Latest Program: Pramono Anung: Pilah Sampah Jakarta Kunci Kurangi Beban TPST Bantargebang
Pramono Anung: Pilah Sampah Jakarta Kunci Kurangi Beban TPST Bantargebang
Program Segregasi Sampah Dianggap Langkah Efektif
Latest Program – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai bahwa upaya pengelolaan sampah dengan metode pilah sampah bisa mengurangi volume limbah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Ia berharap inisiatif ini membawa perubahan dalam citra kota sebagai pusat kehidupan yang lebih bersih dan berbudaya.
“Program pilah sampah ini tidak dilakukan secara setengah-setengah, melainkan berjalan serentak di seluruh wilayah Jakarta,” ujar Pramono Anung saat mengumumkan peluncuran inisiatif tersebut.
Pilah sampah dari sumbernya menjadi strategi utama Pemerintah Jakarta untuk menangani masalah sampah secara lebih efektif. Langkah ini diperkuat oleh adanya fasilitas pengolahan sampah seperti RDF Rorotan dan beberapa Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang menyebar di berbagai wilayah.
TPST Bantargebang, sebagai fasilitas pengelolaan sampah terbesar di Indonesia, setiap hari menerima ribuan ton limbah dari DKI Jakarta dan sekitarnya. Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik sejak awal, volume residu yang masuk ke TPST diperkirakan akan berkurang, sehingga mengurangi tekanan pada infrastruktur.
Komitmen Pemprov DKI Jakarta terhadap penanganan sampah terlihat jelas dalam peluncuran gerakan “Jaga Jakarta: bersih, pilah sampah” yang diawali di Kuningan, Jakarta Selatan. Pramono Anung menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungan kota.
Keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah DKI Jakarta akan gencar melakukan sosialisasi melalui berbagai platform, termasuk media massa, media sosial, dan kegiatan langsung di komunitas. Fokus kampanye mencakup kesadaran akan pentingnya segregasi, teknik penerapannya, serta manfaat jangka panjang bagi ekosistem dan kesehatan warga.
Adanya pemisahan sampah di tingkat sumber bukan hanya memperkecil beban TPST, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru. Sampah organik bisa diubah menjadi kompos, sementara limbah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam memiliki nilai jual. Hal ini mendukung siklus ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru.
Sebagai contoh, pasar-pasar di Jakarta diberi ruang untuk mengelola sampah secara mandiri, terutama dengan meniru praktik Pasar Kramat Jati yang sudah terbukti sukses. Gerakan pilah sampah ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menekan sampah yang mengendap di lingkungan.