Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

Meeting Results: Indonesia Berbagi Pengalaman Dewan Pers dengan Malaysia, Perkuat Regulasi Mandiri Media

Anthony Taylor ⏱ 2 min read

Indonesia Berbagi Pengalaman Dewan Pers dengan Malaysia, Perkuat Regulasi Mandiri Media

Meeting Results – Dalam rangka memperkuat kerangka regulasi media, Indonesia dan Malaysia melakukan pertukaran wawasan tentang peran badan pengawas pers di kedua negara. Forum ini diadakan sebagai bagian dari Media Solidarity Festival 2026 di Subang Jaya, Selangor, Malaysia, pada Minggu (10/5). Kehadiran delegasi dari Dewan Pers Indonesia menjadi fokus utama, dengan Abdul Manan sebagai pembicara yang menyampaikan mekanisme pengaturan independensi jurnalistik.

Acara ini diinisiasi oleh sejumlah organisasi jurnalis Malaysia, yang bertujuan membangun ekosistem media yang lebih terorganisir di kawasan. Diskusi yang berlangsung melibatkan berbagai aspek, termasuk pengembangan kode etik serta mekanisme penyelesaian sengketa. Abdul Manan menekankan bahwa sistem Dewan Pers Indonesia telah terbukti efektif dalam menjaga standar kualitas berita dan melindungi pelaku pers dari risiko kriminalisasi.

“Regulasi mandiri tidak hanya meningkatkan kualitas informasi, tapi juga menjadi pelindung bagi jurnalis dan media dalam menghadapi tantangan hukum,” ujar Abdul Manan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal National Union of Journalists Malaysia (NUJM), Teh Athira Yusoff, menyampaikan bahwa Majlis Media Malaysia (MMM) baru saja berdiri satu tahun lalu. Mereka sangat tertarik mempelajari pengalaman Indonesia, terutama dalam penerapan fungsi pengaduan. Teh Athira menuturkan, MMM tengah berupaya mempromosikan peran lembaga ini kepada publik, agar masyarakat lebih memahami tanggung jawab media dalam menyampaikan informasi.

Dalam beberapa bulan terakhir, MMM menerima sekitar 600 laporan dari masyarakat terkait peliputan berita. Laporan tersebut berfokus pada keakuratan pemberitaan, penggunaan judul yang menyesatkan, serta konten digital. Hal ini menggambarkan kebutuhan akan mekanisme resolusi konflik yang lebih efektif. Dengan sistem yang diterapkan di Indonesia, Malaysia berharap bisa mengembangkan pendekatan serupa untuk memperkuat etika jurnalistik.

Kolaborasi dalam Peliputan Isu Lingkungan

Di luar topik regulasi, festival juga menyelenggarakan diskusi tentang jurnalisme lingkungan hidup. Sesi ini dipandu oleh jurnalis Astro Awani, Luqman Hariz, dengan pembicara dari Tempo, Bernama, dan KiniTV. Mereka membagikan pengalaman dan tantangan dalam meliput isu kritis yang berkaitan dengan ekonomi dan politik lokal.

“Jurnalisme lingkungan membutuhkan pendekatan yang lebih multidimensi, karena memengaruhi kebijakan dan perubahan masyarakat,” kata Luqman Hariz.

Dalam sesi terpisah, Komisi Informasi Pusat menegaskan peran media sebagai pilar transparansi publik. Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil, menyatakan bahwa hubungan antara media Indonesia dan Malaysia memiliki nilai istimewa, yang menjadi dasar kolaborasi terus-menerus. Pertemuan ini diharapkan memberikan pemahaman baru bagi kedua negara dalam menghadapi tantangan jurnalisme modern.

Bagikan artikel ini