Latest Program: Pemprov NTB Dorong Inovasi Kopi Blended Lombok-Sumbawa untuk Daya Saing Global
Pemprov NTB Dorong Inovasi Kopi Blended Lombok-Sumbawa untuk Daya Saing Global
Latest Program yang diluncurkan oleh Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) menitikberatkan pada pengembangan industri kopi lokal melalui penggabungan dua jenis biji kopi khas wilayah ini. Dalam acara Karya Kreatif NTB di Epicentrum Mall, Mataram, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal mengajak pelaku usaha kopi dan komunitas kreatif untuk menciptakan produk yang memadukan arabika dari Lombok dengan robusta dari Sumbawa. Tujuan utamanya adalah memperkuat identitas produk NTB di pasar global serta meningkatkan daya saing melalui inovasi yang unik.
Strategi Pemprov NTB: Membangun Identitas Kopi Lokal
Latest Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperluas peluang ekspor dan mengakui kualitas kopi NTB. Gubernur Iqbal menekankan pentingnya penggabungan dua varietas biji kopi yang memiliki ciri khas berbeda. Arabika Lombok dikenal dengan rasa lembut dan aroma khas, sementara robusta Sumbawa menawarkan kekuatan dan kekayaan rasa yang berbeda. Kombinasi ini diharapkan mampu menciptakan cita rasa baru yang menarik bagi konsumen internasional.
Dukungan dari Pemprov NTB mencakup berbagai program yang memberdayakan pelaku usaha, termasuk barista, pengusaha UMKM, dan para petani kopi. Dalam Latest Program, pemerintah memberikan insentif teknis dan finansial untuk memfasilitasi pengembangan produk blended. Selain itu, program ini juga berfokus pada pelatihan, kolaborasi antar daerah, dan pemasaran yang lebih efektif. Dengan pendekatan ini, NTB ingin menonjolkan kopi sebagai komoditas unggulan yang bisa bersaing di tingkat global.
Potensi dan Karakteristik Kopi Lombok-Sumbawa
Kopi arabika Lombok, yang ditanam di kawasan Sembalun dan Sajang, memiliki keunikan karena ditanam di lereng Gunung Rinjani dengan ketinggian 800 hingga 1.200 meter. Tanah vulkanik memberi warna khas pada aroma dan rasa biji kopi ini. Sementara kopi robusta Sumbawa, berasal dari daerah Tepal dan Tambora, memiliki karakter kuat dengan rasa lebih kaya dan tekstur yang berbeda. Integrasi kedua jenis biji kopi ini dalam Latest Program diharapkan dapat menciptakan kopi blended yang unik dan menarik.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, luas perkebunan kopi NTB mencapai 14.038 hektare, dengan total produksi 6.460 ton. Distribusi perkebunan terbesar ada di Kabupaten Sumbawa (4.789 hektare), disusul Lombok Timur (2.210 hektare), dan Kabupaten Bima (1.670 hektare). Dengan volume produksi yang besar, Latest Program menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi ini. Pemprov NTB juga berencana memperluas pengembangan kopi jenis lain, seperti kopi Bondowoso yang dikenal dengan rasa khas dan aroma menyengat.
Komitmen Ekspor dan Pengembangan Produk
Dalam rangka memperkuat daya saing global, Pemprov NTB mengadakan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga ekspor dan produsen internasional. Gubernur Iqbal menyebutkan bahwa Latest Program tidak hanya menjangkau pasar lokal, tetapi juga menargetkan ekspor ke negara-negara tetangga serta pasar internasional. Salah satu contoh keberhasilan adalah kopi Liberika yang dipromosikan oleh Bupati OKU, yang mendapat perhatian dari konsumen di dalam dan luar negeri.
Terlebih, Latest Program juga mencakup inisiatif untuk memperluas pemasaran kopi robusta Lampung, yang telah mencatatkan peningkatan ekspor hingga 69% pada 2024. Pemprov NTB berharap pengalaman dari kopi Lombok-Sumbawa dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan komoditas unggulan lainnya. Dengan Latest Program, NTB ingin memastikan produk kopi lokal tidak hanya memenuhi permintaan dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar global melalui inovasi dan kualitas yang terjaga.
Contoh Keberhasilan Lain dalam Ekspor
Komoditas lain yang sukses menembus pasar internasional adalah cengkeh Lombok Utara yang telah dikenal di Dubai dan Uni Emirat Arab. Ini menunjukkan kemampuan NTB dalam membangun strategi ekspor yang terintegrasi. Dengan pendekatan serupa, Latest Program diharapkan bisa menjadi pusat pengembangan kopi blended yang menjadi representasi keunggulan produk daerah.
Latest Program juga memberikan peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengikuti pelatihan dan kompetisi kreatif. Program ini menjadi wadah bagi inovasi lokal yang berpotensi memberikan nilai tambah dan membangun merek nasional. Dengan dukungan teknis dan pemasaran yang terstruktur, Pemprov NTB percaya bahwa kopi blended akan menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan industri kopi daerah.