Latest Update: Luka Parah Akibat Terbakar, Jari Tangan Korban Selamat Kecelakaan Bus ALS-Truk Tangki Terancam Diamputasi
Latest Update: Kecelakaan Bus ALS dan Truk Tangki, Korban Selamat Terancam Diamputasi
Latest Update – Kecelakaan maut yang menimpa bus ALS dan truk tangki di Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, masih menjadi sorotan publik. Dua korban yang selamat, Ngadiono (44) dan Jumiatun (35), kini berada di bawah perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang. Jumiatun mengalami luka bakar parah pada tangan kanannya, yang bisa menyebabkan kebutuhan diamputasi jika kondisi tidak membaik. Kepala rumah sakit, Kombes Pol Budi Susanto, mengungkapkan bahwa kecelakaan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik berat, tetapi juga mengancam fungsi tubuh korban yang masih hidup.
“Korban wanita mengalami luka bakar 85 persen, sedangkan korban laki-laki cedera 50 persen. Fungsi pembuluh darah di bagian tangan kanan korban perempuan berpotensi terganggu akibat api yang menyala tiba-tiba,” kata Budi Susanto, Senin (11/5). Ia menegaskan bahwa tim medis terus berupaya memperbaiki jaringan yang rusak, tetapi amputasi jari tangan menjadi pilihan jika jaringan tidak bisa diselamatkan.
Kecelakaan yang terjadi pada Jumat (7/5) lalu menyebabkan api membara dari truk tangki menyebar ke bus, memakan korban 17 jenazah. Proses identifikasi korban dimulai sejak hari kejadian, dengan tim DVI Polri menggunakan sampel tulang dan DNA untuk memastikan keakuratan identifikasi. Berdasarkan hasil awal, sebagian besar korban meninggal merupakan anak-anak di bawah usia lima tahun, yang kondisi tubuhnya hampir hancur akibat api.
Proses Investigasi dan Kondisi Korban Saat Ini
Kapolres Padang Panjang AKBP Kartyana Widyarso menyatakan bahwa investigasi kecelakaan terus berlangsung untuk mengetahui penyebab utama insiden tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, seperti kernet bus ALS Muhammad Fadli (30), kecelakaan terjadi saat bus melaju di jalan yang cukup curam. Truk tangki yang mengalami kebocoran bahan bakar memicu api, yang terus menyala meski korban berhasil dievakuasi dengan cepat. “Kami sedang mempelajari keterlibatan faktor teknis dan alur lalu lintas saat kejadian,” tambahnya.
Latest Update – Di sisi lain, kondisi korban selamat yang masih menjalani rawat inap tetap memerlukan pengawasan ketat. Ngadiono, yang terluka pada tubuh bagian atas, harus mengalami pembedahan untuk mengatasi luka bakar yang menyebar ke tulang. Sementara Jumiatun, walaupun baru menyelesaikan operasi kedua, masih mengalami rasa nyeri hebat di tangan kanan. “Korban masih butuh pemantauan selama 72 jam ke depan,” jelas dokter yang menangani kasus ini.
Pengaruh Kecelakaan terhadap Keluarga Korban
Keluarga korban yang meninggal mengalami trauma serius setelah kejadian. Gusti Pulungan (66), ayah dari korban meninggal bernama Zulham Effendi alias Maleh (42), mengungkapkan rasa sedih dan kehilangan yang berat. Ia menyatakan bahwa proses identifikasi korban yang berlangsung di Rumah Sakit Siti Aisyah Lubuklinggau memakan waktu lama, terutama karena kondisi tubuh korban hampir tidak bisa dikenali. “Kami hanya bisa menunggu hasil DNA untuk memastikan siapa yang hilang,” ujarnya.
Korban selamat juga merasakan dampak emosional dari peristiwa ini. Jumiatun, yang mengalami luka parah pada tangan, mengaku cemas akan masa depannya setelah operasi. “Latest Update – Jari tangan saya masih bisa diselamatkan, tapi jika tidak, saya mungkin harus kehilangan satu tangan,” katanya sambil menunjukkan luka yang terus mengeluarkan cairan. Ngadiono, yang lebih ringan cedera, berharap kecelakaan ini bisa menjadi pembelajaran bagi pengemudi dan pengendara lain.
Dalam penyelidikan tambahan, tim DVI Pusdokkes Polri mengungkap bahwa proses identifikasi korban menggunakan teknologi scanning dan rekonstruksi 3D untuk mempercepat proses. Metode ini memungkinkan tim membandingkan data fisik korban dengan informasi dari keluarga atau daerah asal. “Latest Update – Kami sudah mengumpulkan data dari 4 korban yang selamat dan sedang memverifikasi identitas korban yang meninggal,” kata salah satu anggota tim DVI.
Kecelakaan ini juga menggugah masyarakat untuk lebih waspada saat berkendara. Bobby, wakil dari pihak ALS, mengunjungi kantor di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Kamis (7/5), dan menyampaikan bahwa jumlah penumpang resmi hanya lima orang, sementara di lokasi kejadian terdapat 18 orang, terdiri dari 14 penumpang dan 4 awak bus. “Latest Update – Kami masih mencari sumber kebocoran bahan bakar yang memicu kebakaran,” katanya sambil menunjukkan hasil investigasi awal.
Sebagai bagian dari upaya mempercepat proses identifikasi, polisi menggandeng pihak teknis dan pakar forensik untuk menganalisis kondisi korban. Berbagai alat seperti kamera termal dan software pencocokan wajah digunakan untuk mengidentifikasi korban yang tidak bisa dikenali secara langsung. “Kami berharap dalam 10 hari ke depan semua korban bisa teridentifikasi dengan pasti,” harap Kartyana Widyarso. Proses ini tidak hanya penting untuk keluarga korban, tetapi juga sebagai bagian dari penyelidikan penyebab kecelakaan.