjadi sumber data yang dibagikan secara bersifat anonim. Dengan demikian, penggunaan data ini terlepas dari pengawasan individu pemain, serta tetap memenuhi standar privasi.

Niantic Spatial berkomitmen untuk memastikan bahwa semua data yang dikumpulkan dalam latest program mereka diproses secara aman dan transparan. Mereka menekankan bahwa penggunaan data hanya dilakukan untuk meningkatkan akurasi navigasi AI, dan bukan untuk mengumpulkan informasi intelijen militer. Hal ini menjadi respons terhadap isu yang muncul sejak laporan Trouw mempublikasikan keterlibatan antara Pokémon Go dan program pelatihan drone AS.

Pertimbangan Penjualan Divisi Permainan

Selain isu penggunaan data, Niantic juga sedang mempertimbangkan untuk menjual divisi permainan mereka, termasuk Pokémon Go, kepada Scopely Inc. sebuah perusahaan asal Arab Saudi. Transaksi ini diperkirakan bernilai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 57 triliun, menurut laporan Bloomberg via Polygon pada Kamis, 20 Februari 2025. Pernyataan resmi mengenai penjualan masih belum dikeluarkan, namun langkah ini bisa memperkuat latest program Niantic dalam mengembangkan teknologi terkini.

Sejak diluncurkan pada Juli 2016, Pokémon Go telah menjadi fenomena global yang menarik ribuan pemain untuk berinteraksi dengan dunia nyata melalui fitur pemindaian AR. Namun, beberapa bulan terakhir, fitur tersebut telah dihentikan sebagai bagian dari perpindahan hak game ke Scopely. Hal ini memicu pertanyaan mengenai penggunaan data yang sebelumnya dikelola oleh Niantic Spatial, sekarang sepenuhnya menjadi milik perusahaan baru.

Latest program ini juga melibatkan pengembangan sistem navigasi berbasis sensor, yang bisa diterapkan dalam berbagai sektor. Selain militer, teknologi ini bisa digunakan untuk transportasi darat, logistik, atau pengawasan lingkungan. Niantic Spatial menjelaskan bahwa mereka sedang menguji skala penerapan teknologi ini, termasuk kemitraan dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian dalam bidang pertahanan dan inovasi digital.

Respons Niantic Spatial ini sejalan dengan upaya mereka untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan privasi pengguna. Mereka menegaskan bahwa latest program tidak hanya mengarah pada penggunaan data pemain untuk keperluan militer, tetapi juga untuk meningkatkan kinerja AI dalam berbagai skenario. Dengan demikian, pemain Pokémon Go tidak perlu khawatir akan data mereka disalahgunakan, selama proses pelatihan dilakukan secara transparan.