Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: AS Lancarkan Serangan Tambahan ke Iran Atas Perintah Trump, Situasi Makin Memanas

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By Susan Thomas

New Policy: AS Lanjutkan Serangan ke Iran dengan Perintah Trump, Konflik Memanas

New Policy - Dalam rangka menerapkan new policy yang dicanangkan oleh Presiden Donald Trump, Amerika Serikat melanjutkan serangan tambahan terhadap wilayah Iran. Operasi militer ini dilakukan sebagai respons terhadap serangkaian kejadian konflik yang telah memicu ketegangan sejak beberapa hari lalu. Menurut laporan dari Komando Pusat AS (CENTCOM), penyerangan terjadi pada Rabu, dengan waktu penembakan diumumkan sekitar pukul 17.15 waktu timur AS (04.15 WIB). Ini menandai langkah serius dalam perang dagang yang terus memanas antara AS dan Iran.

Konteks Serangan dan Strategi Militer AS

Langkah pertahanan diri ini dilakukan dalam rangka memperkuat new policy yang menekankan dominasi militer AS di wilayah Timur Tengah. Dalam pernyataan terbaru, militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan strategis negara mereka, termasuk mengamankan jalur laut yang vital seperti Selat Hormuz. "Serangan ini dilakukan untuk memastikan bahwa Iran tidak bisa berbuat lebih banyak tanpa hambatan," tambah pihak militer.

"Serangan tambahan hari ini merupakan bagian dari new policy yang diterapkan Trump, sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi Iran yang berkelanjutan," demikian dikutip dari Anadolu, Kamis (11/6/2026).

Kementerian Pertahanan AS, melalui Menteri Pete Hegseth, menegaskan bahwa operasi militer ini akan berlanjut hingga target strategis yang ditentukan dalam new policy tercapai. Ia menyebutkan bahwa AS akan mengirimkan pasukan tambahan ke wilayah Timur Tengah, termasuk penguasaan jalur udara dan laut. "Kita akan sibuk malam ini karena Trump memutuskan untuk melanjutkan serangan, dan kita siap menjalankannya," ujarnya kepada para jurnalis di Pangkalan Udara MacDill, Florida.

Krisis Semakin Memanas Setelah Serangan Gabungan AS-Israel

Ketegangan antara AS dan Iran memuncak setelah serangan gabungan yang dilakukan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menargetkan fasilitas penting di wilayah Iran, termasuk bengkel senjata dan pusat komando. Balasan dari Teheran berupa rudal jarak jauh yang menghancurkan empat fasilitas utama di Pangkalan Al-Azraq, Yordania, memperparah situasi. Trump menegaskan bahwa new policy ini akan berdampak langsung pada keberlanjutan perang dagang.

Seiring dengan peningkatan operasi militer, kekhawatiran akan eskalasi lebih besar di kawasan Timur Tengah semakin mengemuka. Pihak AS memperkirakan bahwa serangan tambahan akan mengurangi kemampuan Iran untuk mengirimkan pasukan ke wilayah kritis, seperti Iraq dan Suriah. "Kita akan terus menyerang hingga Iran memahami bahwa AS siap bertindak dengan tegas," tutur Hegseth dalam wawancara terpisah.

Impact of New Policy on Regional Stability

Langkah new policy ini tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral antara AS dan Iran, tetapi juga berdampak pada kestabilan politik kawasan. Negara-negara tetangga, seperti Yordania dan Arab Saudi, mengkhawatirkan kerusakan yang bisa terjadi akibat serangan tambahan. Meski AS mengklaim bahwa operasi ini bertujuan mengurangi ancaman dari Iran, banyak analis menyatakan bahwa peningkatan kegiatan militer berpotensi memicu konflik lebih luas.

Sebagai bagian dari new policy, Trump juga menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran sebagai sasaran utama. Ini dilakukan untuk mengurangi kemampuan negara itu dalam memproduksi energi dan bergerak secara cepat. "Kita harus memastikan bahwa Iran tidak bisa menyembunyikan kekuatan mereka," ujarnya. Serangan ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sipil, dengan sejumlah korban yang dilaporkan.

"Kehadiran serangan tambahan menunjukkan komitmen AS terhadap new policy yang telah dicanangkan sejak awal konflik. Ini merupakan langkah paling agresif yang dilakukan AS dalam beberapa tahun terakhir," kata seorang pakar kemanasejaterika di Universitas Istanbul.

Analysis of the Policy's Motivations and Outcomes

Kebijakan baru ini didasari oleh keinginan Trump untuk menghancurkan ekonomi Iran melalui tekanan militer. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa AS telah menguasai Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak ke luar negeri. "Dengan new policy, kita akan memastikan bahwa Iran tidak bisa mengganggu kepentingan AS di wilayah ini," papar Trump. Operasi serupa juga dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri setelah insiden penembakan helikopter Apache AS yang terjadi awal pekan ini.

Kritik terhadap new policy datang dari berbagai pihak, termasuk organisasi internasional seperti PBB. Beberapa anggota Dewan Keamanan menyatakan bahwa AS harus memastikan bahwa serangan ini tidak merugikan rakyat sipil Iran. Namun, pihak AS membela bahwa tindakan mereka diperlukan untuk memutus rangkaian serangan dari Iran. "Kita tidak bisa membiarkan Iran menguasai jalur udara dan laut tanpa tindakan tegas," ujarnya.

Seiring dengan keberhasilan operasi militer ini, new policy juga berpotensi memperkuat hubungan antara AS dengan sekutunya, seperti Israel. Kedua negara terus bekerja sama dalam memerangi ancaman dari Iran, yang dianggap sebagai musuh utama dalam new policy ini. Dengan memperbesar tekanan, AS berharap dapat mendorong Iran untuk mempercepat negosiasi atau melemahkan kekuatan militer mereka di kawasan Timur Tengah.