Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Trump Ancam Hancurkan Oman jika Bantu Iran Kelola Selat Hormuz

Published Mei 28, 2026 · Updated Mei 28, 2026 · By Sarah Williams

Trump Ancam Hancurkan Oman jika Bantu Iran Kelola Selat Hormuz

Main Agenda - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memasukkan "Main Agenda" dalam strategi diplomatik dan militernya untuk mengatasi pengendalian Selat Hormuz oleh Iran. Pada rapat kabinet Selasa (27/5/2026), Trump menegaskan bahwa Oman akan menghadapi konsekuensi serius jika ikut mendukung mekanisme tarif tol yang diusulkan Iran. Pernyataan ini terungkap setelah laporan The Guardian pada Kamis (28/5/2026) mengungkapkan diskusi antara Iran dan Oman tentang rencana penerapan biaya ekstra bagi kapal yang melewati jalur vital tersebut.

Strategi Mencegah Dominasi Iran di Selat Hormuz

“Oman akan berperilaku seperti orang lain. Atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu. Mereka akan baik-baik saja,” ujar Trump dalam pernyataannya yang menegaskan perlunya dominasi AS di perairan internasional.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran kritis, menjadi pusat perhatian karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati area ini. Dengan penutupan selat tersebut sejak akhir Februari, Iran berhasil menaikkan tekanan terhadap pasokan energi dan merusak kestabilan ekonomi global. Trump menekankan bahwa "Main Agenda" utamanya adalah membuka akses selat ini untuk semua negara, bukan hanya dikendalikan oleh satu pihak.

Persaingan geopolitik di Teluk Arab semakin memanas setelah Iran mengambil inisiatif untuk mengontrol tarif tol. Oman, yang secara historis berperan sebagai mediator antara negara-negara Teluk dan negara-negara lain, kini dihadapkan pada pilihan sulit. Trump menganggap Oman sebagai sekutu strategis, tetapi ancamannya menunjukkan bahwa negara tersebut mungkin dianggap sebagai pihak yang tidak setia jika tidak menunjukkan dukungan terhadap kebijakan AS. "Main Agenda" ini sekaligus menjadi titik fokus dalam upaya mengurangi pengaruh Iran di kawasan.

Impak Ekonomi dan Politik dari Pengendalian Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz memiliki dampak signifikan terhadap harga minyak dunia dan rantai pasok energi. Pemimpin negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Teluk Arab, seperti Arab Saudi dan Iraq, terancam karena akses mereka ke pasar internasional bisa terganggu. Trump mengingatkan bahwa jika Iran terus mengontrol tarif tol, maka alur ekonomi global akan terdistorsi, dan "Main Agenda" AS harus fokus pada pemulihan stabilitas tersebut.

Iran berusaha memperkuat pengaruhnya melalui Oman dengan menawarkan kompromi ekonomi. Pemerintah Teheran mengusulkan mekanisme biaya tol sebagai cara mengelola aliran minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz. Namun, Trump menuduh Iran ingin memonopoli kontrol selat ini, yang berarti mengambil alih kewenangan negara-negara lain. "Main Agenda" Trump mencakup tuntutan tegas terhadap Oman untuk memilih sisi yang paling menguntungkan kepentingan AS dan sekutunya.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Roger Wicker, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebijakan "Main Agenda" Trump bisa berdampak besar terhadap keamanan kawasan. Ia menulis di media sosial bahwa kesepakatan damai selama 60 hari yang diusulkan Trump bisa sia-sia jika Iran tidak mematuhi tuntutan. Serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari telah menunjukkan intensitas keinginan AS untuk memperkuat kontrol di Selat Hormuz, dan Trump bersiap mengambil langkah militer jika Oman tidak memenuhi target.

Di sisi lain, pemerintah Oman berusaha mempertahankan keseimbangan politik dengan memperlihatkan sikap netral. Namun, ancaman Trump menimbulkan tekanan besar terhadap keputusan mereka. "Main Agenda" ini tidak hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang peran Oman dalam dinamika hubungan internasional Teluk. Pihak Iran memperlihatkan strategi yang berusaha memanfaatkan posisi Oman sebagai penghubung antara negara-negara pro dan anti-Amerika.

Sebagai respons, Trump meminta negara-negara besar seperti China, Prancis, dan Jerman untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Tindakan ini menunjukkan upaya memperkuat kehadiran militer AS di kawasan, yang diharapkan bisa mencegah dominasi Iran. Selain itu, pemerintah AS juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan negara-negara lain dalam menjaga kebebasan perairan internasional. "Main Agenda" Trump menunjukkan bahwa ia ingin mengubah kebijakan geopolitik Teluk menjadi lebih pro-AS.