Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Diplomasi Bahasa Indonesia: Aksi Memukau Pembelajar di Amerika Serikat

Published Juni 10, 2026 · Updated Juni 10, 2026 · By Mary Smith

Diplomasi Bahasa Indonesia: Aksi Memukau Pembelajar di Amerika Serikat

Main Agenda kembali menorehkan prestasi dalam memperkuat pengaruh bahasa Indonesia di tingkat internasional. Sebanyak 617 peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Amerika Serikat merayakan akhir Semester Musim Semi 2026 dengan memperlihatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui berbagai pertunjukan kreatif, seperti berpidato, membaca puisi, hingga berpantun. Kegiatan ini diadakan secara daring pada Minggu (7/6) dan diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, D.C. bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Partisipan mencakup 439 orang dewasa dan 178 anak serta remaja yang menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan fasih berbahasa yang menonjol.

Kolaborasi antara KBRI dan lembaga pendidikan dalam negeri menjadi pilar utama Main Agenda dalam memperluas lingkup pembelajaran bahasa Indonesia. Pengajar BIPA berasal dari berbagai universitas di Indonesia, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, serta Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Dukungan dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C., serta Dharma Wanita Persatuan, menegaskan komitmen untuk membangun jaringan kompetensi bahasa secara global. Peserta menyampaikan penampilan yang memperlihatkan kemajuan signifikan setelah belajar selama satu semester.

"Pertunjukan bahasa Indonesia oleh peserta BIPA menunjukkan hasil kerja keras dalam memperkuat Main Agenda diplomasi lunak Indonesia. Ini adalah langkah penting dalam memperkenalkan nilai budaya dan keberagaman bangsa kepada masyarakat internasional," ungkap Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Komentar ini menggarisbawahi bagaimana penguasaan bahasa dapat menjadi alat komunikasi budaya yang efektif, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional.

Pembelajaran bahasa Indonesia semakin menguatkan posisinya sebagai bahasa diplomatik. Dikutip dari pengamatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, peningkatan penggunaan bahasa ini terlihat dari pertumbuhan peserta program BIPA di berbagai institusi, termasuk di kampus seperti Yale University. Program ini tidak hanya menarik pelajar dan mahasiswa, tetapi juga peneliti, profesional, serta pendidik asing. Tiga tingkatan kursus—pemula, menengah, dan mahir—menyasar berbagai latar belakang, dengan pelatihan daring menjadi pilihan utama setelah pandemi. Pendekatan ini memungkinkan akses lebih luas ke peserta dari berbagai wilayah Amerika Serikat.

Kebanggaan terhadap kemajuan pembelajaran Bahasa Indonesia juga terlihat dari momen penting dalam Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, tahun 2025. Saat itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti, menyampaikan pidato resmi dalam bahasa Indonesia, yang menjadi bukti kepercayaan lembaga internasional terhadap potensi bahasa ini. Main Agenda dalam mengembangkan BIPA diharapkan dapat menjadi percontohan untuk memperkuat kehadiran bahasa Indonesia di segala forum global. Salah satu langkah strategis adalah mendorong penggunaan bahasa dalam konteks budaya, seperti program BIPA di Malaysia yang menyasar pendekatan lokal.

Main Agenda dalam upaya memperluas pengaruh bahasa Indonesia juga mencakup inisiatif untuk menjadikannya bahasa internasional. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, target tahun 2045 semakin dekat. Penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan Tahta Suci Vatikan dan lembaga internasional lainnya menunjukkan pergeseran positif. Selain itu, keberhasilan program BIPA di Amerika Serikat memperkuat visi pemerintah dalam mewujudkan bahasa ini sebagai alat komunikasi global.

Delegasi seniman muda Indonesia sukses mencuri perhatian di Kuala Lumpur, Malaysia, melalui pertunjukan seni budaya Nusantara yang menarik. Festival ini diikuti oleh puluhan booth dari lembaga UEA, termasuk Muslim Council of Elders, Kepolisian UEA, Badan Statistika UEA, RS Burjeel, serta kedutaan asing. Main Agenda dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia juga melibatkan inisiatif kreatif, seperti wajibkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM menggunakan Bahasa Daerah dalam presentasi mereka. Penampilan ini menegaskan bahwa diplomasi bahasa bukan hanya tentang penguasaan tata bahasa, tetapi juga ekspresi kebudayaan yang dinamis.