Main Agenda: Prabowo Patok Kurs Rupiah Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS di 2027
Proyeksi Kurs Rupiah pada 2027: Target Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS
Main Agenda menjadi fokus utama dalam pertemuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan proyeksi kurs rupiah yang terus stabil dalam rentang antara Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Menurutnya, stabilitas ini akan tercapai berkat kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten serta dukungan kondisi ekonomi global yang semakin membaik. Proyeksi ini disampaikan selama sidang paripurna yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026.
“Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan tetap berada dalam rentang 16.800 hingga 17.500 per dolar AS,” ujar Prabowo dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa dengan penerapan kebijakan yang tepat, nilai tukar rupiah bisa dijaga meski terjadi perubahan dinamis di pasar keuangan internasional.
Pertemuan dengan DPR dan Peneguhan Strategi
Prabowo hadir di Kompleks Parlemen bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kedua tokoh tersebut tiba sekitar pukul 09.30 WIB dan melakukan sesi foto bersama para pimpinan DPR, termasuk Ketua DPR Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dalam sesi itu, Prabowo menegaskan bahwa Main Agenda dalam kebijakan fiskal dan moneter harus menjaga konsistensi nilai rupiah, sekaligus menyesuaikan dengan tantangan ekonomi global.
Menurut analis ekonomi, proyeksi kurs rupiah yang disampaikan Prabowo mencerminkan optimisme pemerintah terhadap stabilisasi nilai tukar. Meski beberapa ahli mengkritik kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) dan transaksi mata uang lokal (LCT), Prabowo yakin bahwa langkah-langkah strategis akan memperkuat rupiah. Ia juga menyoroti faktor-faktor seperti inflasi AS yang stabil dan aliran modal asing sebagai penopang.
Analisis Faktor Eksternal dan Dampak Global
Dalam Main Agenda yang dibawa ke DPR, Prabowo menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor musiman dan peristiwa geopolitik. Kebijakan moneter AS, terutama kenaikan suku bunga, serta konflik Timur Tengah menjadi penyebab utama fluktuasi kurs. Namun, ia berharap pemerintah bisa mengimbangi dampak ini melalui penyesuaian kebijakan fiskal dan pengelolaan cadangan devisa.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat meski ada pelemahan mata uang. Kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia dan pertumbuhan sektor ekspor dianggap sebagai peluang untuk memperkuat rupiah. Di sisi lain, beberapa ekonom mengkhawatirkan tekanan impor dan inflasi domestik yang mungkin berdampak pada nilai tukar. Prabowo menegaskan bahwa Main Agenda dalam KEM-PPKF akan menjadi acuan utama untuk memastikan keseimbangan ekonomi.
Proyeksi rupiah Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS untuk 2027 mencerminkan harapan pemerintah bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) akan kembali membaik. Menkeu Purbaya mengimbau investor agar tetap yakin dengan kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menilai perbaikan ekonomi nasional akan memberikan dampak positif pada penguatan rupiah, terutama di tengah kebijakan moneter global yang sedang stabil.
Dalam sesi Main Agenda tersebut, Prabowo juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan lembaga keuangan dalam menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru mengkhawatirkan fluktuasi kurs, sekaligus menegaskan bahwa stabilitas rupiah akan menjadi prioritas utama dalam penyusunan anggaran 2027. Pengamat menilai proyeksi ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk mengarahkan kebijakan fiskal dan moneter secara lebih terarah.