Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Pembangunan PSN Bendungan Bulango Ulu Dikebut, Jamin Ketersediaan Air dan Dukung EBT

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Patricia Brown

Pembangunan PSN Bendungan Bulango Ulu Dipercepat, Main Agenda untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan EBT

Main Agenda - Proyek pembangunan Bendungan Bulango Ulu di Bone Bolango, Gorontalo, yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), sedang dipercepat sebagai bagian dari Main Agenda pemerintah dalam menghadapi tantangan ketersediaan air dan keberlanjutan energi. Dengan kapasitas tampung 140,95 juta meter kubik dan volume efektif 58,61 juta meter kubik, bendungan ini berpotensi menjadi infrastruktur penting untuk memastikan pasokan air yang stabil serta mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di wilayah Gorontalo.

Pengembangan Pertanian dan Ketersediaan Air

Bendungan Bulango Ulu akan mengairi sekitar 4.950 hektare lahan pertanian melalui tiga daerah irigasi, yaitu Alale, Lomaya, dan Pilohayanga. Dengan peningkatan aliran air, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian lokal, mengurangi risiko gagal panen, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, bendungan akan menyediakan air baku sebesar 2,2 meter kubik per detik untuk kebutuhan rumah tangga dan industri, memastikan pasokan air yang memadai di tengah tekanan perubahan iklim.

"Bendungan Bulango Ulu adalah bagian dari Main Agenda nasional untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi. Dengan percepatan penyelesaian proyek, kami yakin pendekatan ini akan memberikan dampak besar pada ketersediaan air serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat Gorontalo," terang Dian Sovana, Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya.

Keberhasilan pengelolaan bendungan juga terkait dengan penerapan teknologi irigasi modern yang efisien. Proyek ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan air secara bertanggung jawab, sekaligus mengurangi risiko banjir di wilayah hilir Sungai Bolango hingga lebih dari 80 persen. Kehadiran bendungan ini berdampak langsung pada keluarga masyarakat setempat, karena mampu menjaga ketersediaan air sepanjang tahun dan menjadi sumber daya untuk keperluan pertanian serta EBT.

Keunggulan Teknis dan Rekor Nasional

Dari sisi teknis, Bendungan Bulango Ulu dibangun menggunakan urugan batu berinti tegak (rockfill dam with vertical core) dengan fasilitas hidromekanikal dan spillway yang memenuhi standar nasional. Teknologi ini juga berhasil mencatatkan Rekor MURI untuk spillway tipe Free Over Flow Elevated dengan kemiringan dan lebar terbesar di Indonesia, menunjukkan inovasi yang diadopsi dalam pembangunan proyek ini.

"Penghargaan Good Corporate Governance yang kami peroleh menjadi pengingat bahwa Main Agenda ini tidak hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tata kelola yang transparan. Proyek ini menjadi contoh baik dalam mengintegrasikan teknologi inovatif dengan keberlanjutan lingkungan," jelas Dian Sovana.

Progres fisik proyek mencapai 94,99 persen berdasarkan laporan terbaru, dengan target penyelesaian pada akhir tahun 2024. Sebagai bagian dari PSN, bendungan ini diharapkan menjadi pusat keberlanjutan energi, khususnya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang berkapasitas 4,96 Megawatt. Selain itu, potensi pengembangan kawasan genangan sebagai destinasi wisata dan pusat olahraga air juga menjadi fokus dalam strategi pembangunan daerah.

Main Agenda Nasional dan Dukungan Pemerintah

Proyek Bendungan Bulango Ulu merupakan salah satu bagian dari Main Agenda pemerintah dalam mencapai tujuan ketahanan pangan dan energi. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menegaskan bahwa progres proyek telah mencapai 90% dan siap menjadi salah satu bendungan terbesar di Indonesia. Dengan selesai pada 2024, proyek ini akan menjadi pilar penting dalam kebijakan pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan air, mendukung EBT, serta mengurangi risiko bencana alam.

Pemerintah juga sedang menyusun strategi mitigasi terhadap dampak El Nino, termasuk pengisian penuh bendungan dan modifikasi cuaca. Dalam konteks Main Agenda, ini menunjukkan komitmen kuat untuk menghadapi tantangan lingkungan dan memastikan keberlanjutan infrastruktur. Proyek serupa seperti Bendungan Budong-Budong dan Bendungan Tiu Suntuk di NTB juga menjadi bagian dari upaya nasional ini.

Dengan pembangunan bendungan di Gorontalo, pemerintah menunjukkan bahwa Main Agenda tidak hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Proyek ini menjadi penanda keberhasilan integrasi berbagai sektor dalam menghadapi krisis air dan energi, serta memperkuat ekosistem pangan nasional. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat dan institusi teknis, menjadi faktor penting dalam keberlanjutan proyek ini.