Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: PalmCo dan BRIN Kembangkan Gas dari Limbah Sawit, Bisa Jadi Pengganti LPG Impor

Published Mei 27, 2026 · Updated Mei 27, 2026 · By Sarah Williams

Main Agenda: Gas Limbah Sawit Bisa Jadi Pengganti LPG Impor

Main Agenda - Proyek pengolahan limbah sawit kini mendapat perhatian serius sebagai solusi pengganti bahan bakar LPG impor. Dengan kemajuan teknologi, limbah cair dari pabrik kelapa sawit (POME) dan biomassa tandan kosong dapat diubah menjadi biomethana, yang memiliki potensi besar untuk dipakai sebagai sumber energi lokal. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat bauran energi berkelanjutan. Kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta PTPN IV PalmCo menjadi sorotan, karena mendorong penggunaan energi dalam negeri.

Proses Konversi Limbah Sawit menjadi Energi Alternatif

Proses konversi limbah sawit ke biomethana melibatkan teknologi canggih yang mengubah metana, gas rumah kaca berbahaya, menjadi energi bernilai ekonomis. Teknologi ini diterapkan di beberapa fasilitas, seperti Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatera Utara, dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau. Dengan menangkap metana yang dilepaskan selama proses pengolahan, limbah sawit tak lagi menjadi masalah lingkungan, tetapi menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Kelompok kerja Main Agenda terus mengoptimalkan efisiensi produksi gas biometana. Dalam pelaksanaannya, teknologi yang digunakan menghasilkan produk berkelanjutan dengan kualitas sebanding dengan gas alam terkompresi (CNG). Tahun ini, proyek groundbreaking delapan fasilitas baru ditargetkan selesai, sementara pengembangan 17 unit Bio-CBG diharapkan rampung pada 2029.

“Kita ingin memastikan bahwa limbah sawit menjadi bagian dari solusi energi nasional,” tulis Jatmiko K Santosa, Direktur Utama PTPN IV PalmCo.

Dukungan Kebijakan dan Potensi Ekonomi

Dukungan kebijakan pemerintah dalam transisi energi rendah karbon menjadi faktor kunci keberhasilan proyek ini. ESDM menekankan bahwa sumber daya energi lokal perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa industri sawit memiliki kapasitas besar dalam memproduksi bahan bakar alternatif.

“Kami percaya teknologi ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memberi nilai tambah ekonomi,” ujar Jatmiko.

Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, setiap tahun menghasilkan volume limbah yang signifikan. Berdasarkan data terkini, limbah cair dan biomassa sawit bisa menghasilkan metana hingga 36.706 Nm³ per bulan. Dengan menangkap dan memanfaatkan metana ini, industri sawit bisa berkontribusi pada pengurangan emisi sekaligus menekan ketergantungan pada impor. Proyek Main Agenda dipandang sebagai langkah penting dalam menciptakan ekosistem energi yang lebih mandiri.

Progres Audit dan Evaluasi Teknis

BRIN melakukan audit energi serta evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo untuk memastikan proses konversi limbah sawit optimal.

“Kajian teknis ini membantu menghitung kapasitas produksi gas serta memperbaiki efisiensi pengolahan limbah,” jelas Hens Putra, Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN.

Hasil audit lapangan di PTBg Sei Pagar menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi gas biometana. Teknologi yang digunakan telah membuktikan kelayakannya untuk dikembangkan secara nasional. BRIN juga mengusulkan pembentukan kawasan inovasi berbasis industri sawit, yang menggabungkan riset, pengolahan limbah, dan penggunaan energi terbarukan. Dengan memanfaatkan teknologi ini, Indonesia bisa mendapatkan energi yang lebih ramah lingkungan serta berdampak ekonomi positif.

Potensi Penerapan di Sektor Industri dan Transportasi

Konversi limbah sawit menjadi biomethana tidak hanya bermanfaat untuk sektor energi, tetapi juga bisa digunakan dalam industri dan transportasi. Proyek Main Agenda diharapkan menghasilkan gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kendaraan atau pembangkit listrik. Dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, proyek ini bisa menjadi bagian dari upaya nasional untuk mencapai target energi hijau.

Manfaat ekonomi dari proyek ini juga terlihat jelas. Selain menghasilkan energi, proses ini memberi nilai tambah berupa produk berkelanjutan yang bisa dijual. Menurut Jatmiko, pengembangan Bio-CBG akan meningkatkan daya saing industri sawit di tingkat nasional.

“Main Agenda memastikan limbah sawit bukan hanya dikelola, tetapi diubah menjadi sumber daya yang bernilai,” tambah Jatmiko.

Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Selain manfaatnya, proyek Main Agenda juga menghadapi tantangan teknis dan finansial. Diperlukan investasi besar untuk mendukung pengembangan fasilitas, serta peningkatan kapasitas SDM di sektor energi terbarukan. Dengan teknologi yang terus berkembang, BRIN dan PalmCo berupaya mengatasi hambatan ini melalui riset dan kolaborasi dengan pihak swasta.

“Kita perlu berkomitmen dalam jangka panjang untuk mewujudkan transisi ke energi berkelanjutan,” kata Hens Putra.

Pengembangan proyek Main Agenda diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana limbah bisa diubah menjadi keuntungan. Dengan memanfaatkan limbah sawit sebagai bahan bakar, Indonesia bisa mengurangi defisit energi serta mengurangi dampak lingkungan. Proses ini juga memberikan peluang bagi sektor sawit untuk bertransformasi menjadi lebih berkelanjutan. Dengan terus menekankan kerja sama antara pemerintah dan industri, Main Agenda menjadi agenda utama dalam mendorong kemandirian energi nasional.