Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Kementan dan Dinas se-Jawa Perkuat Stabilitas Usaha Peternak Unggas Nasional

Published Juni 27, 2026 · Updated Juni 27, 2026 · By David Gonzalez

Hasil Rapat: Kementan dan Dinas Jawa Perkuat Stabilisasi Usaha Peternakan Unggas

Upaya Kolaboratif untuk Membangun Ketahanan Industri Perunggasan

Meeting Results - Hasil rapat antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan dinas-dinas peternakan di seluruh provinsi Jawa menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan stabilitas usaha peternak unggas nasional. Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta menciptakan kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan pasar. Hasil rapat tersebut bertujuan menyelaraskan strategi pengendalian harga, meningkatkan data industri perunggasan, dan memastikan keberlanjutan sektor peternakan unggas di Indonesia.

Hasil rapat dihadiri oleh perwakilan Kementan serta para kepala dinas peternakan dari delapan provinsi di Pulau Jawa. Mereka membahas berbagai isu kritis yang saat ini mengancam produktivitas peternak, termasuk fluktuasi harga ayam hidup dan telur ayam ras yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, hasil rapat juga mencakup rencana untuk memperketat pengawasan terhadap produksi dan distribusi unggas, serta mendorong inovasi dalam rantai pasok yang lebih efisien.

“Hasil rapat ini menjadi dasar untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam menjaga keseimbangan pasar dan memastikan keberlanjutan usaha peternak unggas,” kata Hary Suhada, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan. “Kolaborasi antara pusat dan daerah sangat krusial agar kebijakan dapat berdampak maksimal kepada produsen lokal.”

Strategi untuk Mengatasi Keterpurukan Harga Pasar

Hasil rapat mengungkapkan bahwa penurunan harga unggas terjadi karena keterlambatan respons pemerintah terhadap surplus produksi. Pasokan ayam hidup dan telur ras yang lebih besar dari permintaan pasar menyebabkan tekanan harga, terutama di daerah-daerah dengan ekonomi lokal yang rentan. Kementan dan dinas daerah sepakat untuk mengambil tindakan segera, termasuk memperketat pengawasan data produksi dan mengendalikan harga di tingkat peternak.

Salah satu langkah strategis yang diusulkan dalam hasil rapat adalah pengendalian produksi bibit ayam (DOC) dan final stock (FS) broiler. Dengan mengatur jumlah bibit yang diproduksi, pemerintah harap dapat mengurangi risiko oversupply. Selain itu, hasil rapat juga menegaskan pentingnya mendorong afkir ayam ras petelur yang melebihi usia 90 minggu, guna menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan pasar. Upaya ini diperkirakan akan memberikan dampak positif dalam jangka pendek untuk mengembalikan harga ke tingkat yang seimbang.

“Kondisi pasar saat ini membutuhkan kebijakan yang lebih cepat dan tepat sasaran,” kata Nasir, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Banten. “Hasil rapat ini memberikan petunjuk jelas bagi dinas daerah dalam menjalankan tugas pemerintahan secara lebih sinergis.”

Pemantauan Harga dan Kebijakan Integrasi Data

Hasil rapat menekankan pentingnya pemantauan harga ayam hidup secara berkala, terutama saat permintaan pasar sedang menurun. Kementan akan bekerja sama dengan dinas daerah untuk membangun sistem pengumpulan data yang terintegrasi, sehingga memudahkan pengambilan keputusan. Sistem ini akan mencakup data produksi, harga jual, dan permintaan di tingkat konsumen, serta diharapkan bisa memberikan gambaran akurat tentang dinamika industri perunggasan.

Para peserta hasil rapat juga menyepakati untuk memperkuat koordinasi antar dinas daerah melalui forum rutin. Forum ini akan menjadi platform bagi berbagai dinas peternakan untuk berbagi informasi dan mengambil langkah-langkah bersama. Langkah ini diperlukan karena Pulau Jawa yang menyumbang sekitar 63 persen pasokan daging ayam dan telur nasional perlu dijaga konsistensinya sebagai penghasil utama. Kementan berkomitmen untuk terus memperhatikan kondisi pasar secara dinamis dan mengambil langkah-langkah adaptif sesuai hasil rapat.

“Peternak saat ini menghadapi tantangan ganda, yaitu penurunan harga jual dan kenaikan biaya produksi,” ujar Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani. “Hasil rapat ini memberikan arahan jelas bagi dinas daerah dalam memfasilitasi penyerapan hasil produksi, termasuk mengimbau ASN meningkatkan konsumsi telur.”

Dalam hasil rapat, pihak Kementan juga menegaskan perlunya pendekatan yang lebih holistik, melibatkan seluruh pemangku kepentingan seperti produsen, distributor, dan konsumen. Langkah-langkah yang diambil tidak hanya fokus pada pengendalian harga, tetapi juga pada peningkatan kualitas unggas, pemberdayaan peternak melalui pelatihan, serta peningkatan akses pasar. Hal ini akan membantu menjaga keberlanjutan usaha peternakan unggas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim.