Latest Program: Rupiah Kian Melemah, Level Rp18.000 per Dolar AS di Depan Mata
Rupiah Melemah, Proyeksi Rp18.000 per Dolar AS Mencuat
Latest Program - Dalam Latest Program terbaru, nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan yang semakin signifikan. Proyeksi pelemahan rupiah diperkirakan mencapai level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, menjadi penyebab utama dari tren ini. Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve serta kenaikan harga minyak global juga memperkuat tekanan terhadap rupiah.
Geopolitik Timur Tengah Menggerus Stabilitas Rupiah
Menurut analisis dari Latest Program, konflik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya setelah serangan terhadap instalasi militer di wilayah Selatan Iran, memberikan dampak langsung pada pergerakan rupiah. Kebutuhan global akan energi meningkat, sementara ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Oman memicu ketidakpastian pasar. Ini menjadikan dolar AS sebagai mata uang yang lebih diminati oleh investor, mempercepat pelemahan Rupiah.
Pelemahan rupiah pada Jumat pagi mencapai Rp17.600, menunjukkan kemajuan terhadap level Rp18.000 yang menjadi target utama. Para ahli ekonomi menyebutkan bahwa sentimen pasar yang gelisah akibat risiko eskalasi perang membuat para pelaku pasar lebih memilih dolar sebagai alat pelindung nilai. "Kondisi ini memperkuat kemungkinan rupiah mendekati Rp18.000 dalam beberapa hari ke depan," jelas Ibrahim, ekonom yang diwawancara dalam Latest Program.
Moneter Federal Reserve Menjadi Pendorong Utama
Kebijakan moneter Federal Reserve menjadi salah satu faktor kunci dalam Latest Program terkini. Pernyataan oleh Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Minneapolis, menyoroti kekhawatiran bank sentral AS terhadap inflasi yang tinggi. Meski penurunan jumlah tenaga kerja juga memengaruhi kebijakan, peningkatan suku bunga tetap menjadi indikasi kuat bagi pelemahan dolar.
Sejumlah ekonom dalam Latest Program menyatakan bahwa 52,3 persen di antara mereka memprediksi kemungkinan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun ini. Bahkan, ada peluang peningkatan suku bunga satu kali dalam tahun 2026. Ini memberikan sinyal positif bagi dolar AS, membuatnya lebih menarik dibanding rupiah yang terus melemah.
Stabilitas nilai tukar rupiah juga tergantung pada langkah Bank Indonesia. Meski bank sentral tersebut aktif melakukan intervensi, tekanan dari faktor eksternal dan internal tetap terasa. Kebutuhan energi global yang tinggi, kenaikan harga minyak, dan kekhawatiran pasar terhadap inflasi menjadi katalis yang mempercepat pelemahan mata uang lokal.
Implikasi Ekonomi Global Terhadap Rupiah
Dalam Latest Program, ekspansi dolar AS dianggap sebagai indikasi kekuatan ekonomi global. Para pelaku pasar menilai bahwa kestabilan ekonomi AS, dibanding negara lain, membuat dolar tetap menjadi pilihan utama. Sementara itu, Rupiah terus menjadi korbannya karena faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya.
Menurut data Latest Program, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik telah menyebabkan inflasi di beberapa negara seperti Amerika meningkat. Dengan harga minyak mencapai USD 96 per barrel, risiko ketidakstabilan ekonomi Asia juga meningkat. Rupiah, yang tergantung pada kinerja ekspor dan impor, terkena dampak langsung dari perubahan harga energi.
Mata uang Asia lainnya seperti Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura masih relatif stabil. Namun, Rupiah terus mengalami tekanan karena faktor internal seperti inflasi domestik dan kinerja sektor ekonomi. Dalam Latest Program, para analis memprediksi bahwa pelemahan Rupiah akan berlanjut hingga akhir tahun jika situasi geopolitik tidak segera membaik.
Berdasarkan Latest Program, pelemahan Rupiah mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan ekspor dan cadangan devisa. Perluasan akibat kenaikan harga minyak juga mengurangi daya beli masyarakat, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi nasional. Dengan level Rp18.000 per dolar AS sebagai target, pasar harus siap menghadapi dampak jangka panjang dari tren ini.