Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Tekan Impor Gas Rp 150 Triliun, Pemerintah Mulai Uji Coba CNG Pengganti LPG

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Mark Martin

Main Agenda: Mengurangi Impor Gas Rp 150 Triliun dengan CNG

Main Agenda yang diusung pemerintah saat ini adalah menekan impor gas bahan bakar, khususnya LPG, yang mencapai Rp 150 triliun per tahun. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa program konversi ke gas alam terkompresi (CNG) menjadi solusi strategis untuk mencapai tujuan tersebut, sekaligus menangani beban subsidi yang terus meningkat.

Analisis Kebutuhan dan Strategi Konversi

Menurut Bahlil, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi lokal hanya sekitar 1,8 hingga 1,9 juta ton. Dengan rasio impor sebesar 75–80 persen, kondisi ini memperlihatkan keterbatasan pasokan dalam negeri. Dalam rangka mengurangi ketergantungan, Main Agenda ini berfokus pada pemanfaatan CNG sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

“Kebutuhan gas kita untuk LPG mencapai 8,5 juta ton per tahun, tetapi produksi dalam negeri hanya 1,8–1,9 juta ton. Selebihnya harus diimpor, dan itu menjadi perhatian utama dalam Main Agenda kami,” ujar Bahlil.

Keputusan untuk menguji CNG berasal dari pertimbangan bahwa teknologi ini dapat menekan biaya impor hingga 30–40 persen. Dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 70 per barel, angka impor mencapai Rp 120 triliun per tahun. Jika harga energi naik, diperkirakan akan mencapai Rp 140–150 triliun, yang semakin mendorong kebutuhan transformasi energi.

Pemanfaatan Cadangan Gas dalam Negeri

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup untuk mendukung program Main Agenda ini. Penemuan baru oleh ENI di Kalimantan Timur menunjukkan potensi tambahan 5 triliun kaki kubik (TCF), dengan proyeksi produksi dimulai pada 2028–2029. Hal ini menambah kepercayaan bahwa pasokan domestik mampu memenuhi kebutuhan konversi, yang diperkirakan hanya membutuhkan 800 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Program Main Agenda ini juga memperhatikan aspek teknis. Teknologi CNG yang digunakan dirancang untuk kompatibel dengan tabung LPG 3 kilogram, sehingga memudahkan transisi penggunaan tanpa perlu mengganti peralatan. Uji coba tahap ketiga saat ini sedang dijalankan oleh PT Pertamina (Persero) untuk menjamin keandalan dan keamanan sistem.

Langkah Konkret dalam Implementasi CNG

Pemerintah telah mengambil langkah nyata dalam menguji kemampuan teknologi CNG. Setelah uji coba tahap awal dan tengah, fase ketiga kini berlangsung untuk mengukur kinerja pada skala penggunaan luas. Tekanan sekitar 200–250 bar menjadi parameter utama dalam desain tabung, yang dapat menyimpan energi dalam bentuk yang lebih efisien.

Proses uji coba ini dilakukan secara bertahap untuk menghindari risiko kegagalan. Selain itu, pihak terkait juga memastikan keamanan tabung CNG melalui pengujian sistem anti-ledakan dan anti-kebakaran. Jika semua berjalan lancar, produksi CNG bisa dimulai pada Juli 2026, menjadikannya bagian integral dari Main Agenda transisi energi nasional.

Alternatif Energi dan Diversifikasi Pasokan

Di samping CNG, Main Agenda pemerintah juga mencakup pengembangan kompor listrik sebagai solusi alternatif. Ini bertujuan memperkuat kedaulatan energi dan mengurangi tekanan pada anggaran subsidi. Bahlil menekankan pentingnya diversifikasi pasokan untuk menciptakan ketahanan jangka panjang.

“Main Agenda ini mencakup dua strategi utama: mengganti LPG dengan CNG dan mendorong penggunaan kompor listrik. Kedua langkah ini saling melengkapi untuk mencapai kemandirian energi,” tambah Bahlil.

Program konversi tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Penggunaan CNG diharapkan mengurangi emisi karbon dibandingkan LPG, sekaligus memperkuat industri dalam negeri. Dengan memperbesar produksi gas domestik, Main Agenda ini juga berkontribusi pada perekonomian nasional dan pengurangan defisit energi.

Kebijakan pemerintah ini diharapkan mampu menekan impor gas sebesar Rp 150 triliun dalam waktu 5–10 tahun. Diversifikasi bahan bakar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga dan mengurangi risiko ketergantungan pada pasar global. Dengan pelaksanaan Main Agenda yang terstruktur, Indonesia bisa menjadi contoh keberhasilan dalam transisi energi berkelanjutan.