Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

New Policy: Bahlil Buka Tender Blok Migas Baru: Tidak Perlu Nego-Nego di Belakang Meja

Charles Jones ⏱ 3 min read

Bahlil Buka Tender Blok Migas Baru: Siapa Saja Bisa Ikut Tanpa Perlu Negosiasi di Belakang Meja

New Policy – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana pemerintah untuk membuka tender 98 wilayah kerja (WK) atau blok migas baru, sebagai bagian dari upaya mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2029. Pengumuman ini dilakukan dalam acara IPA Convex 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (20/5).

“Bahkan ada 20 blok dari total 118 yang sudah selesai diproses,” kata Bahlil.

Bahlil menjelaskan bahwa Kementerian ESDM telah menyediakan 118 blok migas baru, tetapi sebagian telah ditangani sebelumnya. Ia mengajak para kontraktor untuk mempertimbangkan langsung ikut lelang atau melakukan studi kolaboratif. “Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh, tidak perlu negosiasi di belakang meja,” ujarnya.

Sebagai bagian dari acara IPA Convex 2026, Kementerian ESDM juga menyajikan 13 WK migas yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu penawaran langsung dan lelang reguler. Blok-blok ini terutama berada di daerah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Sumatra.

Blok Migas dengan Penawaran Langsung

Salah satu blok yang ditawarkan secara langsung adalah WK Natuna D-Alpha di wilayah Lepas Pantai Natuna, dengan luas area 10.211,85 km persegi dan estimasi sumber daya 2.865 MMBO. Blok Sapukara di Lepas Pantai Selat Makassar memiliki luas 8.474,5 km persegi dan potensi 2.309 BSCF.

Blok Migas yang Dilelang Reguler

Delapan blok lainnya akan dilelang pekan depan, termasuk WK Rupat di Offshore & Onshore Riau dan Sumatra Utara, dengan luas 7.843,66 km persegi serta estimasi sumber daya 1.110 MMBO. WK Puri di Onshore Riau memiliki luas 4.190,32 km persegi dan sumber daya sekitar 1.110 MMBO.

WK Pesut Mahakam di Kalimantan Timur berukuran 1.530,15 km persegi dengan estimasi sumber daya 1.336 MMBO. Sementara WK Bengara II di Kalimantan Utara menutupi area 3.289,67 km persegi dan diperkirakan memiliki 1.057 MMBO. Blok Maratua II di wilayah yang sama memiliki luas 4.350,36 km persegi dan estimasi sumber daya mencapai 3.279 MMBO.

WK Namori di Offshore Nusa Tenggara Timur menjangkau luas 9.769,82 km persegi, dengan potensi sumber daya besar sekitar 17.475 MMBO atau 38,5 TCF gas. Blok South Tanimbar di Laut Arafura memiliki luas 8.492,49 km persegi dan estimasi sumber daya 5,6 TCF gas. WK Cerera di Offshore Papua mencakup area 7.171,22 km persegi, dengan estimasi sumber daya 1.487 MMBO dan 1,3 TCF gas.

Blok Areca Bruni di Offshore & Onshore Papua Barat Daya menutupi area 8.480,52 km persegi, dengan potensi 2.985 MMBOE. WK Rombebai di Offshore & Onshore Papua memiliki luas 7.367,48 km persegi dan estimasi sumber daya 14,75 TCF gas. WK Jayapura di wilayah yang sama menutupi area 7.299,41 km persegi dengan estimasi sumber daya 19,4 TCF gas.

Dalam strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, Kementerian ESDM berencana melelang delapan blok tambahan minggu ini. Ini adalah bagian dari total 75 blok potensial yang ditargetkan hingga 2028. Langkah ini bertujuan meningkatkan produksi migas nasional.

Pemerintah Indonesia juga aktif menawarkan 116 blok migas baru kepada investor global, sebagai upaya mencapai target produksi 610.000 barel per hari. Bahlil menegaskan bahwa perubahan mekanisme ini bertujuan menyederhanakan proses investasi, termasuk mengatasi blok migas yang belum dimanfaatkan, seperti di sekitar lapangan Forel dan Terubuk.

Menurut Bahlil, blok-blok yang diabaikan oleh pemegang kontrak sebelumnya akan menjadi fokus baru. Ia meminta tiga pejabat baru SKK Migas untuk memastikan target lifting minyak 650 ribu bph pada 2025 dapat tercapai. Realisasi produksi tahun 2024, misalnya, juga dijadikan dasar evaluasi strategi tersebut.

Bagikan artikel ini