Main Agenda: Wisata di Candi Borobudur saat Waisak Tetap Dibuka hingga Pukul 14.00 WIB
Wisata di Candi Borobudur saat Waisak Tetap Dibuka hingga Pukul 14.00 WIB
Main Agenda menjadikan acara Waisak di Candi Borobudur sebagai fokus utama wisata religius di Jawa Tengah. Meski pembatasan waktu operasional diterapkan, pengunjung tetap bisa menikmati eksplorasi kekayaan budaya dan sejarah candi kuno tersebut hingga pukul 14.00 WIB. Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan Temple, dan Ratu Boko, Gistang Richard Panutur, menjelaskan bahwa pembatasan ini bertujuan memastikan keberlangsungan acara keagamaan. "Setelah jam tersebut, pengunjung diimbau untuk meninggalkan area guna mempersiapkan rangkaian ibadah dan acara utama Main Agenda," ujarnya di Magelang, dilansir Antara, Minggu (24/5/2026).
Prosesi Waisak dan Pengaturan Akses
Pembukaan candi hingga pukul 14.00 WIB adalah bagian dari Main Agenda yang dirancang untuk mengoptimalkan pengalaman wisata dan perayaan. Selama jam operasional, pengunjung hanya diperbolehkan berada di area pelataran, sementara bagian utama candi dijaga agar tidak terganggu oleh kegiatan penyelenggaraan. "Operasional kami tetap berjalan sampai dua siang, kemudian kita mendorong pengunjung untuk pulang karena sedang persiapan Main Agenda," lanjut Richard Panutur. Pembatasan ini juga membantu mengurangi keramaian, sehingga acara bisa berjalan lebih terorganisir.
"Setiap tahun kami selalu menambah satu lentera supaya tambah hoki. Tahun ini jumlahnya 2.570 lentera perdamaian,"
tutur salah satu panitia Main Agenda. Lentera-lentera tersebut menjadi simbol keberuntungan dan ketenangan, yang mengisi langit Borobudur saat pukul 18.00 WIB. Prosesi ini mengundang ribuan orang dari berbagai latar belakang, menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam perayaan agama Buddha yang merupakan bagian dari Main Agenda.
Daya Tarik Perayaan Waisak
Perayaan Waisak di Borobudur memadukan tradisi religius dengan daya tarik wisata. Selain lentera perdamaian, pertunjukan drone juga menjadi atraksi unggulan dalam Main Agenda. Total 570 drone akan menghiasi langit kawasan candi, meningkat dari 450 unit pada tahun lalu. "Kalau tahun kemarin hanya 450 drone, sekarang kami gunakan tiga digit terakhir tahun Buddhis untuk memperkuat pesan perdamaian," kata Fatmawati, Ketua Lentera Perdamaian Waisak Borobudur. Penambahan drone ini menambah dimensi visual, membuat acara lebih menarik bagi pengunjung lokal dan mancanegara.
Peserta Main Agenda juga diberi kesempatan untuk menyaksikan upacara puja dan tradisi unik seperti pemotongan daun dan pelepasan lentera. Aktivitas ini diiringi musik tradisional dan tarian khas Jawa Tengah, menciptakan suasana yang harmonis antara budaya dan keagamaan. Selain itu, sejumlah UMKM lokal turut berpartisipasi dalam menyajikan makanan khas dan souvenir, memperkaya pengalaman wisata di Borobudur. Keterlibatan masyarakat ini menunjukkan bahwa Main Agenda bukan hanya acara pemerintah, tetapi juga inisiatif bersama.
Peran Kementerian Agama dan Kolaborasi Lembaga
Kementerian Agama memberikan dukungan signifikan dalam menyukseskan Main Agenda. Mereka menilai perayaan Waisak sebagai momentum memperkuat nilai-nilai perdamaian dan kerukunan antarumat beragama. "Kami melihat kegiatan bakti sosial kesehatan gratis yang digelar Walubi Jawa Tengah dan PCNU Tembarak selaras dengan prioritas moderasi beragama," kata salah satu perwakilan lembaga. Kolaborasi ini menciptakan suasana yang inklusif, bahkan di wilayah yang mayoritas Muslim seperti Jakarta, dimana wisatawan tetap bisa menikmati Main Agenda secara aman.
Salah satu strategi Main Agenda adalah memastikan pengunjung merasa nyaman selama acara. Penyelenggara membatasi akses ke area tertentu agar prosesi ibadah tidak terganggu. Sebagai contoh, di sekitar stupa utama dan alur candi, hanya para biksu dan peserta ritual yang diperbolehkan masuk. Sementara itu, masyarakat umum bisa menikmati bagian pelataran yang dikelola dengan baik. Richard Panutur menegaskan bahwa Main Agenda juga bertujuan menyampaikan pesan tentang pentingnya melindungi situs sejarah, seperti Borobudur, sebagai warisan budaya nasional.
Keterlibatan Masyarakat dan Budaya Lokal
Main Agenda mencerminkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menyambut Waisak. Jumlah pengunjung mencapai lebih dari 20.000 orang per hari, dengan tiket masuk tetap dipatok sesuai tarif biasa. Pihak penyelenggara mengajak masyarakat untuk memahami dan mendukung kegiatan ini, termasuk menghargai perbedaan agama. "Main Agenda adalah ajang menggabungkan keagamaan dan kebudayaan, membuat Borobudur lebih hidup," kata Fatmawati. Pengunjung juga bisa menyaksikan pameran seni dan kriya lokal yang menampilkan kerajinan khas Jawa Tengah.
Kegiatan Waisak di Borobudur juga menjadi sarana memperkenalkan sejarah candi tersebut. Pengunjung bisa mengikuti tur yang diatur oleh petugas, mendapatkan penjelasan tentang asal-usul Borobudur, dan memahami peran utamanya dalam budaya Hindu-Buddha Indonesia. "Main Agenda tidak hanya tentang acara, tapi juga edukasi," tambah Richard Panutur. Selain itu, pengunjung bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk mengakses berbagai fasilitas, seperti pusat informasi, kafe, dan toko suvenir, yang disediakan untuk memanjakan wisatawan.
Perayaan Selama Libur Lebaran
Pembukaan candi yang diperpanjang selama libur lebaran menjadi strategi untuk menarik lebih banyak pengunjung. Rangkaian Main Agenda berlangsung pada 18–24 Mei 2026, dengan operasional dimulai lebih awal dan ditutup lebih lama. Perayaan ini diiringi berbagai atraksi seperti pertunjukan musik, pameran seni, dan kegiatan sosial. Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 juga menjadi bagian dari Main Agenda, mengajak masyarakat untuk berjalan bersama dan menciptakan kesan harmonis. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa perjalanan spiritual biksu lintas negara dari Bali ke Borobudur menjadi agenda penting untuk menunjukkan komitmen Indonesia terhadap perdamaian.